nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masjid Terapung Banten Bakal Jadi Daya Tarik Wisata Religi

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 05 Juni 2018 13:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 05 406 1906778 masjid-terapung-banten-bakal-jadi-daya-tarik-wisata-religi-yQHtjAYVPG.jpg Foto: Kabar Banten

SERANG - Masjid Terapung Banten (MTB) yang berlokasi di Kampung Cibeureum, Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, akan menjadi masjid terapung terbesar di dunia dengan luas 17.000 meter persegi.

MTB akan dilengkapi berbagai fasilitas, seperti 300 kamar penginapan serta restoran khas makanan Banten. MTB diharapkan menjadi pusat acara religi, bahkan MTB diharapkan menjadi .ikon Provinsi Banten dalam mengembangkan wisata religi Indonesia.

Saat ini proyek yang digagas sejak 2014 itu pembangunannya baru mencapai 20%. Wakil Ketua Panitia Pembangunan MTB Embay Mulya Syarif memastikan pembangunan MTB sudah tidak ada kendala. Dia mengakui terhambatnya pembangunan lantaran masjid dibangun di atas bibir pantai yang membuat panitia sempat kewalahan. Namun, pihaknya sudah menemukan solusi kekurangan proyek berkat masukan dari beberapa konsultan.

“Sekarang tinggal pekerjaan yang gampang. Yang sulitnya sudah lewat semua. Sudah dipancang, lantainya juga sudah dicor. Tinggal bangun dindingnya saja. Konstruksi masjid terapung sudah 20%,” ujar Embay kemarin.

Lebih lanjut, Embay menjelaskan, persoalan yang dihadapi panitia MTB jauh berbeda ketika mulai menggarap rancangan awal. Untuk mencari lahannya saja panitia kewalahan karena tidak menemukan lahan cocok sesuai spesifikasi pembangunan MTB. “Kami cari lahannya setengah mati. Lahan pertama sengketa. Terus yang kedua kemahalan. Nah , ini lokasi yang ketiga akhirnya disepakati panitia,” ujarnya.

[Baca Juga: Potret Ngabuburit di Sekitar Masjid Agung Serang]

Namun, panitia MTB kembali kebingungan karena anggaran yang tersedia belum sesuai kebutuhan untuk pembangunan proyek. Kas panitia juga sudah habis digunakan untuk kebutuhan awal pembangunan proyek. “Sekarang kondisinya kami kekurangan anggaran. Panitia saja nombokin sampai miliaran saking inginnya kami ada masjid terapung di Banten,” ujarnya.

Embay memperkirakan kebutuhan biaya pembangunan MTB mencapai Rp300 miliar. Angka itu untuk keperluan pembangunan seluruh kompleks di lokasi MTB yang akan memakan lahan hingga 2,7 hektare menuju garis pantai. “Bangun masjidnya saja butuh anggaran kira-kira Rp25 miliar,” katanya.

Embay berharap pemerintah daerah bisa membantu langkah panitia membangun MTB menggaet investor lokal maupun mancanegara yang tertarik membangun masjid terapung pertama di Provinsi Banten. “Saking inginnya, panitia sepakat yang penting ada saja dulu itu bangunan masjidnya biar jadi kebanggaan buat masyarakat,” ucapnya.

Embay Mulya Syarif mengaku pihaknya belum menemukan investor yang tertarik untuk menggarap MTB. Padahal, panitia sudah beberapa kali menawarkan proyek tersebut ke beberapa investor lokal maupun luar negeri. Namun, semua usaha itu nihil dan tidak ada tindak lanjutnya.

“Ke investor dari Abu Dhabi bahkan ke Saudi sudah kami ajukan. Sempat ada yang pernah datang ke sini, tapi komunikasinya enggak berlanjut,” ujarnya.

Padahal, jika ada investor yang tertarik menggarap proyek MTB, nantinya Provinsi Banten bisa memiliki sarana yang bisa dijadikan Pusat Dakwah Islam (Pusdai) seperti di Jawa Barat. Pusdai itu bisa digunakan umat Islam untuk mendukung berbagai aktivitas keagamaan.

“Bahkan, untuk keperluan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) juga bisa. Jadi, enggak perlu repot lagi untuk cari tempatnya,” katanya. Terkait mekanisme pendanaan, Embay mengaku sudah melaporkan seluruh anggaran yang dikumpulkan panitia yang berasal dari sumbangan masyarakat dan dana pemerintah daerah.

Dia menegaskan, anggaran tersebut siap untuk diaudit jika ada beberapa pihak yang menuntut panitia bisa bersikap transparan dalam melaporkan penggunaan anggarannya. “Keseluruhan anggaran yang dikumpulkan itu sudah kami buat LPj (laporan pertanggungjawaban). Laporan hibah dari pemerintah daerah juga kami rutin sampaikan,” tandasnya. Dia pun berharap pemerintah daerah, terutama Pemprov Banten, bisa terus mendukung agenda panitia pembangunan MTB dengan ikut menawarkannya ke beberapa investor. Sebab, menurut dia, MTB bisa jadi salah satu ikon pariwisata alternatif bagi masyarakat di samping kawasan pariwisata Pantai Anyar.

 [Baca Juga: Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kota Manado]

“Intinya, Pemprov harusnya juga care . Orang kita mau ngadep (menghadap) dari enam bulan lalu enggak pernah diterima. Kami sampai kecewa, dari akhir tahun kemarin enggak ada jawaban apa-apa dari Pemprov,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program Suwaib Amirudin Foundation (SAF) Zainal Muttaqin mengatakan, pemerintah daerah, khususnya Pemprov Banten, perlu mengakomodasi kebutuhan pembangunan MTB yang berlokasi di Cinangka itu. Sebab, menurut dia, konsep MTB bisa jadi salah satu pengembangan wisata religi yang menjadi pilihan masyarakat. “Selama ini kan wisata di Banten mayoritas komersial. Pemerintah harus mulai memperhatikan hal ini karena bagaimana pun bisa jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang,” ujarnya.

Untuk itu, dia pun mendorong pemerintah daerah bisa ikut menawarkan dan meyakinkan rencana pembangunan MTB ke beberapa investor lokal maupun luar negeri agar pengembangan wisata religi di Provinsi Banten bisa turut meningkat. “Tinggal meyakinkan investor saja karena ini juga bisa menguntungkan buat masyarakat. Jadi, jangan hanya ke arah wisata yang bersifat komersial. Ini pun perlu mendapatkan support ,” tuturnya. Menurut Zainal Muttaqin, pembangunan MTB menjadi salah satu ikon pariwisata andalan Provinsi Banten. Namun, belum banyak dikenal masyarakat luas. “Apalagi, itu (MTB) dibangunnya di kawasan pariwisata Pantai Anyar. Tentu bisa jadi destinasi wisata alternatif masyarakat,” katanya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini