nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadi Tumpuan Perekonomian, Kemenpar Cetak SDM yang Berkompeten

Fakhri Rezy, Jurnalis · Jum'at 25 Mei 2018 07:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 25 406 1902491 jadi-tumpuan-perekonomian-kemenpar-cetak-sdm-yang-berkompeten-NC6lKsNlFK.jpg Menteri Pariwisata Arief Yahya (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pariwisata akan menjadi tumpuan perekonomian Indonesia ke depan. Penegasan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo. Merespons hal tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata yang berkompeten dibidangnya.

Langkah nyata Kemenpar terlihat pada periode 2018 ini. SDM yang bergerak di Industri pariwisata disertifikasi. Pada periode Januari - 23 Mei 2018, jumlah SDM tersertifikasi sudah mencapai 25.950. Atau sekitar 35 persen dari target 75.000 orang.

 Baca juga: Catat! Ini 5 Tindakan yang Dianggap Ilegal ketika Anda Mengunjungi Eropa

“Kami terus memperbaiki mekanismenya. Serta terus mendengar masukan dari Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) pariwisata dan steakholder lainya. Untuk memperoleh hasil maksimal tentunya,” ujar Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Kemenpar Rizki Handayani Mustafa.

 Menpar Arief Yahya (Okezone)

Hal itu disampaikan saat audiensi dengan Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Bunga Rampai Restaurant, Jakarta Pusat.

Menurut Rizki, Kemenpar optimis SDM yang dimilikinya akan siap menghadapi perkembangan. Sebab, selain mensertifikasi tenaga yang sudah ada, Kemenpar juga memiliki mahasiswa pariwisata. Jumlahnya hampir 10 ribu. Tersebar di semua Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTN-P). Tepatnya di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, STP Nusa Dua Bali, Poltekpar Medan, Poltekpar Makassar dan Poltekpar Palembang.

 Baca juga: Selain Segar Buat Buka Puasa, 5 Minuman Ini Ampuh Keluarkan Racun dalam Tubuh

“Ketika penyerapannya 100 persen, tentu waktu tunggunya akan sebentar untuk sampai ke Industri. Untuk peminatnya sendiri cukup banyak. Contohnya di STP Bandung, tahun ini hanya menerima 600 kursi. Sedangkan yang daftar di gelombang pertama sudah 3000. Permintaan banyak, kebutuhan industrinya juga ada, tapi yang kurang hanyalah kapasitas sekolah,” ujar wanita yang kerap disapa Kiki itu.

Kiki menerangan, penambahan kapasitas sekolah bisa dilakukan bila diimbangi dengan penambahan dosen, khususnya dosen praktik. Sebab, sekolah pariwisata menerapkan 70 persen praktik dan 30 persen teori. Sedangkan lulusan dari sekolah pariwisata tersebut dicetak untuk siap bekerja.

“Kita kekurangan dosen praktik. Kami sadar ini tidak bisa cepat, namun tetap kami komunikasikan. Salah satu caranya dengan Recognition Prior Learning (RPL). Untuk dosen vokasi level 8 di bidang perhotelan terdapat 350 orang,” ujarnya.

 Baca juga: Berniat Liburan ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa Bali? Ketahui Serba-serbinya di Sini

Untuk membangun SDM berkelas dunia, Kiki membeberkan beberapa point penting. Diantaranya 3C. Yaitu Curriculum, Certification, Center of Excellence. Untuk menjadi kelas dunia, maka enam PTN-P di bawah Kemenpar harus memiliki kurikulum yang berstandar global. Baik lulusan, dosen, dan institusinya.

“Serta harus disertifikasi oleh lembaga global dan pretisius dan setiap PTN-P itu harus mampu memainkan peran sebagai pusat-pusat keunggulan (center of excellence) untuk bidang spesialisasinya masing-masing,” ujarnya.

 Menpar Arief Yahya (Okezone)

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga angkat bicara mengenai SDM Pariwisata. percepatan kualitas SDM pariwisata untuk mencetak tenaga profesional demi mengembangkan potensi pariwisata di Indonesia.

“Sangat penting untuk win the future customers. Karena itu sekolah perguruan tinggi pariwisata dan pelatihan SDM pariwisata sudah sangat relevan. Representasi Pentahelix ABGCM (Akademisi, Bisnis, Government, Community, dan Media) harus dipakai untuk memajukan pariwisata,” jelasnya.

Arief juga berpesan, SDM pariwisata harus menggunakan standar global yang mengacu pada standar regional atau ASEAN MRA (Mutual Recognition Arrangement). “Kalau ingin bersaing di level global, gunakan global standar juga,” ujarnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini