nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kementerian PPPA: "Indonesia Darurat Pernikahan Anak!"

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 25 Mei 2018 16:24 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 25 196 1902747 kementerian-pppa-indonesia-darurat-pernikahan-anak-jgnoF9I8rA.jpg Ilustrasi (Foto: Readers Digest)

MENCUATNYA kasus kehamilan siswi SMP oleh siswa SD di Tulungagung mendapat perhatian banyak pihak. Kasus ini dianggap sebagai warning yang mesti diwaspadai dan mungkin menjadi awal terbongkarnya kasus lain yang tidak terekspos.

Kabar ini tentunya menjadi keprihatinan bangsa ini. Usia anak seperti itu selayaknya masih dalam proses pertumbuhan dengan pemenuhan pendidikan yang baik, kesehatan yang baik, pun juga masih dalam proses pematangan psikologi diri.

 Baca juga: Pria Ini Nekat Berenang Melintasi Samudera Pasifik Selama 6 Bulan

Kehamilan yang diketahui sudah berjalan 6 bulan tentunya menjadi perhatian lain yang mesti diwaspadai. Bagaimana pun, siswi SMP tersebut mengandung manusia yang sudah punya hak hidup. Alhasil, upaya pernikahan anak pun sedang ditempuh kedua belah pihak keluarga.

Tapi, bagaimana Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) menyikapi masalah ini?

Menurut Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Kementerian PPPA Rohika Kurniadi Sari, S.H. M.Si, kasus ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Banyak pihak yang bertanggung jawab mengatasi masalah ini.

Perlu Anda ketahui, kasus pernikahan anak di Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik 2016 angkanya adalah 0,5 persen. Jika Anda melihat angka ini kecil, Anda keliru.

 

"Sebaiknya kita melihatnya tidak hanya dari satu sumber. Masalah ini juga harus dilihat angka penderita kanker serviks di bawah umur, kasus kekerasan dalam rumah tangga, pun kasus perceraian usia muda. Jika itu digali, pasti akan terlihat bahwa kasus ini tidak main-main. Indonesia darurat pernikahan anak!" tegas Rohika saat ditemui di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018).

Rohika melanjutkan, karena kasus ini sangat luas cakupannya, perlu adanya penanganan serius dari berbagai aspek. Terutama dari pihak keluarga. Menurut Rohika, pada kasus pernikahan anak, keluarga menjadi pionir pertama yang harusnya menjadi benteng dari segala macam keburukan yang bisa saja terjadi.

"Saya rasa, jika keluarga sudah kuat, maka kasus seperti ini sangat minim terjadi. Perlu diketahui juga, pola asuh yang tidak matang dari orangtua sangat memengaruhi bagaimana kehidupan anak itu di lingkungannya. Jadi, sebagai orangtua, sebaiknya paham dengan baik bagaimana cara asuh anak yang tepat. Sebab, jika salah atau terjadi ketidakseimbangan, kasus seperti ini sangat mungkin bisa terjadi lagi," ungkap Rohika.

Sementara itu, dalam mengatasi masalah ini, pihaknya telah menerjunkan tim PPPA Tulungagung untuk turut terlibat memberikan pemahaman dan pengawasan kepada kedua anak tersebut. Bahkan, bisa dikatakan kedua anak ini menjadi prioritas perhatian yang tidak boleh dilepas sampai akhirnya anak tersebut lahir dan mereka menjalani kehiudan berumah tangga.

Rohika menambahkan, pihaknya juga berupaya untuk memberikan pemahaman yang logis kepada keluarga lain mengenai bahayanha pernikahan anak. "Kami tidak bisa membenerkan konstitusi atau hukum negara mengenai masalah ini, tapi kami berupaya pendekatan dengan cara yang lebih sederhana; Bu, jangan nikahkan anaknya. Emang mau rahim anaknya nanti rusak? Emang mau anaknya nanti punya masalah tidak berkesudahan sepanjang usianya?" Terang Rohika.

 Baca juga: Pria Ini Nekat Berenang Melintasi Samudera Pasifik Selama 6 Bulan

Pernyataan "Darurat Pernikahan Anak" dari Kementerian PPPA ini pun menjadi cambuk bagi setiap orangtua yang mungkin masih berpikiran bahwa menikahkan anak adalah cara terbaik menyelesaikan masalah kehidupan. Perlu Anda ketahui, pernikahan anak bukannya menyelesaikan masalah hidup si anak, malah itu menjadi gerbang kesengsaraan si anak sampai kapan pun!

Sebab, bukan hanya masa depan yang hilang, tetapi juga masalah kesehatan yang sangat berisiko kematian dan sangat berisiko diterima si anak yang menikah di usia anak.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini