Waspada, Dalam Tekanan Batin Korban Bullying Halusinasinya Ingin Mengakhiri Hidup

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 04 Mei 2018 22:04 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 04 196 1894612 waspada-dalam-tekanan-batin-korban-bullying-halusinasinya-ingin-mengakhiri-hidup-CccvmoFN9T.jpg Ilustrasi (Foto: News)

SESEORANG yang kerap di-bully sejak kecil pasti tak terhindar dengan dampaknya dalam jangka panjang. Saking ekstremnya, korban bully bisa berhalusinasi untuk melakukan bunuh diri.

Ingatan seseorang yang menjadi korban intimidasi sejak kecil pasti susah melupakan kenangan pahitnya. Pasti dia selalu mengingat momen saat diolok-olok atau menjadi korban kekerasan oleh teman-teman sebayanya.

Studi yang dilakukan oleh Peneliti William Copeland menyebutkan, anak-anak korban bully rentan mengalami efek jangka panjang yang mengganggu kesehatan mentalnya. Sepanjang hidupnya, mereka mudah cemas, gelisah, stres, sampai halusinasi ingin bunuh diri setelah diejek teman-temannya.

"Yang mengejutkan saya setidaknya ada beberapa efek jangka panjang yang erat pada korban bully. Mereka akan mengalami depresi, kecemasan, hingga bunuh diri yang menjadi malapetaka," ungkap Psikolog Cppeland di Duke University Medical Center itu.

Baca Juga: Inilah Cara yang Perlu Dilakukan Orangtua agar Anak Tidak Jadi Pembully

Bagi korban penindasan, malah menjadi sasaran dapat meningkatkan risiko bunuh diri, karena merasa harga dirinya yang rendah. Tetapi sebagian besar studi tentang efek bully ini berfokus pada periode masa anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa.

(Foto: Huffingtonpost)

Copeland dan rekan-rekannya menggunakan data dari studi yang dimulai 20 tahun lalu. Ada sekira 1.420 anak-anak dan orangtua terlibat dalam studi ini. Mereka yang mengikuti studi usianya berkisar 9-16 tahun untuk anak-anak dan 21-25 tahun untuk orang dewasa. Penelitian ini melihat efek dalam jangka panjang pada korban bully yang begitu menyakitkan.

Baca Juga: Lakukan 5 Hal Ini jika Melihat Korban Bully

Dengan menggunakan data ini, para peneliti membagi anak-anak menjadi empat kelompok. Antara lain yakni anak-anak tidak terlibat dalam bullying, korban penindasan dari orang lain, hingga sekelompok anak-anak yang cuma diganggu.

Para peneliti kemudian melihat efek buruk bagi kesehatan mental dari setiap kelompok korban bully seperti kondisi kesehatan mentalnya. Rupanya selain halusinasi bunuh diri, para korban intimidasi massal ini lebih rentan cemas. Mereka juga lebih memilih menjadi orang anti-sosial dan emosinya sulit diatur.

"Sejak kecil, korban bully bisa menerima dampak buruk itu. Emosinya jadi terganggu, bahkan dia sulit membangun hubungan baru dengan orang lain," pungkasnya, dilansir Huffingtonpost, Jumat (4/5/2018).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini