nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aroma Wangi Kopi Bukik Apik Bukittinggi yang Legendaris

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 01 Mei 2018 04:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 01 298 1893144 aroma-wangi-kopi-bukik-apik-bukittinggi-yang-legendaris-lpTZhWoIdP.jpg

SIANG itu, aroma harum kopi tercium di pelataran objek wisata Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat, menarik perhatian para pengunjung untuk mendekat ke sumbernya, yaitu dua lelaki paroh baya yang sedang menyangrai biji kopi dengan tungku dan periuk belanga ukuran besar.

Di depan dua laki-laki itu, beberapa ibu tampak menggelar produk kopi yang telah dibungkus dengan kemasan bermerek dalam berbagai ukuran untuk dijual.

Beberapa meter di hadapannya, sejumlah barista yang berkecimpung di coffee shop sedang berlomba meracik minuman berbahan dasar kopi.

"Kami sedang berupaya mengenalkan kembali kenikmatan kopi Bukit Apik kepada masyarakat," kata Wali Kota Bukittinggi, M Ramlan Nurmatias sambil menunjuk pada keramaian di objek wisata tersebut.

Bukik Apik adalah nama salah satu kelurahan di Bukittinggi, lengkapnya bernama Bukik Apik Puhun. Warga di wilayah itu terkenal dengan usaha penggilingan kopinya hingga ada lagu berbahasa Minangkabau yang cukup terkenal berjudul "Randang Kopi".

Kopi yang diolah adalah jenis robusta. Bagi pelaku usaha di sana biji kopi disangrai dulu atau dalam bahasa Minangkabau disebut "marandang" menggunakan tungku dan periuk belanga besar, setelah biji kopi berwarna hitam baru digiling hingga jadi bubuk kopi harum yang siap diseduh.

"Kopi Bukik Apik ini pernah begitu terkenal dan dicari wisatawan. Namun kini nama kopi Bukik Apik seperti tidak seterkenal dulu lagi, jarang terdengar," kata Ramlan.

(Baca Juga: Inilah 5 Wajah Pria Paling Tampan di Dunia yang Pesonanya Tak Pernah Luntur)

Wali Kota Bukittinggi bersama perangkat daerah dan organisasi terkait mencoba mencari cara agar kopi Bukik Apik kembali hidup. Akhirnya dipilih jalan menampilkan aktivitas "marandang" kopi dan lomba meracik kopi di tengah keramaian.

Menurutnya warga Sumbar pada umumnya menyukai kopi. Apalagi saat ini tengah menjamur coffee shop. "Isinya sebagian besar anak muda. Mereka mungkin sekadar kumpul-kumpul, diskusi atau buat tugas kuliah lalu ditemani kopi. Ini peluang bagi kopi Bukik Apik untuk bisa masuk ke sana," katanya.

Pelaku usaha kopi Bukik Apik saat ini telah membungkus bubuk kopi dalam kemasan rapi dan punya merek sendiri sehingga dari kemasan saja sudah bisa menjadi modal sebagai daya tarik. Agar lebih melekatkan nama Bukittinggi setiap merek perlu menambahkan gambar Jam Gadang di plastik kemasan.

"Di sini perlu peran Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan. Sudah saatnya UKM kopi Bukik Apik diangkat lagi jadi produk yang dicari wisatawan ketika ke Bukittinggi seperti halnya kerupuk sanjai dan nasi kapau," katanya.

Langkah selanjutnya, bagi tamu-tamu yang datang, pemerintah setempat berencana menyediakan kopi Bukik Apik sebagai bagian dari cenderamata. "Hotel-hotel juga dukung upaya ini. Nanti saya razia kalau tidak sajikan kopi Bukik Apik pada tamu," selorohnya.

Usaha turun-temurun Lurah Bukik Apik Puhun, Rusdianto menyampaikan usaha penggilingan kopi di daerahnya sudah berlangsung secara turun-temurun dan ia tidak bisa mengingat kapan tepatnya usaha itu bermula.