nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Candaan soal Bom dan Perempuan Mengaku Teman Teroris, Psikolog: Mereka Pencari Perhatian Publik!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 28 Mei 2018 12:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 28 196 1903628 viral-candaan-soal-bom-dan-perempuan-mengaku-teman-teroris-psikolog-mereka-pencari-perhatian-publik-Sf0LLcKDb1.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

BELUM lama ini mencuat kabar viral di mana seorang perempuan berhijab hitam menantang polisi khusus kereta api. Dalam video tersebut, si perempuan dengan lantangnya mengaku bahwa dia adalah teman seorang teroris yang belum lama ini membuat gaduh Indonesia.

Kemudian, jika Anda masih ingat, di media sosial juga sempat beredar kabar mengejutkan dari anggota DPRD Banyuwangi yang candaannya sampai membuat banyak pihak kaget. Bagaimana tidak, secara mendadak, dia menjelaskan bahwa tas yang dibawa temannya itu berisikan bahan peledak!

Dua kasus ini menjadi sangat mengkhawatirkan di mana Indonesia sekarang sedang ramai membahas permasalahan ini. Peristiwa bom bunuh diri di Surabaya tentunya menjadi catatan kelam bagi bangsa ini dan dua isu di atas pun menjadi perbincangan karena ada peristiwa bom sebelumnya.

 Baca juga: Midnight Sale di Jakarta untuk Berburu Baju Lebaran, Catat Tanggalnya!

Ilustrasi Teroris

Nah, menyikapi hal ini, Psikolog Meity Arianty, STP, M.Psi. menjelaskan, mereka-mereka itu adalah pencari perhatian publik. Para pelaku seperti ingin menjadi pusat perhatian dan mereka seperti ingin menunjukkan kebebasan dalam bertindak. Ini tidak lepas dari persepsi salah, di mana mereka beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar dan malah bisa membuat ramai banyak pihak.

Psikolog yang biasa disapa Mei ini juga menuturkan bahwa para pelaku yang dengan gampangnya melakukan tindakan tersebut biasanya disebabkan oleh minimnya keterampilan interpersonal. "Orang-orang seperti ini ingin bisa diterima di lingkungan sosial, makanya mereka melakukan tindakan yang bisa menarik perhatian, yang kemudian media sosial bisa menyebarkannya dan membuat viral. Poin pentingnya, mereka dibicarakan banyak orang," terang Mei pada Okezone Senin (28/5/2018).

Orang-orang yang bersikap seperti ini juga, sambung Mei, biasanya mengharapkan kekaguman dari banyak orang. Tak hanya itu, ada juga beberapa pelaku yang melakukan perbuatan "jahil" tersebut karena itu bagian dari kesenangan diri sendiri, terlebih saat dia bisa membuat orang-orang merasa terganggu atau bahkan merasa takut pada dirinya.

 Baca juga: Turun Takhta demi Janda hingga Anak Haram, Ini 4 Skandal Menghebohkan Royal Wedding

Lebih jauh lagi, Mei mengungkapkan bahwa maraknya kejadian seperti ini tidak lepas dari peran media. Dia mencontohkan kasus serupa dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Prof. Philips dari University of California, San Diego, bahwa sang profesor pernah mengumpulkan berita bunuh diri yang dimuat di media massa.

Penelitian tersebut membuahkan hasil bahwa ternyata ada korelasi positif antara pemberitaan media massa tentang bunuh diri di daerah penyebaran berita tersebut dengan kasus bunuh diri itu sendiri. Semakin besar jangkauan atau wilayah peredaran beritanya, maka wilayah orang yang melakukan bunuh diri pun semakin meluas.

Nah, dua berita di atas juga tidak lepas dari pemberitaan di media massa. Berita di media massa seolah memberikan sebuah inspirasi pada pembacanya, inspirasi cara menyelesaikan masalah, memberikan sebuah pembenaran bahwa suatu cara boleh ditempuh.

Mei mengambil kasus candaan anggota DPRD akan tas berisi bom. Menurut Mei, terlepas dari apa motif sesungguhnya, secara logika, kejahilan yang berujung pada suatu dampak negatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri.

Sementara itu, selain media massa, lingkungan sekitar pelaku juga sangat memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Misalnya Anda menerobos lampu merah karena pengendara lain melakukan hal serupa. "Kita jadi latah untuk berani melakukannya karena orang lain pun melakukan hal serupa. Efek penularan seperti itu bukan sesuatu yang rasional atau terjadi secara sadar. Penyebarannya tidak bersifat persuasif, tetapi lebih tersamar," ungkap Mei.

 Baca juga: 6 Gaun Pengantin Paling Ikonik Sepanjang Masa

Dari paparan tersebut, Mei menyimpulkan bahwa, hal yang paling penting sekarang adalah masyarakat harus lebih bijaksana dalam melihat atau membaca berita yang ada. Menyaring berita yang ingin diketahui adalah cara yang paling sederhana untuk menjauhkan Anda dari pikiran-pikiran dan perilaku negatif.

"Tidak jarang berita yang kita baca atau lihat itu menimbulkan kecemasan dan ketakutan tersendiri di dalam diri dan efeknya bisa panjang," tutur Mei.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini