nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

10 Hari Terakhir Jadi Masa Injury Time Ramadan, Ini Penjelasannya

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 07 Juni 2018 11:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 07 196 1907674 10-hari-terakhir-jadi-masa-injury-time-ramadan-ini-penjelasannya-ht50Zad4aq.jpg Ilustrasi. Foto: Thoughtco

JAKARTA – Umat Islam perlu meluangkan waktu khusus untuk beriktikaf di masjid pada malam 10 terakhir Ramadan. Sebab di malam-malam ini ada malam yang sangat mulia, yakni lailatul qadar.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa meluangkan waktu khusus di malam 10 terakhir bulan Ramadan. Rasul senantiasa beriktikaf di masjid. Demikian pula halnya denganpara sahabat. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti menjelaskan, di sejumlah hadis telah disebutkan bahwa pada malam ganjil pada 10 hari terakhir terdapat lailatul qadar.

Mu’ti menjelaskan, walaupun terdapat perdebatan soal lailatul qadar, meluangkan waktu untuk beriktikaf tetap diutamakan. Selain disebutkan di dalam Alquran (QS 2, Al-Baqarah: 187), hadis-hadis tentang iktikaf tidak ada persoalan. “Keberadaan lailatul qadar tidak ada perdebatan.

Demikian pula dengan kemuliaan lailatul qadar. Hal ini jelas disebut kan dalam Alquran Surat Al-Qa dar. Yang menjadi perdebatan adalah soal kapan waktu atau jatuhnya lailatul qadar. Beberapa hadis menyebutkan lailatul qadar terjadi pada malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan. Waktunya antara tengah malam sampai terbit fajar,” katanya.

Foto rew Angerer-Getty Images

[Baca Juga: Iktikaf, Menyongsong Datangnya Lailatul qadar]

Oleh karena itu, menurut Mu’ti, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Di antaranya melaksanakan qiyamullail dengan salat, tadarus, dan zikir dengan membaca kalimat thayyibah. Menurut dia, ibarat berlomba, 10 malam terakhir adalah masa injury time untuk meningkatkan ibadah.

Oleh karena itu sebaiknya umat Islam meluangkan waktu khusus untuk beriktikaf di malam-malam terakhir Ramadan. Sementara itu Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Muhibbin mengatakan, pada umumnya memang pada malam-malam 10 hari terakhir Ramadan umat Islam memerlukan diri untuk beriktikaf dimasjid sambil menunggu dan menjemput lailatul qadar.

Kegiatan iktikaf tersebut merupakan kebiasaan yang hanya dilakukan oleh sebagian kecil saja dari umat Islam sehingga gaungnya kurang dapat ditangkap masyarakat. “Memang iktikaf tersebut sangat dianjurkan dan dipraktikkan sendiri oleh Rasul, namun bagi kalangan muslim di negeri ini kurang familier, termasuk pada saat Ramadan sekalipun,” katanya.

Oleh karena itu, menurutnya, bagi mereka yang menginginkannya dapat melakukan iktikad. Namun jika tidak memungkinkan karena punya tanggung jawab pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan atau ke wajiban lain, tidak melakukan iktikaf juga tidak terlalu menjadi persoalan.

Foto MAHMUD HAMS-AFP-Getty

Sebab masih banyak kebajikan yang dapat dilakukan untuk mengisi Ramadan dan mencari rida Tuhan. Dia menjelaskan, hal terpenting bagi muslim ialah bagaimana memanfaatkan peluang menemukan lailatul qadar tanpa harus mengorbankan sesuatu yang menjadi kewajiban kita. Mencari lailatul qadar tersebut memang sangat dianjurkan, tetapi kalau pencarian yang dilakukan justru malah mengorbankan kewajiban lain, jangan-jangan malah kita tidak mendapatkan kedua-duanya.

[Baca Juga: Meraih Lailatul Qadar, Begini Caranya]

Untuk itu sebaiknya memang tetap berusaha mendapatkannya meskipun tidak harus memaksakan diri. Dia menjelaskan, kalau benar bahwa lailatul qadar tersebut berada di salah satu malam di antara 10 malam terakhir bulan Ramadan, umat Islam dapat menjemputnya melalui aktivitas biasa dan mungkin hanya sedikit di tingkatkan.

Sebagai contohnya, jika setiap malam pada Ramadan sudah terbiasa melakukan ibadah salat tarawih dan tadarus, hal itu dapat dilanjutkan. Hanya untuk tadarus pada dini hari bisa ditambah sedikit waktunya. Menurutnya muslim memiliki keyakinan bahwa sebelum makan sahur mesti diawali dengan salat tahajud dan witir serta bermunajat, berdoa kepada Allah SWT.

Itu semua harus dipertahankan dan bahkan bisa juga ditambah porsinya. “Amalan baik tersebut Insya Allah akan dilipatgandakan pada saat kita menjalaninya bertepatan dengan malam lailatul qadar tersebut. Akan jauh lebih baik lagi jika pada malam-malam tersebut kita juga melengkapinya dengan bersedekah dan berjariah,” katanya.

Muhibbin berharap seluruh muslim akan mampu menangkap dan menemukan lailatulqadar yang nilainya melebihi seribu bulan tersebut sehingga akan memengaruhi kehidupan kita. “Artinya semakin ke depan hidup kita akan semakin bermakna dan lebih bermanfaat bagi diri, keluarga, dan juga ma syarakat secara umum,” ujarnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini