Share

Nama Kita Mempengaruhi Keputusan Kita?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 16:48 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 15 196 1898611 nama-kita-mempengaruhi-keputusan-kita-HzIuzTGbwh.jpg Foto: Philippe Huguen-Getty Images

BAKER (artinya pembuat roti), Barber (pemangkas rambut), Butcher (tukang daging), Painter (tukang cat): mengapa kita ingin melihat refleksi diri kita dalam apa yang kita kerjakan.

Seorang proktologis yang disebut Dr Butts, seorang pembuat kue bernama Baker - apakah itu merupakan kebetulan belaka atau semesta memiliki cara untuk mendorong orang menggeluti karir yang sesuai nama mereka?

Ada sebuah istilah untuk pandangan ini: determinisme nominatif sebuah frase yang dipopulerkan oleh sebuah kolom di dalam majalah New Scientist, yang merujuk terutama pada teori bahwa orang tertarik pada pekerjaan yang cocok dengan nama mereka.

Itu merupakan bagian apa yang para peneliti sebut "egoisme implisit" - gagasan bahwa kita tertarik pada sesuatu yang mengingatkan kita pada diri sendiri, apakah itu menikahi seseorang yang sama ulang tahunnya, atau pindah ke suatu tempat dengan nama secara fonetis sama dengan Anda.

Namun adakah bukti lain untuk menunjukkan bahwa nama Anda dapat menentukan pekerjaan Anda?

Brett Pelham, seorang profesor psikologi dari Montgomery College di Maryland, AS, berpikir seperti itu. "Nama Anda menentukan aspek hidup Anda," jelas Pelham, yang menghabiskan beberapa dekade untuk meneliti egoisme implisit. Dia yakin fenomena ini "bukan sebuah kebetulan; ini kenyataan."

[Baca Juga: Tren Nama Anak "Melania", Jadi yang Paling Populer di Amerika, Ngikutin Ibu Negara?]

Kembali pada 2002, Pelham dan rekannya pada saat itu Matthew Mirenberg dan John Jones mempublikasikan penelitian mengenai egoisme implisit dalam Journal of Personality and Social Psychology. Mereka melihat bagaimana ejaan nama-nama orang di AS berpotensi mempengaruhi keputusan hidup mereka, seperti karir yang mereka kejar.

Tim peneliti menemukan bahwa orang dengan nama Dennis atau Denise lebih cenderung menjadi dokter gigi (dentis) dibandingkan orang dengan nama populer lainnya dan menentukan bahwa pria yang dipanggil George atau Geoffrey "mungkin lebih mungkin bekerja di bidang geosains" ketimbang bidang ilmiah lainnya.

Ilustrasi nama bayi. Foto PHILIPPE HUGUEN--Getty Images

Memanggil Dr Payne

Para dokter keluarga di Inggris yang memiliki nama belakang Limb (anggota tubuh), sejak lama memiliki pertanyaan apakah nama mereka mempengaruhi karir kedokteran mereka.

"Orang dulu bertanya kepada saya mengenai nama saya dan apakah itu mempengaruhi keputusan saya untuk menjadi seorang dokter dan kemudian ahli bedah ortopedi," kata Dr David Limb, yang istrinya bernama Dr Catherine Limb.

Ketika putra mereka, Richard dan Christopher, memasuki sekolah kedokteran dan mulai mendengar lelucon yang sama, maka seluruh keluarga memutuskan untuk mengatasinya. Mereka menghabiskan beberapa minggu untuk meneliti salinan daftar medis dari General Medical Council Inggris, yang akhirnya mempublikasikan laporan "ringan" yang mengidentikan praktisi medis dengan "nama keluarga yang 'cocok' untuk spesialis atau untuk urusan medis secara umum."

Artikel mereka mengidentifikasikan sebuah rangkaian tren, termasuk sejumlah nama ahli medis professional, seperti spesialis urologi dengan nama keluarga Dick, Cox, Ball dan Waterfall, juga dojter spesialis anak dengan nama keluarga Boys, Gal, Child dan Kinder.

Sementara Limbs mengakui bahwa riset mereka tidak berdasarkan pada bukti empiris dan analisis yang kuat, mereka menyenangi gagasan bahwa mereka- dan professional medis lainnya- mungkin secara sadar memiliki nama yang terdengar mirip dengan yang berkaitan dengan klinis.

[Baca Juga: TAKJUB! Muhammad Jadi Nama Paling Populer di Inggris]

"Pendapat saya tak hanya berasal dari riset determinisme nominatif, namun juga perenungan saya terhadap takdir saya," kata David Limb. "Saya pikir (bahwa) banyak yang kita lakukan dan putuskan, terdapat elemen bawah sadar yang kuat yang bahkan tidak ada dalam pikiran kita namun mempengaruhi keputusan yang kita buat."

Tren nama bayi

Namun, para peneliti lain tidak semuanya yakin dengan data dari artikel atau bukti anekdotal yang mendukung eksistensi determinisme nominatif. Uri Simonsohn, seorang profesor Wharton School, Universitas Pennsylvania merupakan penentang yang vokal, melalui makalah yang ditulis pada 2011, menentang egoisme implisit. Di dalamnya dia mereplikasi penelitian Pelham dan mengungkapkan bahwa hasilnya diplintir untuk berbagai alasan.

"Ketika menganalisa data nama-nama, para peneliti mengabaikan, atau tidak menganggap serius dua masalah penting: korelasi itu bukan merupakan sebab akibat atau pun kesalahan pelaporan," tulis Simonsohn dalam sebuah email.

Sebagai contoh, dia berpendapat bahwa orang-orang yang namanya seringkali tergantung usia mereka karena tren nama bayi berganti setiap waktu.

Ilustrasi. Foto  Mike Simons-Getty Images

Jadi, meskipun lebih banyak dokter gigi (dentists) bernama Dennis dibandingkan nama yang sama populernya, seperti Walter, Walter merupakan nama yang lebih tua, jadi para dokter gigi dengan nama Walters akan banyak yang pensiun dari kedokteran gigi sementara dokter gigi dengan nama lebih muda masih bekerja di dunbia itu.

Ketika membicarakan Georges dan Geoffreys, ya, kehadiran mereka banyak sekali dalam geosains- namun juga di semua ilmu lain, katanya dalam laporannya.

"Para peneliti biasanya menganggap bahwa nama-nama tidak berkolerasi dengan apapun, jadi setiap korelasi antar nama menjadi menarik dan dikait-kaitkan. Namun itu gila," Simonsohn. "Analisis egotisme implisit tanpa seleksi yang baik pada nama-nama hanyalah merupakan kebetulan yang menyenangkan belaka, tidak lebih."

Tidak terpengaruh dengan kritik, Pelham meneruskan proyeknya. "Orang terus saja mengecam dan menganggapnya gila," kata dia mengenai pandangan buruk terhadap determinsme nominatif.

Untuk menanggapi berbagai kritik, dia mengkaji sebuah tren dalam periode waktu yang lama untuk menunjukkan apakah koneksi nama dengan karir benar-benar eksis sejak bergenerasi, atau apakah itu merupakan produk popularitas nama pada saat itu. Dia juga ingin mengetahui bagaimana faktor ras seseorang dapat mempengaruhi pilihan karirnya.

Pada 2013, dia bagai menemukan harta karun. Pada 1940 catatan sensus AS yang baru saja dipublikasikan dengan detail secara online- yang penuh dengan informasi yang relevan bagi proyeknya. Kendati statistik dasar bisa diakses segera setelah sensus, salinan lengkap nama-nama, alamat, ras, dan lainnya biasanya baru jauh hari kemudian dipublikasikan.

Alih-alih memfokuskan pada nama depan, Pelham dan rekan penelitinya Mauricio Carvallo mengidentifikasi 11 target nama keluarga untuk melihat apakah pria dengan nama-nama ini lebih cenderung menggapai karir sesuai referensi nama mereka: Baker, Barber, Butcher, Butler, Carpenter, Farmer, Foreman, Mason, Miner, Painter dan Porter.

Bukan hanya nama-nama dan pekerjaan yang ada dalam daftar sensus, namun juga termasuk etnisitas dan tingkat pendidikan, yang membuat Pelham dapat mempertimbangkan dua variable kontrol yang sangat penting.

"Kami melihat pada setiap pekerjaan laki-laki dan menemukan bahwa pria dengan nama trkait pekerjaan, lebih banyak bekerja di bidang itu," kata dia. "Untuk memastikan penemuan ini bukan data yang dicocok-cocokan, kami melakukannya lagi dengan menggunakan data Sensus AS 1880 dan Sensus Inggris pada 1911."

Para peneliti ini mempublikasikan studinya dalam jurnal Self and Identity, Pelham dan Carvallo menemukan bahwa "15,5% pria lebih mungkin bekerja di pekerjaan yang menggunakan nama keluarga mereka." Lalu pria kulit putih sekitar 30% lebih mungkin bekerja di bidang yang cocok dengan nama keluarga mereka. "Ketika mereka melihat pada Sensus AS 1880, efek dasar yang sama muncul, dengan sekitar 11% lebih mungkin bekerja pada bidang yang cocok dengan nama keluarga mereka. Pengkajian serupa dari Sensus Inggris juga secara keseluruhan menunjukan kecenderungan yang sama.

Karena sifat sejarahnya dari nama keluarga yang berhubungan dengan pekerjaan- nama diberikan orang berdasarkan pekerjaan mereka - tidak bisakah seseorang berasumsi bahwa orang mewarisi nama kedua orang tua dan sekaligus pekerjaan mereka? Pelham mengatakan bahwa itu sangat tidak mungkin. "Bahkan jika Anda berasumsi bahwa separuh waktunya pria melakukan sesuatu yang persis dengan yang dilakukan ayah mereka," kata dia.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini