Demi Pendidikan Merata di Indonesia, Kampanye Semua Anak Bisa Sekolah Dibentuk

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 23 Mei 2018 10:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 23 196 1901582 demi-pendidikan-merata-di-indonesia-kampanye-semua-anak-bisa-sekolah-dibentuk-keOYyHqbAO.jpg Ilustrasi (Foto: House)

PENDIDIKAN merupakan salah satu hak anak, yang seharusnya dipenuhi oleh orangtua. Namun, kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan, hingga kondisi darurat lainnya, menyebabkan anak terpaksa putus sekolah atau tidak pernah merasakan sekolah.

Mirisnya, dari data BPJS pada 2016 menunjukkan di Indonesia saat ini ada lebih dari 83 juta anak beusia 18 tahun ke bawah, dengan 54 juta di antaranya berada di usia sekolah. Tetapi, menurut data TNP2K, ada sekira lima juta anak yang tidak bersekolah. Dari data tersebut menunjukkan anak-anak yang tidak pernah atau putus sekolah ini umumnya berasal dari keluarga miskin.

Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama Yayasan Sayangi Tunas Cilik mencanangkan kegiatan Kampanye Semua Anak Bisa Sekolah, sekaligus sebagai rangkaian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (HPN) 2018, peringatan tersebut juga merupakan rangkaian dari perayaan akbar Hari Pendidikan Nasional tahun ini yang dipusatkan di Lombok. Yayasan Sayangi Tunas Cilik melakukan penelitian Situasi Anak Tereksklusi di Indonesia pada 2016-2017, yang dilakukan di Provinsi Lampung, Jawa Barat, D. I. Yogyakarta, Sulawesi Selatan, NTT, Jawa Tengah, dan Sulawesi Barat, untuk mengidentifikasi anak-anak yang tereksklusi dari pendidikan di Indonesia, mengeksplorasi sifat dan bentuk eksklusi sosial dan mencari tahu faktor mendasar di balik eksklusi anak, dan hambatan diskriminatif yang dihadapi anak tereksklusi.

"Partisipasi anak di dalam penelitian tentang Situasi Tereksklusi Anak di Indonesia, adalah mutlak bagi kami. YSTC berkomitmen untuk menjadikan anak menjadi bagian yang penting bagi perubahan yang menyangkut hidup anak," ujar Selina Patta Sumbung, Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik, dalam acara Peluncuran Kampanye Semua Anak Bisa Sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Belajar

Baca Juga: Turun Takhta demi Janda hingga Anak Haram, Ini 4 Skandal Menghebohkan Royal Wedding

Selina juga mengatakan, Yayasan Sayangi Tunas Cilik juga ingin mempromosikan pentingnya mendengar suara anak dan bukan mewakili suara mereka melalui pendapat orang dewasa lain di sekitarnya. Anak-anak memilih pengalaman, pemikiran, dan suara yang wajib didengarkan.

Sementara, Tata Sudrajat, Direktur Advokasi dan Kampanye ytsc mengatakan, Anak Tereksklusi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah anak-anak yang tidak mendapat manfaat dari kemajuan global, terutama sisi layanan dasar, sepertu kesehatan dan pendidikan, akibat kombinasi dari kemiskinan dan diskriminasi.

"Salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan adalah untuk tidak membiarkan satu kelompok pun atau satu anak pun tereksklusi. Penelitian ini membantu para pihak yang membutuhkan data untuk mengidentifikasi dan memetakan anak-anak yang terkeksklusi di Indonesia," ucap Tata.

Baca Juga: Rekaman Suara "Yanny VS Laurel" Terbongkar! Orang Ini Ternyata Perekamnya dan Membongkar Apa Kata yang Paling Tepat!

Kampanye diawali oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik dengan sebuah penelitian ini, merupakan dukungan langsung terhadap kampanye global Save the Childeren International, "Every Last Child", serta Nawa Cita Presiden RI untuk memastikan cita-cita agung ini tercapai. Untuk itu, sangat diperlukan peran serta dari berbagai pihak, seperti pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, masyarakat dari berbagai lapisan, media, dan sektor lain.

"Pendidikan adalah salah satu hak dasar anak. Dengan pendidikan kita dapat membantu cegah anak dari korban kekerasan, membuat mereka lebih banyak pilihan cita-cita di masa depan," tutur Alya Nurshabrina, Miss Indonesia 2018.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini