nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nuansa Ramadan di Pesantren Tuna Netra, Dekat dengan Tuhan Meski Dalam Kegelapan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 04 Juni 2018 10:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 04 196 1906331 nuansa-ramadan-di-pesantren-tuna-netra-dekat-dengan-tuhan-meski-dalam-kegelapan-nRos4Fr76Q.jpg Pesantren Tuna Netra (Sukardi/Okezone)

TERDENGAR samar-samar dari luar bangunan bercat putih lantunan Al Quran. Meski terbata-bata, pelafalan setiap ayat suci tersebut sudah cukup baik. Hati siapa yang mendengar pun akan merasakan kedamaiannya.

Menengok ke dalam bangun yang berlokasi di Jalan H Jamat, Gang Rais, Nomor 10, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, beberapa anak muda sedang duduk berbaris meletakkan tangannya di atas sebuah buku yang tidak berkata. Buku yang tidak menampilan huruf dan angka dalam warna hitam seperti yang biasanya Anda lihat di toko buku kenamaan.

 Baca juga: Hal Kekinian Anak Milenial, Mana yang Biasa Kamu Lakukan?

Ya, anak muda ini sedang melantunkan ayat Al Quran dari kitab suci yang dituliskan dalam huruf brailer atau huruf yang dibuat khusus untuk mereka yang tidak diberikan nikmat penglihatan secara sempurna.

Suara anak-anak ini terdengar lantang dan jelas. Ya, meski pun ada beberapa yang masih terbata-bata, namun, secara keseluruhan, apa yang mereka lantunkan sangat indah. Tentunya dengan cara mereka meraba setiap simbol yang ada di buku putih yang ternyata itu adalah Al Quran ala mereka.

Satu hal yang membuat Okezone terkesima saat melihat anak-anak pesantren Yayasan Raudlatul Makfufin ini melantunkan Al Quran, jari mereka sangat bersih. "Tangan anak-anak ini bercahaya. Dari tangannya itu, mereka bisa dekat dengan Allah SWT," terang salah satu tamu pesantren Lisvi, saat ditemui Okezone di lokasi.

 Baca juga: Malangnya Anjing Ini, Dikirim via Ekspedisi Malah Tewas Mengenaskan di Pesawat

Di kesempatan ini, Okezone bertemu dengan salah seorang pengurus pesantren, Rafik Akbar namanya. Pria ini sangat bersemangat sekali saat Okezone tiba di tempatnya. "Ini waktunya anak-anak belajar Fiqih, tapi, gurunya belum sampai. Nah, biasanya anak-anak menyempatkan waktu untuk membaca Al Quran," terang Rafik dengan ramah.

Jika diperhatikan, cara santri ini membaca Al Quran sangat berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Hal pertama yang menjadi perhatian adalah mereka membaca Al Quran dari kiri ke kanan. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan Al Quran pada biasanya yang dibaca dari kanan ke kiri.

Ada penjelasan khusus kenapa hal ini bisa terjadi. Bukan, bukan sesuatu yang salah. "Al Quran Brailer dibuat secara khusus. Kitab suci khusus untuk para tuna netra ini dicetaknya di belakang kertas utama. Nah, para santri itu membaca brailer dari arah sebaliknya, karena mereka harus meraba setiap simbol yang tertera di kertas tersebut," terang salah seorang pendiri sekaligus Kepala Pembina Yayasan Raudlatul Makfufin Ahmad Joni Watimena.

Bicara mengenai aktivitas pesantren tuna netra pertama di Indonesia di bulan Ramadan, Joni menjelaskan bahwa para santri biasanya punya jadwal yang berbeda dari bulan biasanya. "Berhubung sudah masuk libur sekolah juga, makanya para santri tidak lagi ada kelas belajar. Di bulan Ramadan seperti ini, mereka lebih banyak belajar agama dan mendekatkan diri pada Allah SWT," sambung Joni.

Ya, membaca Al Quran dan menghafalnya sudah menjadi aktivitas setiap hari para santri di pesantren yang juga memproduksi Al Quran Brailer untuk Indonesia mau pun negara lainnya. Seperti yang diceritakan salah satu santri Rovan Januariza.

 Baca juga: Viral! Foto Mona Lisa 'Kabur' dari Lukisannya

Pria berusia 18 tahun itu menjelaskan bahwa setiap dua minggu sekali, dia dan teman-teman lainnya diminta untuk melaporkan hafalan Al Quran pada Ustadz Ali Hudaibi.

"Alhamdulillah, selama belajar di sini sejak Agustus 2017, saya sudah hafal 3 juz. Masih jauh perjalanan saya menghafal Al Quran, tapi saya terus berusaha untuk bisa menghafal seluruh juz dan mengajarinya kepada teman-teman. Menghafal Al Quran sudah seperti kebiasaan yang membuat saya bahagia," terang Rovan lantas tersenyum.

Rovan juga menjelaskan bahwa di pesantren ini, dia diajari banyak hal lain. Sebut saja massage, bermain musik, marawisan, dan berdagang. Semuanya itu dia lakukan dengan perasaan senang dan dengan niat untuk bisa bermanfaat bagi banyak orang.

"Kami di sini belajar berdagang juga. Salah satu produk yang kami buat adalah lada bubuk. Alasan khususnya ialah lada bubuk itu awet lama dan mudah untuk diproduksi. Lada ini disebar di warung-warung deket sini. Ya, kami penginnya di jual sampai ke supermarket, tapi perizinannya masih diproses, makanya belum bisa disebar luas. Ya, intinya, kami senang bisa berkontribusi untuk masyarakat luas," tambah Rovan bersemangat.

Produksi Al Quran Brailer

Ahmad Joni Watimena menjelaskan bahwa dulu untuk memiliki Al Quran Brailer sangat susah. Bahkan, menurut penjelasan Joni, yayasannya di awal-awal berdirinya itu hanya memiliki 3 juz yang cetakannya dari Yogyakarta dengan kertasnya plastik.

Dari masalah tersebut, akhirnya muncul ide untuk mencetak Al Quran Brailer sendiri."Pertama kali kita dapat bantuan dari Almh. Ainun Habibi pada 2000. Kita dapat 70 juta untuk membeli printer kecil. Dari situ kemudian kita kembangkan," terang Joni.

Baca juga: 10 Perempuan Muslim Cantik dan Terkaya di Dunia

Sejak adanya printer kecil itu, akhirnya yayasan ini terus memproduksi Al Quran Brailer hingga akhirkan bisa sampai sekarang. Perlu Anda ketahui, Al Quran Brailer produksi yayasan ini sudah dieksplor hingga Australia, Jepang, sampai Lebanon.

"Kami tidak mengomersilkan Al Quran ini, jadi Al Quran ini dibeli dari wafat para donatur dan para teman tunanetra yang pengin, mereka hanya dibebankan ongkos kirimnya. Ya, ini juga sebagai edukasi dan kami ingin itu dijadikan tanggung jawab teman-teman tuna netra yang sudah memiliki Al Quran Brailer," ungkap Joni.

Baca juga: Ingin Berat Badan Tetap Ideal saat Lebaran? Ini Cara Bakar Lemak Anda

Terkait dengan produksi, Yayasan Raudlatul Makfufin perhari biasanya mencetak 3 set Al Qurat. 1 set Al Quran ini terdiri dari 30 juz. Jadi, bisa dikatakan, dalam sehari, produksi Al Qurannya adalah 90 items. Ya, Al Quran Brailer itu dicetak per juz bukan dalam satu buku seperti Al Quran pada umumnya. "Kalau Al Quran orang biasa digenggang sudah cukup, Al Quran teman tuna netra harus punya rak sendiri untuk menyimpan 30 juz Al Quran mereka," kata Joni sedikit bercanda.

Sementara itu, terkait dengan produksi Al Quran, Joni menuturkan bahwa dari uang wakaf para donatur terselip uang operasional yayasan. Namun, sekali lagi, Al Quran ini bukan barang komersil, Jadi, produksi ini bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi menjadi wadah dan fasilitator para teman tuna netra untuk bisa mendekatkan diri pada Allah SWT dengan membaca Al Quran.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini