5 Percobaan Gila terhadap Manusia, Membangkitkan yang Mati hingga Jahit Anak Kembar

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 11 Mei 2018 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 11 481 1897084 5-percobaan-gila-terhadap-manusia-membangkitkan-yang-mati-hingga-jahit-anak-kembar-H4JNB5sIJ1.jpg Ilustrasi (Foto: Healthline)

TIKUS atau kelinci lazim menjadi korban uji coba dari penelitian. Karena itu, muncul istilah kelinci percobaan yang ditujukan kepada korban-korban uji penelitian. Namun, ada juga ilmuwan gila yang menjadikan manusia sebagai bahan uji coba.

Anda mungkin familiar dengan cerita Frankenstein, makhluk yang coba dihidupkan dari jenazah manusia. Percobaan untuk menghidupkan manusia yang sudah mati ternyata pernah dilakukan seorang ilmuwan bernama Johann Conrad Dippel, yang kemudian menjadi inspirasi cerita Frankenstein.

Berikut beberapa ilmuwan gila yang menjadikan tubuh atau organ tubuh manusia sebagai eksperimen, mengutip dari Complex, Jumat (11/5/2018):

(Baca Juga: Tahan Gempa, Ini Rahasia di Balik Kuatnya Menara Pisa)

Robert G. Heath (1915-1999)

Heath memfokuskan percobaannya kepada otak manusia agar memberikan kesenangan untuk dirinya sendiri. Ia melakukan percobaan dengan cara menyuntikkan otak manusia dengan aseltikolin pada dosis tertentu. Beberapa otak yang disuntik menunjukkan orgasme selama 30 menit setelah mendapat ramuan cinta ala Heath tersebut.

Selain itu, Robert Heath juga bereksperimen dengan suatu zat yang akan membuat seseorang pingsan, yang disuntikkan kepada para narapidana. Benar-benar gila.

Johann Conrad Dippel (1673-1734)


Kisaran 1700, orang-orang, terutama di Eropa, begitu terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau alkimia. Namun, tidak ada orang yang lebih gila dengan alkimia selain Johann Conrad Dippel. Orang Jerman ini malah sampai berpikir mengenai hidup buatan (artifisial).

Dippel memperoleh sampel untuk percobaan dengan cara mencuri jenazah dari pemakaman. Ia hendak membuktikan bahwa transplantasi jiwa ke mayat hidup adalah sebuah kemajuan ilmu pengetahuan. Percobaan tersebut dilakukannya di kastil yang bernama Frankenstein di Jerman.

Pada satu titik, percobaan tersebut menghancurkan salah satu sayap kastil dengan nitrogliserin. Percobaan itu tidak pernah membuahkan hasil hingga Dippel meninggal dunia pada 1734. Akan tetapi, upayanya untuk transplantasi jiwa itu menjadi inspirasi dari kisah makhluk seram bernama Frankenstein.

Sidney Gottlieb (1918-1999)


Ia diberi tanggung jawab untuk menjalankan proyek dari Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) berjudul MK-ULTRA pada dekade 1950. Tujuan proyek itu adalah mencari teknik penyelidikan yang akan menghancurkan psikologis manusia hingga menyingkap semua kebenaran yang disembunyikan.

Sidney Gottlieb mengerjakan tugas itu dengan cara menyuntikkan narkotika jenis LSD, heroin, dan racun kepada sejumlah orang, termasuk Fidel Castro yang berhasil selamat. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana hasil eksperimen Gottlieb kecuali Fidel Castro yang tetap hidup dengan normal hingga meninggal dunia pada 2016.

Shiro Ishii (1892-1959)

Pria Jepang ini diingat sebagai Bapak dari Persenjataan Biologis. Di bawah kendalinya, ribuan tawanan perang dari China meninggal dunia dengan penyakit misterius serta senjata kimia. Mereka sengaja dibunuh sebagai tumbal eksperimen Jepang untuk mengalahkan musuh.

Jenderal Shiro Ishii juga melakukan sejumlah percobaan gila, termasuk aborsi, pembedahan makhluk hidup, dan simulasi stroke. Apa yang dilakukan Ishii sebenarnya masuk dalam kategori kejahatan perang. Akan tetapi, ia tidak pernah diadili sebagai penjahat perang dan meninggal dunia dengan damai di rumahnya pada 1959.

(Baca Juga: Ternyata Daun Salam Berguna untuk Kesehatan, Salah Satunya Jantung)

Josef Mengele (1911-1976)

Mengele dapat disebut sebagai ‘Malaikat Kematian’ atau ‘Pembunuh Berdarah Dingin’ yang sebenarnya. Ia melakukan eksperimen terhadap 3.000 pasang anak kembar di mana hanya 30 orang yang bertahan dari kegilaannya itu.

Mau tahu eksperimen gilanya? Josef Mengele mengecat bola mata korbannya dan menjahit tubuh anak kembar agar bersatu. Ia bisa disebut sebagai pembunuh berdarah dingin karena beberapa kali tertangkap kamera tengah tersenyum ketika mengambil bagian dalam proses seleksi calon korban yang akan dikirim ke kamp konsentrasi.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini