nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sakralnya Prosesi Pemasangan Bumbungan Atap Rumah Adat Suku Sahu

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 02 Mei 2018 09:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 02 406 1893462 sakralnya-prosesi-pemasangan-bumbungan-atap-rumah-adat-suku-sahu-esBeuEqiw5.jpg Rumah Adat Suku Sahu (Foto: Annisa Aprilia/Okezone)

SUKU-SUKU di Indonesia memiliki beragam budaya dan ritual yang hingga kini masih dipertahankan. Hasil warisan para leluhur itu juga masih dilestarikan oleh warga Desa Akelamo.

Pada gelaran Festival Teluk Jailolo 2018 (FTJ), tepatnya pada Selasa, 1 Mei 2018, menampilkan prosesi peresmian rumah adat Suku Sahu Jai Talai Padasua di Desa Akelamo, Kecamatan Jailolo. Pada prosesi yang diadakan siang hari di hari kedua festival yang bertema Pesona Budaya Kepulauan Rempah ini, juga turut dihadiri oleh Bupati Halmahera Barat yaitu Danny Missy, Ketua Adat Jio Talai Padusua, Robinso Missy, jajaran Forkompimda Halmahera Barat, pimpinan SKPD dan tamu istimewa dari Negeri Jiran, Datuk Zulkifli Mohamad, serta perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.

 Baca juga: Terlalu Sering Minum Air Lemon, Ini Efek Buruk yang Mungkin Anda Alami

Selain meresmikan rumah adat, prosesi tersebut juga menjadi momen yang dimanfaatkan masyarakat Halmahera Barat dalam merawat, melestarikan, dan mempromosikan warisan budaya. Suku Sahu sendiri bermukim di Desa Akelamo, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, ketika meresmikan rumah adat atau yang disebut sasadu, diisi oleh prosesi pemasangan bumbungan atap rumah adat atau dalam bahasa lokal disebut sibere wanat sasadu.

Prosesi peresmian rumah adat ini berlangsung di sasadu atau rumah adat suku Sahu, di Desa Akelamo. Rangkaian prosesi diawali dengan pengucapan do'a dari salah satu tokoh adat.

Kemudian, wanat sasadu atau bumbungan atap rumah, yang terbuat dari daun pohon sagu, dilapisi bambu, dan diikat dengan tali gumutu, tali yang terbuat dari serabut pohon enau pun siap untuk dinaikan. Di atas rumah sudah ada beberapa orang pria yang menunggu untuk menarik wanat atau bumbungan.