nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waisak, Para Biksu Asing Diajak Keliling Borobudur dan Yogyakarta

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 28 Mei 2018 04:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 28 406 1903479 waisak-para-biksu-asing-diajak-keliling-borobudur-dan-yogyakarta-NmS8EVDZ77.jpg Borobudur (Foto: Wisata Handal)

JAKARTA - Kementerian Pariwisata menyelenggarakan Familirization Trip (Famtrip) Vesak Day 2562 BE dengan mengundang 16 Pemuka Agama Budha (Monk) dan media (jurnalis) dari Thailand dan Vietnam.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar I Gde Pitana mengatakan kegiatan perjalanan wisata pengenalan (famtrip) obyek wisata di kawasan Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah dan Yogyakarta, akan berlangsung selama 6 hari dari 27 Mei hingga 1 Juni 2018.

"Kegiatan famtrip diselenggarakan dengan bekerja sama KBRI Hanoi, Vietnam serta perwakilan Bhante dari Indonesia. Ini merupakan upaya mempromosikan pariwisata Indonesia melalui perayaan Waisak 2018 yang dirayakan oleh umat Buddha di Indonesia dan dari seluruh dunia yang di pusatkan di Kompleks Candi Borobudur pada 29 Mei 2018," katanya.

Ia menambahkan, kegiatan famtrip yang diselenggarakan saat perayaan Hari Waisak 2562 BE itu sebagai upaya mempromosikan Candi Borobudur dan sekitarnya kepada para monk dan pengikutnya; komunitas umat Buddha, dan para jurnalis dari Thailand dan Vietnam guna meningkatkan kunjungan umat Budha sebagai wisman datang ke Indonesia.

"Peserta Famtrip Vesak Day 2562 BE, terdiri dari 6 jurnalis, 9 monk dari Thailand dan Vienam, dan satu pendamping dari KBRI Hanoi, akan mengunjungi obyek wisata di sekitar Borobudur Magelang dan Yogyakarta," katanya.

Beberapa destinasi yang akan dikunjungi antara lain Candi Borobudur, Prambanan, Sewu, dan Ratu Boko, Desa Wisata Candirejo, Omah Kecebong Tourism Village, Keraton dan Taman Sari Yogyakarta, serta Malioboro.

Perjalanan wisata pengenalan perayaan Waisak dimulai dengan prosesi arak-arakan dari pelataran Candi Mendut yang terbagi dalam tiga tahapan yaitu pertama, pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.

(Baca Juga: Midnight Sale di Jakarta untuk Berburu Baju Lebaran, Catat Tanggalnya!)


Kedua, ritual Pindapatta, yaitu pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/bhiksu oleh masyarakat (umat) untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan kebajikan.

Ketiga, ritual Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama dengan penentuan bulan purnama berdasarkan perhitungan falak sehingga puncak purnama bisa terjadi pada siang hari.

Api Waisak

Prosesi penyemayaman api dharma Waisak 2018 telah dilakukan para biksu sangga Perwakilan umat Budda Indonesia pada Minggu sore. Dalam prosesi secara khidmat itu, para biksu juga diiringi ratusan umat Buddha, termasuk Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya, Direktur Urusan Agama Buddha Kementerian Agama Supriyadi, dan Ketua Walubi Jateng David Hermanjaya.

Api dharma Waisak dari Mrapen, Kabupaten Grobogan tiba di pelataran Candi Mendut sekitar pukul 15.00 WIB. David secara simbolis menyerahkan api tersebut kepada Hartati Murdaya dan kemudian diberikan kepada para biksu untuk disemayamkan di Candi Mendut.

Para biksu bersama umat Buddha kemudian berpradaksina atau berjalan kaki mengelilingi candi tersebut tiga putaran, dan selanjutnya meletakkan api dharma di dalam candi tersebut.

Mereka kemudian menuju ke tenda di pelataran Candi Mendut untuk menyalakan lilin pancawarna. Di depan altar besar dengan patung Sang Buddha dan hiasan aneka bunga dan buah-buahan di tenda itu, mereka secara bergantian membacakan parita atau doa-doa dalam ajaran Buddha.

Api dharma sebagai salah satu sarana pujabakti Waisak yang akan dilaksanakan umat Buddha di Candi Borobudur saat Hari Waisak yang jatuh pada Selasa (29/5).

Hartati Murdaya mengatakan api menjadi lambang penerangan batin umat Buddha dalam menjalani kehidupan sehari-hari. "Dalam ajaran Buddha, dengan penerangan batin, kita diharapkan dapat melangkah ke depan melalui jalan yang benar, mengikis ego, keserakahan, dan kebodohan, karena hal-hal itu yang menjadi bagian dari kegelapan batin yang membelenggu manusia setiap waktu," kata dia.

Rohaniwan Buddha Biksu Wongsin Labiko Mahathera mengemukakan tentang pentingnya umat mengikuti seluruh rangkaian pujabakti Waisak. "Dengan pujabakti kita memperoleh kebijaksanaan, menjadi orang yang penuh cinta kasih, dan sempurna dengan kemakmuran dalam materi," ujar dia.

Hari Trisuci Waisak dilakukan umat Buddha untuk merayakan tiga peristiwa penting dalam ajaran Buddha, yakni kelahiran Sidharta Gautama, Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, dan wafat Buddha Gautama.

Supriyadi mengapresiasi seluruh rangkaian perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur yang dilakukan umat Buddha Indonesia. Ia mengharapkan umat Buddha menjadikan api dharma Waisak sebagai penyulut spirit untuk terus memperkuat keyakinannya.

"Mudah-mudahan api dharma ini menjadi spirit untuk tetap berkeyakinan dengan Buddha Dharma. Dengan bersemayam dharma, umat Buddha Indonesia taat beragama dan taat sebagai warga negara, dan terus berkarya mengabdikan diri bagi bangsa dan negara," katanya.

Rencananya para biksu dan umat Buddha melakukan pengambilan air berkah Waisak di Umbul Jumprit Kabupaten Temanggung untuk dibawa dan disemayamkan di Candi Mendut pada Senin (28/5). Air berkah itu juga salah satu sarana pujabakti Waisak.

Pada Hari Waisak, Selasa (29/5) umat akan berjalan kaki dari Candi Mendut ke Candi Borobudur sejauh sekitar tiga kilometer dengan membawa berbagai sarana pujabakti itu. Saat detik-detik Waisak pada pukul 21.19.13 WIB, umat Buddha bersama para biksu bermeditasi selama beberapa saat di pelataran Candi Borobudur.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini