nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anak Milenial yang Dibesarkan dari Keluarga Broken Home Bikin Hidupnya Lebih Tegar?

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 16:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 15 196 1898563 anak-milenial-yang-dibesarkan-dari-keluarga-broken-home-bikin-hidupnya-lebih-tegar-sWbx8a4KtT.jpg Ilustrasi (Foto: Childcenteredivorce)

ANAK-anak yang dibesarkan dari keluarga broken home hidupnya lebih tegar dan mandiri. Hal ini membuktikan bahwa mereka tak melulu mengalami gangguan kesehatan mental, yang membuatnya tidak semangat menjalani hidup.

Umumnya, orang menganggap bahwa anak dari keluarga broken lebih cenderung nakal dan tindak-tanduknya buruk di hadapan orang lain. Tidak semuanya lho mereka mengalami hal ini.

Para peneliti telah menemukan hanya sebagian kecil anak mengalami dampak serius akibat orangtuanya bercerai. Kebanyakan justru anak-anak bisa bersikap lebih dewasa dan mandiri, serta melindungi dirinya sendiri dari kasus serupa saat sudah menikah nanti.

Dilansir Scientificamerican, Selasa (15/5/2018), dalam studi tahun 2002 yang dilakukan oleh Psikolog E Mavis Hetherington dari University of Virginia mengatakan, efek negatif jangka pendek dari perceraian yang paling sering dihadapi anak-anak yang mengalami kecemasan, kemarahan, terkejut dan tidak percaya diri.

Ortu BertengkarBaca juga: Gogon Meninggal Dunia Karena Penyakit Jantung, Kenali 10 Faktor Risikonya

Namun, dampak itu biasanya berkurang saat dua tahun pasca-kejadian. Lalu, mereka akan lebih bangkit dan bersikap mandiri dalam menjalankan hidup.

Ada pula studi lainnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Pennsylvania State University, membandingkan antara anak-anak korban perceraian dan anak-anak yang dibsesarkan dari keluarga utuh. Para peneliti mengikuti kehidupan anak-anak broken home dari masa kanak-kanak hingga remaja.

Rupanya, dari hasil penelitian itu disebutkan bahwa adanya perubahan perilaku yang dialami anak-anak saat beranjak dewasa, yang dikaitkan dengan hubungan sosial. Studi ini juga dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dari keluarga utuh.

Ortu BertengkarBaca juga: Bertahun-tahun Belajar Agama, Kiper Timnas Swedia Akhirnya Masuk Islam

Dari masa ke masa, anak-anak yang dibesarkan dari keluarga utuh cenderung sering terlibat perbuatan kenakalan remaja, nilai prestasi belajarnya menurun, hingga terjadi masalah emosional. Sementara mereka yang besar diasuh oleh orangtua tunggal,hidupnya lebih mandiri, terkesan dewasa dan saling menghargai teman-temannya. Prestasi belajarnya juga meningkat dan hidupnya jadi lebih tegar.

Dia juga akan menjadi anak-anak yang tangguh dan punya tanggung jawab besar. Apalagi kalau harus membantu orangtuanya untuk mencari penghasilan saat ia dewasa. Mereka juga cenderung ingin membuat ayah dan ibunya bangga meski sudah tidak tinggal satu rumah.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini