Hari Thalasemia Sedunia, WHO Sebut 9 Juta Ibu Hamil Terpapar Tiap Tahun

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 08 Mei 2018 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 08 481 1895847 hari-thalasemia-sedunia-who-sebut-9-juta-ibu-hamil-terpapar-tiap-tahun-cB082WCYzz.jpg Ilustrasi Pasien Thalasemia. (Foto: Reuters)

HARI ini diperingati sebagai hari Thalasemia sedunia, sebuah penyakit hemoglobinopati yang mengacu pada perubahan genetik yang menyebabkan kelainan struktural dalam molekul hemoglobin. Penyakit kelainan darah ini, menyebabkan produksi hemoglobin abnormal dan akhirnya menyebabkan anemia.

Adapun gejala dari penyakit tersebut antara lain kelelahan, kulit pucat, masalah tulang, pembesaran limpa seiring dengan pertumbuhan yang tertunda dan komplikasi seperti kelebihan zat besi yang menyebabkan kelainan jantung, hati dan sistem kekebalan tubuh.

Thalasemia sendiri adalah penyakit monogenik yang berarti penyebabnya tunggal, yakni kondisi patogenesis yang berbeda. Beberapa kawasan seperti di Mediterania, Timur Tengah, wilayah Asia Tenggara serta India, diaporkan sebagai daerah yang memiliki penyakit thalasemia tertinggi.

Baca juga: 4 Ilmuwan Dunia yang Masuk Islam karena Riset Ilmiah Mereka

Image result for thalassemia, reuters

(Foto: Reuters)

"Menurut statistik WHO secara global, ada sekitar 9 juta ibu hamil mengidap thalasemia setiap tahunnya. Sekira 56.000 anak yang baru lahir memiliki talasemia mayor, termasuk setidaknya 30.000 orang yang melakukan transfusi untuk bertahan hidup, dan sekira 5.500 orang yang terkena dampak secara perinatal," kata Dr. Pradeep Mahajan dari StemRx Bioscience Solutions Pvt. Ltd., seperti dilansir dari thehealthsite, Selasa (8/5/2018).

"Meningkatnya tingkat migrasi juga menyebabkan terpaparnya hemoglobinopati genetik tersebut ke populasi baru. Kasus baru semacam itu merupakan tantangan tambahan terhadap layanan kesehatan dalam skala global," tambah dia.

Ada dua tipe utama dari Thalasemia, yaitu alpha dan beta Thalasemia berdasarkan rantai hemoglobin yang terpengaruh. Bentuk lainnya, yakni varian delta dan kombinasi.

Baca juga: Intip Gaya Kekasih Bule Cucu Soeharto saat Kenakan Kebaya

Image result for thalassemia, reuters

(Foto: Reuters)

Beta Thalasemia pun memiliki cabang lebih lanjut, yang diklasifikasikan sebagai beta-Thalasemia mayor, menengah dan kecil. Karena frekuensi tinggi dan tingkat bahayanya, beta-Thalasemia mayor dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang besar. Varian ini menyebabkan anemia berat yang membunuh anak-anak di bawah usia 3 tahun jika tidak segera diobati.

"Tidak ada pengobatan yang efektif untuk Thalasemia, dan satu-satunya cara untuk mencegah kondisi ini adalah dengan mendeteksi pembawa dan menyebarkan awarness di antara orang-orang, tentang epidemi yang muncul ini," jelas dia.

Adapun perawatan thalasemia masih konvensional dan bergantung pada transfusi darah reguler, serta terapi chelation besi, atau transplantasi sumsum tulang. Sayangnya, mahalnya biaya dan efek buruk yang terkait dengan terapi semacam itu masih menjadi momok utama.

Selain itu, donor untuk transplantasi sumsum tulang belakang agar sepenuhnya cocok untuk si penderita hanya mencakup 25%-30%. Jika tidak cocok, bukan tidak mungkin tubuhnya malah menolak transplantasi tersebut.

Saat ini, para dokter pun tengah mempelajari perawatan pengobatan regeneratif dan terapi berbasis sel dalam manajemen talasemia dengan hasil yang menjanjikan. Dengan demikian, Mesenchymal stromal cells (MSC) dapat disuntikkan di sumsum tulang, bersama dengan sel-sel pembentuk darah hematopoietik, dan menutup ceruk di sel hematopoietik yang terkena.

Baca Juga: 8 Fakta Mengejutkan yang Pernah Terjadi di Met Gala, Salah Satunya Ada yang Ribut di Lift!

Image result for thalassemia, reuters

(Foto: Reuters)

Selain itu, MSC mampu memperbarui diri dan diferensiasi ke dalam berbagai jenis sel, sehingga dalam memilihara sel hematopoietik. Sebuah pendekatan baru untuk transplantasi sel induk hematopoietik telah dimungkinkan oleh CliniMacs Prodigy System.

Studi menggunakan teknologi ini telah menunjukkan bahwa transplantasi sel induk donor yang tidak terkait adalah pendekatan terapi yang dapat diterima pada pasien talasemia akut. Teknologi ini telah menguntungkan lebih dari 5.000 pasien di seluruh dunia yang menderita berbagai kondisi hematologi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini