nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Negara Ini Kecantikan Dianggap Hak Asasi Manusia Lho!

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 11 Mei 2018 21:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 11 194 1897296 di-negara-ini-kecantikan-dianggap-hak-asasi-manusia-lho-BeyMk0k7qf.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

KECANTIKAN dikatakan sebagai hal yang terlihat sederhana, namun nyatanya adalah sesuatu yang sulit dipahami dan sering berubah-ubah. Sering pula kita mendengar ungkapan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang bersifat subjektif. Akan tetapi jika ungkapan perihal bahwa kecantikan itu adalah hak asasi, apalagi hingga diurus oleh negara? Tidak terlalu familiar bukan?

Tapi nyatanya, di negara ini kecantikan disebutkan termasuk dalam hak asasi seseorang. Yup! Seperti diwarta Nypost, Jumat (11/5/2018) di Brazil, di mana para penduduknya menganggap bahwa mereka sebagai penduduk suatu negara memiliki hak untuk cantik. Pemerintah Brazil sendiri lebih lanjut mendukung hak ini dengan memberikan subsidi hampir setengah juta operasi setiap tahun, menawarkan operasi plastik di rumah sakit umum baik secara gratis atau dengan biaya rendah, bunyi laporan Vice.

Dengan adanya sistem ini, maka tentu saja banyak orang yang tidak bisa mengatakan tidak kepada tindakan operasi plastik. Mengingat kecantikan umumnya dianggap sebagai sangat penting bagi pasar kerja, untuk menemukan pasangan dan untuk bisa maju di negara Amerika Selatan.

Namun, hal ini tidak hadir dengan nol risiko. Tetap saja ada sisi gelap dari ‘hak untuk cantik’ ini. Dikatakan, nyatanya banyak tindakan prosedur yang menuntut waktu tunggu dalam periode yang cukup panjang, bisa berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Popularitas soal tindakan operasi plastik ini akhirnya menjadikan Brasil sebagai konsumen operasi plastik terbesar kedua di dunia, tercatat sekira 1,2 juta operasi setiap tahunnya.

kecantikan

Sementara itu, ide kecantikan menjadi sebuah hak asasi manusia ini bisa ditengok ke belakang ke era 1950’an. Seorang ahli bedah bernama Ivo Pitanguy meyakinkan presiden saat itu, Juscelino Kubitschek bahwa hak atas kecantikan sama pentingnya dengan kebutuhan kesehatan lainnya. Alasannya bahwa keburukan tampilan visual dapat menyebabkan begitu banyak penderitaan psikologis sehingga harus dianggap sebagai masalah kemanusiaan.

Awalnya disebutkan, penerima operasi plastik murah bahkan gratis ini adalah individu dengan cacat bawaan atau korban luka bakar. Namun, belakangan sekarang yang ada malah sebagian besar prosedur diyakini murni karena alasan estetika. Hal ini di mana ahli bedah dan penduduk dengan sengaja mengaburkan batas antara prosedur rekonstruksi dan estetika untuk mendapatkan persetujuan dari pihak pemerintah.

Rumah sakit sendiri, sebagai ‘lahan’ untuk menguji coba sederet prosedur inovatif dan pelatihan para ahli bedah, yang mana secara esensial adalah mengekspos pasien untuk terkena lebih banyak resiko. Apalagi ditambah dengan hanya ada sedikit peraturan untuk melindungi pasien-pasien ini dari tindakan malapraktik.

Selain itu mengingat mereka cenderung berpenghasilan rendah, sulit bagi para penduduk untuk mendapatkan keadilan jika ada tindakan prosedur yang salah. Tetapi kembali lagi, pasien setuju dengan risiko menjadi subjek eksperimental sebagai bagian dari mendapatkan sebuah ‘kecantikan’ yang bisa dibilang adalah harga yang terlalu tinggi untuk dibayar.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini