Seluk Beluk Transplantasi Hati dengan Donor Hidup

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 07 Mei 2018 18:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 07 481 1895515 seluk-beluk-transplantasi-hati-dengan-donor-hidup-P5AM6KoNrP.jpg Ilustrasi (Foto: Easyhealthoption)

PENYAKIT gagal hati mungkin masih belum familiar di telinga masyarakat. Akan tetapi, sebenarnya angka kasus penyakit ini di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, jumlah pasien penyakit hati mencapai 20 juta jiwa dimana 20-40% di antaranya mengarah ke sirosis hati.

Gagal hati merupakan tahap akhir dari penyakit hati kronis. Gejala penyakit ini antara lain kuning pada kulit dan mata, nyeri pada bagian atas perut sebelah kanan, perut buncit, mual, muntah darah, BAB berwarna hitam, serta gangguan kesadaran. Sama seperti penyakit kronis lainnya, gagal hati memerlukan perawatan untuk menyembuhkannya.

Saat ini terapi perawatan yang diberikan pada pasien gagal hati adalah transplantasi hati. Ada dua pilihan untuk melakukan transplantasi yaitu donor organ dari orang yang sudah meninggal atau donor hidup. Di Tanah Air, transplantasi hati yang sekarang dikerjakan hanya dari donor hidup dimana sebagian hati pendonor diambil untuk dicangkokkan pada pasien penerima hati atau resipien.

Transplantasi hati dengan donor hidup pada anak dan orang dewasa memiliki perbedaan dalam jumlah yang diambil. Sekadar informasi, hati terbagi atas 8 segmen. Pada anak, dibutuhkan paling tidak 2 segmen untuk transplantasi sedangkan pada orang dewasa membutuhkan hingga 50% segmen.

Baca Juga: Sepatu 'Gembel' Agnez Mo hingga Komentar Netizen yang Menohok

Namun untuk melakukannya perlu dilakukan serangkaian tes dan pertimbangan seperti kondisi pendonor maupun resipien harus benar-benar baik dan jumlah hati yang diambil tidak boleh mengganggu fungsi kehidupan dari pendonor.

Sebelum dilakukan transplantasi akan ada pemeriksaan skrining yang membutuhkan waktu kira-kira 3 bulan. Ada pula penilaian yang menjadi pertimbangan dan dikenal dengan istilah MELD score. Bila hasil pemeriksaan baik, maka transplantasi bisa dilakukan. Tentunya transplantasi menimbulkan efek samping namun masih bisa diatasi oleh para dokter yang menangani pasien.

"Tubuh memiliki sifat imunitas yang akan menolak organ asing. Hati dari orang lain yang dimasukkan dianggap sebagai benda asing sehingga sistem imun berusaha menghilangkannya. Untuk mencegah kerusakan hati yang didonorkan, maka pasien harus minum obat long life, tapi dipantau secara berkala," ungkap dokter spesialis penyakit dalam, Dr. dr Andri Sanityoso SpPD-KGEH saat ditemui dalam sebuah acara, Senin (7/5/2018) di kawasan Jakarta Pusat.

Lebih lanjut dr Andri menjelaskan bila semakin lama obat yang diminum pasien dosisnya akan semakin kecil. Hal itu diperlukan guna mempertahankan hati yang didonorkan agar tidak dirusak sistem imun.

"Ada risiko lain seperti sistem imun rendah sehingga kalau lagi minum obat harus menghindari infeksi melalui udara seperti mengenakan masker. Tapi tetap dilakukan evaluasi rutin. Selain itu, pasien juga harus menghindari obesitas setelah dilakukan transplantasi agar tidak terjadi fatty liver (perlemakan hati)," tambahnya.

Baca Juga: Intip Gaya Kekasih Bule Cucu Soeharto saat Kenakan Kebaya

Sementara itu, ditemui dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB (K) BD, mengungkapkan 95% pendonor tidak mengalami masalah usai mendonorkan hatinya. "Hati bisa dibagi dan bisa dikembangkan kembali setelah 3 bulan transplantasi. Artinya volume hati bisa kembali seperti semula ketika fungsinya dibutuhkan. Sejak hari pertama transplantasi dilakukan, tidak ada masalah pada fungsinya," ujarnya.

Dokter spesialis bedah itu juga menerangkan bila masa pemulihan untuk pendonor hati tidak terlalu lama. Paling tidak seminggu untuk beristirahat dan setelahnya bisa beraktivitas kembali. "Risiko seperti infeksi, cedera, pendarahan tetap ada tapi bisa diatasi. Hal terpenting baik pasien maupun pendonor bisa hidup sehat lagi," pungkas dr Toar.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini