nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bercanda yang Sehat dan Larangan Bullying dalam Islam

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 04 Mei 2018 19:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 04 196 1894547 bercanda-yang-sehat-dan-larangan-bullying-dalam-islam-p3H6qGFFwl.jpg Ilustrasi (Foto: Slyp)

BAGI sebagian orang, bercanda atau bergurau merupakan hal yang wajar dilakukan. Banyak yang berasumsi bahwa bercanda dapat mengurangi rasa stres dan mempererat tali pertemanan, asalkan dilakukan dalam batas yang wajar.

Namun terkadang kita tidak menyadari bahwa kata-kata atau candaan yang dilontarkan sebetulnya menyakiti perasaan seseorang.

Jika dilakukan secara terus menerus, hal ini tentu akan mengarah pada tindakan bullying yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga mental dan psikologis sang korban. Padahal, ajaran Islam telah melarang untuk tidak melakukan upaya “perusakan” baik dalam bentuk fisik atau pun non-fisik.

Upaya perusakan fisik dapat digambarkan sebagai tindakan kekerasan seperti memukul, meninju, hingga merusak barang orang lain. Sedangkan upaya non fisik digambarkan sebagai upaya perusakan mental, psikologis, dan hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan jiwa seseorang.

 

Kasus bullying harus menjadi perhatian bersama, mengingat beberapa tahun ini masyarakat sering dikejutkan dengan berita-berita bullying yang dialami oleh siswa SMP hingga di kalangan mahasiswa.

Masih membekas dibenak kita, kasus bullying yang menimpa salah seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di Universitas Gunadarma. Kasus tersebut sempat menjadi perbincangan hangat, karena membuktikan bahwa bullying bisa terjadi pada siapa saja.

Tak selang berapa lama kemudian, sebuah video bullying kembali menarik perhatian masyarakat Indonesia, di mana seorang siswi SMP tengah menjadi korban perundungan di kawasan Thamrin City. Perlihal masalah bully, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang kaum Muslim mengolok-olok dan menyakiti kaum Muslim lainnya. Firman-Nya tertuang dalam Alquran surah Al Hujuraat.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim," surah Al-Hujurat Ayat 11.

Menghina orang lain juga merupakan perbuatan yang diharamkan. Barangsiapa yang melakukan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut mereka adalah orang yang sombong.

 

"Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain," (HR. Muslim no. 91).

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Anda bisa mencontoh cara bercanda yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mendatangi seseorang bernama Zahir bin Hizam atau Haram yang saat itu tengah menjual barang dagangannya. Zahir adalah sahabat yang bertubuh mungil namun Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam menyukainya. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendepaknya dari belakang dan Zahir tidak mengetahuinya. “Lepaskan! Siapa ini? Tanya Zahir. Lalu ia menoleh ke belakang dan mengetahui bahwa yang mendekapnya adalah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu ia tidak lagi melawan dan membiarkan punggungnya menempel dengan dada Rasul.

Ketika sadar bahwa Zahir telah mengetahuinya, Rasul pun berseloroh, “Siapa yang mau membeli hamba ini?” “Kalau engkau menjualku wahai Rasul, demi Allah aku tidak akan laku,” sahut Zahir.

Kemudian Rasul mengatakan, “Namun tidak di hadapan Allah, kamu adalah barang mahal yang pasti laku,” Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam Sahib ibn Hibbam, Sunan al-Bayhaqi, dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Dari hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya bercanda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabatnya, masih dalam batas wajar dan tidak sampai menyinggung perasaan Zahir.

Baca juga: Inilah 5 Wajah Pria Paling Tampan di Dunia yang Pesonanya Tak Pernah Luntur

Persoalan kalimat “Siapa yang mau membeli hamba ini?” al-Harawi dalam Jam’ul Syamil fi Syarhil Syamail menjelaskan bahwa hamba yang dimaksudkan adalah hamba Allah karena semua manusia pada kenyataannya adalah hamba Allah.

Baca juga: Sensasi Makan Bakso Aci Viral di Ibu Kota seperti Apa Rasanya?

Sementara untuk kata “dijual”, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bukan bermaksud merendahkan Zahir bin Hizam. Ia justru memuliakannya. Di sisi lain, candaan tersebut tidak menimbulkan dampak buruk bagi sang sahabat. Demikian dilansir Okezone dari berbagai sumber, Jumat (4/5/2018).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini