Alasan Bercinta Disebut Nafkah Batin Menurut Islam

Annisa Aprilia, Jurnalis · Minggu 13 Mei 2018 22:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 13 196 1897812 alasan-bercinta-disebut-nafkah-batin-menurut-islam-7rAv8fY5EA.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETIAP pasangan yang sudah menikah tentu akan berhubungan badan. Hubungan intim yang terjadi antara suami dan istri ini biasa pula disebut nafkah batin dalam Islam.

Tanpa mengetahui makna sesungguhnya dan alasan di balik penggunaan istilah tersebut, banyak orang kerap menyebutnya demikian. Tidak salah memang, Ustadz Fauzan Amin, M. Hum, Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, pun punya penjelasan yang senada.

"Di samping untuk memenuhi libido seks, senggama dengan istri tercinta juga disebut sebagai nafkah batin, karena menggauli istri bukan hanya sekadar untuk memenuhi hasrat seksual semata, tetapi merupakan bentuk kasih sayang dalam membangun keluarga sakinah, mawadah, warohmah, melanjutkan keturunan, dan mengikuti sunah nabi," jelasnya ketika menjawab pertanyaan dari Okezone lewat pesan singkat.

Baca Juga: Catat! Menyebarkan Foto Korban Terorisme Bisa Bikin Trauma

Mendalami penjelasan Ustadz Fauzan, rasulullah saw bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap Istrinya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan istriku. H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Al-Albani menilai hadits tersebut sahih.

(Foto: Shutterstock)

Allah Ta’ala berfirman,

نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم

“Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai.” (Al-Baqarah:223)

"Hubungan seksual adalah Fitrah manusia, apabila dilakukan sesuai anjuran agama (melalui ikatan pernikahan sah), maka hubungan seksual menjadi sumber pahala, namun apabila dilakuan di luar ketentuan Allah maka jadilah kemungkaran dan pelakunya di sebut “zaanin” atau pelaku zina yang hukumnya dosa besar," imbuh Ustadz Fauzan.

Penjelasan Ustadz Fauzan pun senada dengan bunyi ayat pada Surah An Nisa ayat 19, sebagai berikut.

{وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا } [النساء: 19]

Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS. An Nisa: 19.

Lebih lanjut, Ustadz Fauzan menjelaskan, menurut Ibnu Hazm “Lelaki diwajibkan mencampuri istrinya, minimal sekali dalam satu masa suci, jika ia mampu melakukannya. Kalau ia tidak mau melakukannya, berarti ia telah melanggar ketetapan Allah yaitu Surah Al Baqarah ayat 222, yang artinya, “Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, berkata,

لا تواقعها إلا وقد أتاها من الشهوة مثل ما أتاك لكيلا تسبقها بالفراغ

”Janganlah kamu menjima’ istrimu, kecuali dia (istrimu) telah mendapatkan syahwat seperti yang engkau dapatkan, supaya engkau tidak mendahului dia menyelesaikan jima’nya (maksudnya engkau mendapatkan kenikmatan, sedangkan istrimu tidak mendapatkanya," hal ini juha dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

مقبلة ومدبرة إذا كان ذلك في الفرج

“Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya”

(Al-Mugni lbni Qudamah 8/136, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, syamilah)

"Manfaat jima’ menurut Ibnul qoyyim, yaitu:

1. memelihara/ melestarikan keturunan

2. mengeluarkan sperma yang apabila ditahan dapat membahayakan tubuh

3. meredakan libido (nafsu syahwat), mendapatkan kelezatan dan bersenang-senang dengan kenikmatan ini, sebagaimana dapat dinikmati di surga nanti," pungkas Ustadz Fauzan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini