nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Usia Harapan Hidup Kalah dari Malaysia, Bapak KB Nasional Sarankan Mahasiswa Terjun ke Desa

Hambali, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 07:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 15 481 1898353 usia-harapan-hidup-kalah-dari-malaysia-bapak-kb-nasional-sarankan-mahasiswa-terjun-ke-desa-Hq9kFdl2KN.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

DATA yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, jika usia harapan hidup masyarakat Indonesia masih kalah dari negara tetangga, Malaysia. Oleh karenanya, dibutuhkan keterlibatan semua pihak untuk terjun ke desa-desa mensosialisasikan tentang program keluarga berkualitas.

Sebagai gambaran, saat ini usia harapan hidup masyarakat Indonesia berada di usia 70 tahun. Sedangkan usia harapan hidup di Malaysia terus meningkat, dan kini sudah berada di atas 70 tahun. Kondisi itu disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah tentang kesadaran menerapkan kehidupan keluarga berkualitas.

"Jadi bangsa Malaysia itu usia harapan hidupnya sekarang sudah diatas Indonesia, rata-rata usianya sudah diatas 70 tahun, Indonesia belum," terang Haryono Suyono, Bapak KB Nasional, saat memberikan materi seminar nasional 'Generasi Berencana Menuju Generasi Emas Indonesia' di kampus UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin 14 Mei 2018.

Dikatakannya, harus ada percepatan dalam mendukung rencana Indonesia Emas tahun 2045. Yaitu melalui beberapa langkah dalam membangun keluarga berkualitas, di antaranya ; merencanakan usia pernikahan ideal, yakni laki-laki berusia 25 tahun dan wanita 21 tahun. Lalu melahirkan dengan jumlah 2 hingga 3 anak saja (program KB), memberi ASI eksklusif, mengatur jarak kelahiran anak dalam rentang 3 hingga 5 tahun.

Selain itu, harus pula diterapkan pembangunan keluarga melalui 8 fungsi yang utama, yaitu ; fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan.

"Kita butuh keterlibatan semua pihak, dalam hal ini mahasiswa sebagai kalangan muda intelektual tentu sangat mudah untuk bergerak, terjun ke desa-desa, membantu sosialisasi tentang bagaimana itu mempraktekkan keluarga berkualitas. Kalau semua bergerak, maka tentu dalam waktu dekat usia harapan hidup kita pun meningkat pesat," imbuh Haryono.

Seminar

Dari data yang ada, angka harapan hidup di Indonesia pada tahun 2010 rata-rata mencapai usia 69,81 tahun. Kemudian pada tahun 2016, naik menjadi 70,90 tahun, selanjutnya tahun 2017 menjadi 71,06 tahun. Angka harapan hidup tertinggi di Indonesia berada di daerah Yogyakarta, dengan usia 74,71 tahun. Sedangkan angka harapan hidup terendah berada di Sulawesi Barat, dengan usia 64,31 tahun.

Angka usia harapan hidup sendiri mencerminkan, jika bayi-bayi yang lahir di tahun itu dapat hidup hingga usia 70 tahun kedepan. Hal demikian terjadi, akibat dampak adanya perbaikan status keluarga yang berkualitas. Sehingga otomatis, kesehatan masyarakat juga dapat terjaga lebih baik, termasuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan.

"Usia harapan hidup kita dari tahun ke tahun itu sebenarnya meningkat, kita tertinggal dari negara-negara lain di Asean itu hanya karena faktor bagaimana kita menciptakan anak kita berkualitas, bagaimana keluarga itu memberikan kesejahteraan, kita dalam proses. Keluarga kecil itu intinya," jelas Ahmad Taufiq, Direktur Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN, di lokasi yang sama.

Sementara itu, Rektor UIN Jakarta, Dede Rosyada memaparkan, jika saat ini Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di dunia makin berkurang, sedang jumlah populasi dunia terus meningkat. Dengan begitu, menurut dia, titik pergeseran penguasaan SDA akan mengarah pada negara-negara yang kaya akan potensi alam, salah satunya Indonesia.

"Ini menyangkut masa depan Indonesia dan dunia. Semua potensi pertanian dan hasil hutan terbesar di dunia itu ada di Indonesia, Brazil dan Kongo. Sementara hasil semua itu hanya mampu memberikan konsumsi pada 3,5 miliar penduduk dunia, sedang penduduk dunia saat ini ada sekira 6 miliar. Sehingga akan terjadi perebutan lahan-lahan itu, termasuk ke Indonesia. Nah, jika begitu perlu ada peningkatan keluarga berkualitas bagi masyarakat Indonesia, agar tak mudah 'diserbu' bangsa luar," tuturnya saat membuka acara.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini