nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

4 Perubahan pada Tubuh saat Berpuasa Ini Menandakan Kamu Kekurangan Vitamin

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 02 Juni 2018 14:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 02 481 1905682 4-perubahan-pada-tubuh-saat-berpuasa-ini-menandakan-kamu-kekurangan-vitamin-BKwgycXU3T.jpg Ilustrasi (Foto: Stylecaster)

SAAT berpuasa, tubuh Anda diminta untuk beristirahat dalam waktu tertentu. Kondisi ini terjadi karena Anda mengosongkan perut dari makanan dan minuman.

Pada proses ini, sangat penting bagi Anda untuk memerhatikan asupan makanan saat sahur dan berbuka. Ketika Anda asal dalam memilih menu, maka itu akan langsung berimbas pada kesehatan dan kekuatan tubuh Anda.

Nah, saat tubuh Anda kekurangan zat gizi dan nutrisi, tubuh akan mengomunikasikannya dalam bentuk tanda yang biasanya diikuti dengan kondisi tubuh yang kurang menyenangkan. Dilansir dari Health Line, Sabtu (2/6/2018), berikut 5 tanda bahwa tubuh Anda kekurangan vitamin saat berpuasa

 

1. Rambut dan kuku rusak

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan rambut dan kuku Anda rusak atau rapuh. Salah satunya adalah kurangnya biotin.

Biotin, juga dikenal sebagai vitamin B7, yang mana vitamin ini membantu tubuh Anda mengubah makanan menjadi energi. Kondisi kekurangan biotin sangat jarang, tetapi ketika itu terjadi, tanda yang bisa dikenali adalah terjadinya kerapuhan, rambut menipis, atau kuku yang rusak.

Gejala lain dari kekurangan biotin juga termasuk kelelahan kronis, nyeri otot, kram, dan kesemutan di tangan dan kaki. Salah satu penyebab lain kekurangan biotin adalah makan putih telur mentah. Itu terjadi karena putih telur mentah mengandung avidin atau protein yang mengikat biotin dan dapat mengurangi penyerapannya.

Nah, untuk mengatasi risiko ini, Anda disarankan untuk konsumsi makanan kaya biotin termasuk kuning telur, daging organ, ikan, daging, susu, kacang, biji, bayam, brokoli, kembang kol, ubi jalar, ragi, biji-bijian, dan pisang saat berbuka atau saat sahur.

2. Bermasalah pada mulut

Ketika Anda mengalami lesi di dalam dan di sekitar mulut, itu mungkin terkait dengan asupan vitamin atau mineral tertentu yang tidak tercukupi. Misalnya sariawan, masalah ini sering terjadi akibat dari kekurangan vitamin besi atau B.

Satu studi kecil mencatat bahwa pasien yang menderita ulkus mulut tampaknya dua kali lebih mungkin memiliki kadar zat besi rendah. Dalam studi kecil lainnya, sekitar 28% pasien dengan ulkus mulut mengalami kekurangan pada thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), dan pyridoxine (vitamin B6).

Angular cheilitis atau suatu kondisi yang menyebabkan sudut mulut retak, pecah, atau berdarah, dapat disebabkan oleh kelebihan air liur atau dehidrasi. Namun, ini juga mungkin disebabkan oleh asupan zat besi dan vitamin B yang tidak mencukupi, terutama riboflavin.

Untuk mengatasi masalah ini, Anda disarankan untuk memperbanyak asupan makanan kaya zat besi seperti daging ayam, daging sapi, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau gelap, dan biji-bijian.

3. Gusi berdarah

Kadang-kadang teknik menyikat gigi yang kasar dapat menyebabkan akar dari gusi berdarah. Tapi, ada kondisi lain juga yang menyebabkan gusi berdarah yaitu kurangnya vitamin C. Vitamin ini memainkan peran penting dalam penyembuhan luka, kekebalan, dan bahkan bertindak sebagai antioksidan atau membantu mencegah kerusakan sel.

Tubuh manusia tidak membuat vitamin C sendiri, yang berarti satu-satunya cara untuk mempertahankan jumlah kadar baiknya adalah dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang kaya Vitamin C, seperti makan buah dan sayuran segar.

Konsekuensi serius lain dari defisiensi vitamin C yang parah adalah scurvy, yang menekan sistem kekebalan tubuh, melemahkan otot dan tulang, dan membuat orang merasa lelah dan lesu. Tanda-tanda umum lain dari defisiensi vitamin C termasuk mudah memar, penyembuhan luka yang lambat, kulit bersisik kering, dan sering mimisan.

Pastikan untuk mengonsumsi vitamin C dalam jumlah yang cukup dengan makan setidaknya 2 buah saat sahur dan 3-4 porsi sayuran setiap berbuka dan sahur.

 

4. Ketombean

Dermatitis seboroik (SB) atau ketombe adalah bagian dari gangguan kulit yang sama yang mempengaruhi area penghasil minyak di tubuh Anda. Keduanya melibatkan kulit yang gatal dan mengelupas. Ketombe sebagian besar terbatas pada kulit kepala, sedangkan dermatitis seboroik juga dapat muncul pada wajah, dada bagian atas, ketiak, dan selangkangan.

Kemungkinan gangguan kulit ini tertinggi dalam tiga bulan pertama kehidupan, selama pubertas dan di pertengahan masa dewasa. Studi menunjukkan bahwa kedua kondisi ini juga sangat umum. Hingga 42% bayi dan 50% orang dewasa dapat menderita ketombe atau dermatitis seboroik pada satu titik atau lainnya.

Ketombe dan dermatitis seboroik dapat disebabkan oleh banyak faktor, dengan pola makan yang rendah gizi salah satunya. Misalnya, kadar seng, niasin (vitamin B3), riboflavin (vitamin B2) dan piridoksin (vitamin B6) dalam darah rendah masing-masing dapat berperan.

Hubungan yang tepat antara pola makan yang rendah nutrisi dan kondisi kulit ini tidak sepenuhnya dipahami. Namun, orang yang menderita ketombe atau dermatitis seboroik mungkin ingin mengkonsumsi lebih banyak nutrisi ini.

Makanan kaya niacin, riboflavin, dan pyridoxine termasuk gandum utuh, unggas, daging sapi, ikan, telur, susu, daging organ, kacang polong, sayuran hijau, sayuran bertepung, kacang, dan biji-bijian bisa jadi pilihan yang tepat. Makanan laut, kacang-kacangan, susu, dan biji-bijian juga menjadi sumber seng yang baik.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini