nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Disebut sebagai Silent Killer, Begini Cara Kendalikan Hipertensi

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 07:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 16 481 1899194 disebut-sebagai-silent-killer-begini-cara-kendalikan-hipertensi-dcviLJEp9V.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

SETIAP tanggal 17 Mei selalu diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia. Selama ini hipertensi atau tekanan darah tinggi selalu disebut sebagai silent killer. Alasannya karena hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian yang dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit kardiovaskular.

Berdasarkan data, 4 dari 10 orang dewasa di atas usia 25 tahun mengalami hipertensi. Sayangnya hanya 50% yang menyadari dirinya terkena hipertensi. Akan tetapi, hanya setengahnya yang melakukan pengobatan teratur. Padahal, bila hipertensi tidak dikendalikan dapat mengakibatkan kondisi yang fatal.

“Hipertensi adalah penyakit kronik sehingga harus minum obat teratur setiap hari. Pasien harus kontrol berobat teratur agar bila obat habis bisa mendapatkan yang baru,” terang Prof. Dr. dr. Suhardjono, Sp.PD, K-GH, K-Ger, FINASIM dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di sela-sela acara media briefing ‘Hari Hipertensi Sedunia 2018’ Rabu, 16 Mei 2018 di Kantor Dirjen P2P Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Timur.

 (Baca Juga:Lagi Terapkan Program Hamil? Ini Langkah yang Bisa Dilakukan agar Tidak Gagal)

Seseorang dikatakan mengalami hipertensi bila tekanan darahnya di atas 140/90 mmHg. “Bila tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg tapi sudah di atas 120/80 mmHg, maka orang tersebut sudah masuk dalam kategori pre-hipertensi. Maka perlu dilakukan perubahan gaya hidup untuk menurunkannnya,” tambah Prof. Suhardjono.

 

Tekanan darah normal tinggi adalah salah satu penyebab hipertensi. Penyebab lainnya antara lain riwayat keluarga hipertensi, ras, kelebihan berat badan, banyak mengonsumsi makanan asin yang mengandung NaCl, konsumsi alkohol, dan kurang aktivitas fisik. Tentu saja untuk mengurangi risiko hipertensi maka seseorang harus mengatasi faktor-faktor tersebut.

 (Baca Juga:Indonesia Peringkat Kedua Negara yang Suka Buang Makanan)

Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan diet rendah garam. Paling tidak jumlah yang harus dikonsumsi adalah 5-6 gram atau 1 sdt per hari. Sekadar informasi, garam dapat memengaruhi tekanan darah karena sifatnya yang menarik air. “Sekarang ini banyak garam tersembunyi dari makanan cepat saji atau process food,” imbuh Prof. Suhardjono.

Selain itu, jangan lupa untuk melakukan lebih banyak aktivitas fisik karena individu yang kurang aktif mempunyai kemungkinan sebesar 30-50% menjadi hipertensi. Perbanyak pula konsumsi sayur dan buah, cek kesehatan rutin, serta mengelola stres. Cara-cara itu dapat membantu menurunkan tekanan darah hingga ke tingkat normal.

“Bila tidak terkontrol dengan baik, maka kenaikan 20/10 mmHg saja bisa meningkatkan risiko hingga dua kali lipat dan begitu seterusnya. Begitu juga sebaliknya, penurunan dapat mengurangi risiko kondisi yang lebih berbahaya,” pungkas Prof. Suhardjono.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini