Risalah Kampung Madinah di Magetan

Agregasi Solopos, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 12:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 06 06 196 1907209 risalah-kampung-madinah-di-magetan-wlGD4f692E.jpg Foto: Madiun Pos

DI Kabupaten Magetan, Jawa Timur, ada sebuah desa berjuluk Kampung Madinah. Desa itu bernama Temboro yang berada di Kecamatan Karas. Desa Temboro ini dikenal sebagai Kampung Madinah karena budaya dan nuansa di sana dibuat mirip seperti di Arab Saudi.

Berkunjung ke Kampung Madinah Magetan pada Senin lalu sekitar pukul 21.00 WIB, suasana di desa itu masih ramai. Banyak warga yang berlalu lalang beraktivitas jual beli dan berjalan-jalan.

 

Di desa ini, sebagian besar penduduknya terbiasa mengenakan pakaian ala Timur Tengah atau yang mereka sebut sebagai pakaian pada zaman sahabat Nabi Muhammad. Perempuan memakai gamis beserta cadar, sedangkan laki-laki mengenakan jubah dan berpeci.

Di desa ini juga banyak ditemui toko-toko yang menjual pakaian ala Timur Tengah. Makanan khas Timur Tengah juga banyak dijual di desa itu.

Seorang warga Desa Temboro, Soyi, 50, mengatakan desanya sudah lama dikenal sebagai Kampung Madinah. Penyebutan ini karena melihat aktivitas masyarakat setempat yang ingin meniru seperti di Madinah atau Arab Saudi.

Ilustrasi Foto/Reuters

Sehingga cara berpakaian pun, kata dia, juga meniru orang-orang pada zaman sahabat nabi. “Di Temboro ini, hampir seluruh warganya berpakaian ala orang Timur Tengah dengan memakai cadar bagi perempuan dan berjubah bagi laki-laki,” jelas dia.

[Baca Juga: Potret Ngabuburit di Sekitar Masjid Agung Serang]

Sekretaris Desa Temboro, Muhammad Safi membenarkan Desa Temboro dikenal luas sebagai Kampung Madinah. Salah satu alasannya yaitu karena sebagian besar masyarakat desa setempat mengenakan pakaian syar’i ala Timur Tengah.

Dia menuturkan Desa Temboro memiliki luas wilayah lebih dari 517 hektare. Sebagian besar tanah di desa ini untuk permukiman warga dan pondok pesantren. Ada empat ponpes yang ada di Temboro yaitu Ponpes Al-Fatah, Ponpes Al Qodir, Ponpes Roudhotut Tholibin, dan Ponpes Darul Muttaqin.

Menurut dia, cara berpakaian seperti ini sudah menjadi budaya di Desa Temboro. Sehingga, ketika ada warga desa atau santri yang tidak mengenakan pakaian seperti itu akan memiliki rasa malu sendiri.

[Baca Juga: Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kota Manado]

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini