nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berpuasa Cara Terbaik Stop Merokok

Agregasi Antara, Jurnalis · Sabtu 26 Mei 2018 00:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 25 481 1902635 berpuasa-cara-terbaik-stop-merokok-0OmZFLBCbB.jpg

GENERASI Tanpa Rokok (Getar) Lampung menilai berpuasa di bulan suci Ramadan bukan saja menjadi ajang mencari pahala dan amalan-amalan baik, ternyata berpuasa juga merupakan cara terbaik untuk meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok.

"Mereka para perokok bisa mengurangi jumlah rokok yang diisap atau memberhentikan kebiasaan merokok di bulan Ramadan ini, dengan harapan bisa selamanya berhenti merokok," kata Endiko Agung Hardekha SKM, Ketua Getar Lampung.

Menurut Endiko, para perokok berhasil tidak melakukan kebiasaan itu selama mereka sedang berpuasa, sebab memang merokok termasuk hal yang membatalkan puasa walaupun saat berbuka dan sahur mereka merokok namun mengurangi jumlah rokok yang biasa mereka isap.

Endiko menambahkan, untuk para perokok dan generasi yang tidak merokok lebih baik uangnya kita kumpulkan dan dimanfaatkan pada bulan suci Ramadhan untuk beramal.

"Donasikan uang itu untuk berbuka bersama di panti asuhan dan menyosialisasikan bahaya merokok, terlebih dari kami belum mempunyai donatur dan mengajak para relawan bisa berbagi dan berkolaborasi dengan Getar Lampung dalam momen ini," katanya lagi.

(Baca Juga: Ingin Tampil Cantik dengan Harga Terjangkau saat Lebaran? Milenial Harus Lihat Koleksi Ini)


Di tempat berbeda, anggota Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Darmawan Budi Setyanto mengatakan tidak ada kata aman untuk paparan asap rokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif.

"Rokok jelas berbahaya bagi perokok, itu urusan mereka. Jadi masalah bagi orang-orang di sekitarnya yang menjadi perokok tangan kedua maupun ketiga," kata Darmawan dalam seminar media yang diadakan PP IDAI di Jakarta.

Darmawan mengatakan terdapat tiga tipe perokok, yaitu perokok aktif yang disebut perokok tangan pertama dan perokok pasif yang terdiri dari perokok tangan kedua dan tangan ketiga. Perokok tangan kedua adalah perokok pasif yang terkena paparan asap rokok karena berada di sekitar perokok.

Sedangkan perokok tangan ketiga adalah perokok pasif yang terkena paparan asap rokok dari endapan yang menempel pada badan, pakaian maupun barang-barang yang ada di dalam ruangan yang digunakan untuk merokok.

"Asap rokok akan menempel dan mengendap di badan, pakaian dan perabot-perabot di sekitar seperti sofa atau korden. Endapan yang bisa bertahan selama beberapa pekan itu terus memancarkan racun yang tidak kalah berbahaya dengan asap rokok," tuturnya.

(Baca Juga: Gemasnya, Anak Kucing Bermata Bulat Sedang Ngempeng!)


Karena itu, Darmawan menyebut bahaya yang mengintai para perokok tangan ketiga itu sebagai "bahaya yang terselubung" karena tidak terlihat. "Dampaknya terutama terhadap janin dan anak-anak, yaitu bisa memengaruhi tumbuh kembangnya. Dampaknya tidak kalah mengerikan dibandingkan perokoknya langsung," katanya.

Menurut Darmawan, semakin muda janin di dalam kandungan terkena paparan asap rokok maka dampaknya semakin terlihat di masa depan.

Ketua Bidang Organisasi PP IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) mengatakan bayi dari ibu hamil yang merokok lebih berisiko mengalami kelainan jantung bawaan.

"Ibu hamil yang merokok 44 persen lebih berisiko memiliki anak dengan defek septum daripada yang tidak merokok," kata Piprim.

Defek septum ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang di dinding pemisah antara bilik kanan dan bilik kiri jantung. Pada kebanyakan kasus, defek septum ventrikel muncul di bagian bawah katup aorta.

Piprim mengatakan tidak ada bukti signifikan terhadap hubungan dosis respon antara kebiasaan merokok pada ibu hamil dengan penyakit jantung bawaan secara keseluruhan pada anak keturunannya. "Satu-satunya bukti terdapat efek dosis respon ditunjukkan pada defek septum," ujarnya.

Menurut Piprim, 11 persen ibu dari anak dengan penyakit jantung bawaan memiliki kebiasaan merokok selama hamil. Karena itu, mengurangi kebiasaan merokok selama hamil dapat memperbaiki luaran reproduksi dan berkontribusi terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.

Penyakit jantung bawaan merupakan penyakit yang serius dan berdampak besar, yaitu rawat inap dan tindakan berulang di rumah sakit. "Salah satu pemicu penyakit jantung bawaan adalah ibu perokok dan paparan terhadap tembakau. Efek samping dari paparan tembakau adalah lahir prematur, kelainan bawaan lain dan lahir mati atau keguguran," tuturnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini