Kisah Kate Spade Berserta Karyanya yang Mendunia

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 06 194 1907287 kisah-kate-spade-berserta-karyanya-yang-mendunia-MqDYBDHFlV.jpg Kate Spade (BBC)

POPULARITAS perancang Amerika Kate Spade, yang membuat namanya menjadi merek terkenal dunia, adalah sebuah kisah klasik perempuan pebisnis Amerika yang memulai dari nol.

Dia dan suaminya membangun perusahaan aksesoris itu dari apartemen mereka dengan menggunakan tabungan pensiun untuk memulai usaha. Mereka kemudian menjual perusahaan tersebut dan memulai lagi.

Kate Spade terlahir sebagai Kate Brosnahan di Missouri dan bersekolah di sekolah Katolik khusus perempuan dan Arizona State University.

 Baca juga: Pramugari Bocorkan Kelakuan Penumpang yang Berhubungan Intim di Pesawat


Di sanalah dia bertemu dengan calon suaminya, Andy Spade, saudara dari komedian Hollywood David Spade, yang bekerja di toko pakaian.

 Kate Spade dan anak

Kate Spade ditemukan tewas di apartemennya di New York. Polisi menyelidiki kematian ini sebagai bunuh diri.

Jenazahnya ditemukan oleh seorang tenaga pembersih rumah di apartemennya di Park Avenue, Manhattan dalam kondisi yang "tidak responsif", menurut pihak berwenang.

Baca: Begini 6 Gaya Santai Via Vallen saat Pakai Celana dan Rok Jeans

Dia meninggalkan pesan bunuh diri, kata polisi, namun mereka menolak menyebut isinya. Keluarga Spade merilis pernyataan yang meminta agar privasi mereka dihormati.

"Kami semua sangat hancur karena tragedi hari ini. Kami sangat menyayangi Kate dan akan sangat merindukannya. Kami minta agar privasi kami dihormati untuk berduka dalam masa sulit ini."

Kate Spade dan Suami (Business Insider) 

Mereka kemudian pindah ke New York. Di sana, Spade bekerja di bidang periklanan dan sebagai editor mode di majalah Mademoiselle sebelum kemudian menjalani usaha.

 Baca juga: Ditemukan Bunuh Diri, Kate Spade Tinggalkan Pesan Terakhir untuk Putrinya

Dalam berbagai wawancara, pebisnis ini mengatakan bahwa dia terinspirasi untuk memulai perusahaannya karena dia tidak suka dengan banyak tas tangan yang ada di masa itu dan dia menginginkan gaya yang lebih sederhana.

"Saya pikir, wah, kenapa kita tidak bisa menemukan sesuatu yang tampak bersih dan sederhana dan modern?" katanya.

Bagi Spade, yang sebelum memulai kariernya sudah memiliki koleksi tas tangan yang lengkap, tampilan yang bersih tak berarti membosankan.

Warna-warna merah dan pink yang cerah bisa dilihat di tas boxy nylon atau tas jinjing kulit yang dibuatnya, dan inilah yang menarik perhatian para pembeli di pusat perbelanjaan Barney's di New York dan tasnya segera menjadi simbol status di kalangan tertentu.

 Tas Kate Spade (BBC)

Pada 1999, saat Neiman Marcus membeli saham 56%, mereka membayar $30 juta dolar (sekitar Rp400 miliar lebih) terhadap perusahaan tersebut yang kemudian memperlebar usahanya ke aksesoris lain, termasuk sepatu hak pendek dan alat tulis.

Gaya desain Kate Spade mirip dengan merek seperti Lilly Pulitzer dan Tory Burch, perusahaan Amerika yang menjadikan nama perempuan pendiri sebagai merek mereka.

Namun Spade mengembangkan sebuah citra yang lebih mirip dengan rumah mode Eropa, seperti Valentino dan Chanel.

"Mode bisa terasa seperti kostum," katanya dalam sebuah wawancara dengan Boston Globe pada 1999.

Dia mengatakan pada Vogue bahwa produknya "tidak intimidatif" - meski pelanggannya banyak dari kalangan elite, salah satunya Duchess of Cambridge.

Pada 2006, keluarga Spade mengumumkan bahwa mereka akan menjual saham di perusahaan tersebut.

Jika dilihat lagi, momen itu terlihat seperti akhir sebuah era - sesaat sebelum belanja online, krisis keuangan, perubahan gaya mode, dan pemilik saham membuat industri retail mode seperti terhenti.

Pasangan Spade yang tak gentar dengan berbagai perubahan itu kemudian mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan merek baru, Frances Valentine, sekitar satu dekade kemudian.

Spade, yang menyebut dirinya sebagai orang yang sering gugup, mengakui dalam wawancara di NPR bahwa keputusan itu punya risiko besar.

"Masih ada banyak tekanan, percayalah," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini