nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Divonis Hidup Tinggal 3 Bulan, Penderita Kanker Payudara Berhasil Sembuh Total

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 05 Juni 2018 12:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 05 481 1906720 divonis-hidup-tinggal-3-bulan-penderita-kanker-payudara-berhasil-sembuh-total-zslge4Y7c7.jpg Judy Perkins kini banyak melakukan petualangan setelah dinyatakan sembuh total (foto: Judy Perkins)

NYAWA seorang perempuan yang mengidap kanker payudara stadium lanjut berhasil diselamatkan berkat terapi baru di Amerika Serikat.

Awalnya Judy Perkins diperkirakan bakal bertahan hidup hanya selama tiga bulan lantaran kanker payudara telah menyebar dan tidak bisa disembuhkan dengan terapi konvensional.

Perempuan asal Florida itu punya tumor sebesar bola tenis di bagian liver dan kanker yang menjalar ke sejumlah bagian tubuh.

Baca Juga: Catat Rekor, Pria Pertama di Dunia yang Melahirkan dan Ibu Terkecil Lahirkan Bayi Setinggi

Namun, nyawanya dapat diselamatkan setelah sebuah tim di Institut Kanker Nasional AS melakoni uji coba terapi.

"Sekitar satu pekan setelahnya (terapi) saya mulai merasakan sesuatu. Saya punya tumor di dada dan saya bisa merasakan itu menyusut. Perlu sepekan atau dua pekan lagi sampai rasa itu hilang," ujar Judy.

Judy mengenang pemindaian pertama setelah terapi, tim medis "sangat gembira dan meloncat ke sana ke mari."

Saat itulah dia diberitahu bahwa dirinya boleh jadi telah disembuhkan.

Dua tahun kemudian tim medis tidak menemukan tanda-tanda kanker di tubuh Judy. Perempuan itu kini menjalani hidup dengan melancong dan berolahraga kayak. Bahkan dia baru merampungkan perjalanan lima pekan mengelilingi Florida.

Terapi personal

Terapi yang diterapkan terhadap Judy Perkins, menurut Institut Kanker Nasional di AS, masih memerlukan uji coba lanjutan sebelum bisa digunakan secara luas. Namun prinsipnya ialah mengalahkan sel kanker dengan sistem kekebalan tubuh sang pasien.

Dr Steven Rosenberg, kepala bedah di Institut Kanker Nasional, mengatakan terapi tersebut merupakan "perawatan paling personal yang bisa dibayangkan."

Sebelum memulai terapi, tumor pasien dianalisa secara genetis untuk mengenali berbagai perubahan langka yang membuat sel kanker dapat diserang sistem kekebalan tubuh.

Dari 62 kejanggalan genetis pada Judy Perkins, hanya empat yang berpotensi diserang.

Selanjutnya para peneliti berburu sel darah putih pasien dan mengambil sel yang mampu menyerang kanker. Sel itu kemudian ditumbuhkembangkan dalam jumlah banyak di laboratorium.

Beberapa waktu kemudian, sekitar 90 miliar sel disuntikkan ke tubuh Judy Perkins. Pada saat bersamaan, perempuan berusia 49 tahun itu juga diberi obat-obatan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

"Mutasi-mutasi yang menimbulkan kanker yang ternyata menjadi titik lemah kanker itu sendiri," jelas Dr Rosenberg.

Hasil uji coba terhadap Judy Perkins dan uji coba lanjutan yang lebih besar diperlukan untuk memastikan temuan tim medis di Institut Kanker Nasional.

Sejauh ini tantangan terapi kekebalan tubuh dalam mengatasi kanker adalah cara tersebut sangat berhasil untuk sejumlah pasien, tapi sebagian besar lainnya tidak merasakan manfaat apapun.

"Terapi ini sangat bersifat uji coba dan kami baru mempelajari bagaimana melakukannya, namun ini berpotensi diterapkan ke semua jenis kanker," kata Dr Rosenberg.

"Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun ada potensi perubahan paradigma dalam terapi kanker—obat yang unik untuk setiap pasien kanker. Ini sangat berbeda dari perawatan lainnya," lanjutnya.

Rincian mengenai terapi yang dijalankan Dr Rosenberg dan timnya dipublikasikan jurnal ilmiah Nature Medicine.

Secara terpisah, Dr Simon Vincent selaku direktur riset di lembaga Breast Cancer Now, menilai penelitian Dr Rosenberg adalah "kelas dunia".

Baca Juga: Masih Buang Sampah Sembarangan? Meme-Meme Ini Cocok untuk Anda

"Kami pikir ini adalah hasil yang luar biasa. Ini adalah peluang pertama untuk melihat terapi kekebalan tubuh terhadap kanker payudara jenis paling umum yang baru diuji coba pada satu pasien."

"Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tapi ini berpotensi membuka area baru dalam terapi untuk banyak orang."

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini