nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Perjuangan 2 Pejuang Air Demi Menjaga Kelestarian Lingkungan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 03 Mei 2018 19:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 03 196 1894178 cerita-perjuangan-2-pejuang-air-demi-menjaga-kelestarian-lingkungan-AmOBzgsp3O.jpg 2 pejuang air di Indonesia (Foto: Leo/Okezone)

AIR menjadi salah satu bagian terpenting bagi manusia. Banyak manusia yang mengabaikan pentingnya menjaga lingkungan agar dapat memiliki air yang layak bagi kehidupan. Alhasil banyak daerah di Indonesia yang tidak memiliki cukup air untuk memenuhi kehidupan mereka.

Meskipun begitu, masih ada beberapa orang yang berusaha memperjuangkan air untuk lingkungan sekitarnya. Salah satu pejuang air di Indonesia adalah Sugeng Handoko. Pria muda asal Yogyakarta ini rela memperjuangkan air demi membangun desanya.

Berawal dari perhatiannya pada pepohonan di sekitar desa yang terus ditebangi dan dijual, Sugeng beserta para senior Karang Taruna dari Desa Nglanggeran mulai melakukan gerakan kepedulian untuk menanam pohon di kawasan gunung api purba.

Ia juga mendirikan embung atau waduk mini di atas bukit yang berfungsi untuk menampung air hujan. Air hujan yang tertampung itu lantas dialirkan pada musim kemarau untuk mengairi sekira 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng.

Baca Juga: Ribuan Pelajar di Bogor Menyambut Kedatangan Sultan Hassanal Bolkiah

Ia membangun embung tersebut pada 2012 dengan memanfaatkan dana hibah Gubenur D.I Yogyakarta. Embung tersebut merupakan yang pertama di Yogyakarta dan kini telah menjadi salah satu daya tarik utama Desa Wisata Nglanggeran bagi para wisatawan.

Selain Sugeng, ada satu pejuang air lagi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Romo Marselus Hasan. Penggunaan generator sebagai salah satu cara Desa Bea Muring mendapatkan suplai listrik rupanya telah menciptakan polusi udara dan suara. Alhasil Romo Marselus berupaya mencari jalan keluar dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran air sebagai penggeraknya.

Baca Juga: Kakak Tiri Meghan Markle Minta Pangeran Harry Batalkan Pernikahan

Berkat PLTMH yang dananya diperoleh dari dana swadaya masyarakat kini Desa Bea Muring sudah tidak lagi tercemar oleh polusi dari puluhan generator. Selain itu, para masyarakat menjadi tidak khawatir akan sumber listrik untuk penerangan, hiburan, bahkan usaha rumah tangga seperti menenun dan membuat kue.

Kedua pejuang air ini telah mendapatkan penghargaan dari Ades yang bekerjasama dengan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan sebagai wujud apresiasi kepada individu-individu yang dinilai memiliki komitmen dalam menjaga pelestarian perjalanan air yang disebut sebagai para pejuang air Ades.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini