nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Ranking 3 Penderita Kusta di Dunia, Yuk Ketahui Penyebabnya

Agregasi Antara, Jurnalis · Minggu 13 Mei 2018 01:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 13 481 1897552 indonesia-ranking-3-penderita-kusta-di-dunia-yuk-ketahui-penyebabnya-LJQ1EbL3ZY.jpg Aksi Damai Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia dan Dunia Tanpa Kusta (Foto: Okezone)

SEMARANG – Indonesia menempati posisi tiga besar jumlah penderita kusta di dunia, setelah India dan Brasil. Ironisnya, masalah terbesar yang dihadapi para penderita kusta bukanlah penyakitnya, melainkan stigma dari masyarakat.

"Di Indonesia, masalah terbesar yang dihadapi penderita kusta adalah stigma," kata Pakar kesehatan kulit Dr. dr. Renni Yuniati, SpKK saat menjadi pembicara pada Semarang Progress in Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (Speed) 5, di Semarang.

Menurut dia, stigma terhadap penderita kusta harus dihilangkan agar mereka bisa terbuka menyelesaikan pengobatan untuk mengobati penyakitnya yang berlangsung antara sembilan bulan sampai 1,5 tahun.

Ia mencontohkan ada satu pasien di sebuah keluarga yang dalam satu rumah tidak mendukung pengobatan atas penyakit kusta yang dideritanya sehingga hanya berobat ke apotik dan toko obat.

"Akhirnya, pasien ini berada dalam kondisi kecacatan yang cukup parah akibat penyakitnya dan tidak berdaya. Makanya, saya ingatkan untuk tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita kusta," katanya.

Renni menjelaskan penyakit kusta sebenarnya bisa diketahui dari deteksi awal, yakni munculnya bercak putih atau merah yang terasa tebal dan mati rasa yang menunjukkan kecacatan di syaraf.

"Sebetulnya, munculnya bercak putih atau merah yang mati rasa itu 'warning' bahwa ada proses pemutusan syaraf. Segera periksakan ke dokter, jangan cuma membeli obat di apotik," wantinya.

(Baca Juga: Jarang Diungkap, Inilah Daftar Rapper-Rapper Muslim Paling Sukses di Dunia)

Untuk masa penyebaran penyakit kusta, kata dia, bergantung atas daya tahan tubuh, tetapi jika tidak diobati maka akan tumbuh terus hingga menyebabkan kondisi yang parah, yakni kecacatan.

"Sampai saat ini, Indonesia masih menempati ranking ketiga penderita kusta setelah India dan Brazil. Tidak pernah turun rankingnya. Artinya, ada satu masalah, yakni kondisi gen," katanya.

Diakuinya, ada satu gen tertanda yang bisa tertular kusta sebagaimana banyak terdapat di India dan Brazil yang mengartikan keturunannya yang kemungkinannya lima persen dari 100 orang.

"Genetik yang tertanda bisa menular hanya lima persen. Penularannya bukan lewat suntikan atau darah, tetapi dari udara. Pemerintah harus menyadarkan masyarakat atas gejala dini kusta," katanya.