nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencicipi Nasi Boran, Kuliner Asli Lamongan yang Ada sejak Masa Penjajahan

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 01 Juni 2018 17:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 01 298 1905442 mencicipi-nasi-boran-kuliner-asli-lamongan-yang-ada-sejak-masa-penjajahan-qZwZ0b8zps.jpg Nasi Boran asli Lamongan (Foto: Avirista/Okezone)

NAMA kuliner ini mungkin tak setenar soto ayam atau tahu campurnya yang masih berasal dari satu daerah yakni Kabupaten Lamongan.

Ya Sego Boran atau yang dalam bahasa Indonesia berarti nasi boran, memang tak sepopuler Soto Lamongan dan Tahu Campur Lamongan. Namun siapa sangka justru makanan inilah yang menjadi warisan nenek moyang, bahkan sejak zaman masa penjajahan. Salah seorang penjual nasi boran, Suparni mengatakan nasi boran merupakan kuliner khas asli Lamongan yang sudah ada sejak dahulu.

"Mbah saya waktu tahun 1940-an sudah buat ini. Ya dulu makanan rakyat di waktu masa penjajahan. Saya dapat membuat ini juga warisan resep dari almarhumah nenek dan ibu," ujarnya saat ditemui Okezone.

Nasi boran sebenarnya hanya berupa nasi biasa dengan bumbu layaknya bumbu bali namun lebih komplet ditambah dengan ketumbar. Satu lagi yang membedakan dengan bali yakni ada kandungan kelapa yang diparut sehingga bumbu terlihat kental.

Lalu dari mana nama boran diambil? Boran merupakan sebutan tempat nasi yang digunakan menaruh nasi dalam penyajian bersama bumbu dan lauknya.

Nasi Boran

Tempat nasi ini terbuat dari anyaman bambu layaknya wakul dengan kapasitas besar. Nasi yang disajikan atau dijajakan akan ditaruh tempat tersebut. Satu wadah menurut Suparni mampu menampung maksimal 10 kg nasi.

"Ya istilahnya kalau sekarang wakul tapi ukurannya jumbo terbuat dari anyaman bambu. Orang Lamongan menyebutnya Boranan. Ya namanya jadi nasi boran," tukas perempuan yang berjualan sejak tahun 1982 ini.

Ia menambahkan dulu lauknya hanya berupa tempe, tahu, telur, atau ayam kampung. Namun seiring perkembangan zaman ada penambahan lauknya.

"Ya kalau nasi boran lauknya sekarang lebih variatif. Ada udang, telur, tahu, peyek kacang, hati ayam, dan ikan bandeng," beber perempuan 52 tahun ini.

Nasi Boran

Selain lauk di atas ada beberapa lauk yang khas jarang ditemukan di daerah luar Lamongan. Lauk tersebut yakni gimbal empuk, pletuk dan ikan sili. Gimbal empuk merupakan makanan berbentuk bulat yang terbuat dari tepung terigu dan bumbu lainnya dan memiliki rasa gurih. Sedangkan Pletuk merupakan kacang kedelai yang di sangrai dan di tumbuk halus.

Pada penyajiannya pun nasi boran terbilang cukup unik, tak ada nasi boran yang disajikan dalam piring. Penyajian nasi boran pada umumnya pada selembar kertas minyak dilapisi daun pisang kemudian dibentuk kerucut.

Dalam sehari Suparni sendiri memerlukan maksimal 10 kg beras mengingat kapasitas 'boran' maksimal 10 kg nasi. Namun bila sepi ia hanya menyiapkan 5 kg beras yang dapat memproduksi 5 kg nasi.

Nasi Boran

Perempuan yang sehari - hari berjualan di selatan Kantor Pemkab Lamongan tepatnya di pertigaan bawah pohon beringin Jalan KH Achmad Dahlan ini, mengaku dari porsi nasi tersebut bila ramai mampu menjual hingga 100 bungkus.

"Kalau lagi ramai 100 bungkus laku. Terlebih kalau liburan biasanya malah masak nasi dan lauknya lagi karena kurang. Ya kalau puasa gini kan orang - orang banyak yang buka puasa di masjid malamnya juga sahur di rumah,jadi ya turunlah," tuturnya sambil tersenyum.

Dirinya menambahkan saat sepi layaknya puasa di Bulan Ramadan ini ia masih dapat menjual 70 - 80 bungkus dalam seharinya.

"Saya jualan dari jam 20.00 WIB sampai 03.00 WIB. Kalau tidak puasa jualan mulai jam 14.00 WIB sampai 02.00 WIB," ungkapnya, Kamis malam (31/5/2018).

Penjual Nasi Boran

Seorang pelanggan, Suharno mengungkapkan hampir tiap hari dirinya dan sang istri membeli nasi boran ini.

"kebetulan malam ini istri minta dibelikan. Nanti sahur biasanya ya beli lagi," jelas pria 62 tahun ini.

Nah bagi anda yang ingin menyantap nasi boran ini tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Untuk satu porsinya dengan isi nasi, tahu, peyek kacang, telur, dan bumbu anda cukup merogoh kocek Rp 8.000.

Tentu harga akan berbeda bila anda menggunakan lauk yang tergolong musiman layaknya ikan sili dan ikan kuthuk. Namun jangan khawatir kantong anda akan terkuras. Maksimal satu porsi nasi boran dapat dinikmati dengan harga Rp 15.000.

"Ya kisarannya antara Rp 8.000 sampai Rp 20.000 lah. Kalau saya jualnya dari Rp 8.000 hingga Rp 15.000 yang termahal," lanjut Suparni kembali.

Lauk Nasi Boran

Di Lamongan sendiri terdapat beberapa tempat - tempat yang menjual nasi boran. Bila anda melintasi Kota Lamongan pada sore hingga malam hari akan menjumpai sejumlah penjual nasi boran di trotoar di selatan Jalan Raya Lamongan - Surabaya.

Namun bila tak ingin asap kendaraan mengganggu anda menikmati makanan, anda bisa mencari pedagang nasi boran di kawasan sepanjang Jalan KH Achmad Dahlan tepatnya di selatan Kantor Pemkab Lamongan.

"Kalau zaman dahulu jualannya di dalam kampung. Tapi saat ini diizinkan di pinggir jalan. Karena untuk melestarikan juga kuliner asli Lamongan ini," pungkasnya.

Jadi buat apa tunggu lama, jika kalian yang melintasi Lamongan maupun mengunjungi sanak keluarga maupun rekan, tak ada salahnya mencicipi kuliner nasi boran yang legendaris asli Lamongan ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini