Seluk Beluk THR dan Negara yang Menjalankannya Selain Indonesia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 07 Juni 2018 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 07 196 1907750 seluk-beluk-thr-dan-negara-yang-menjalankannya-selain-indonesia-SXiWgqEl3L.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

SELAIN mudik ke kampung halaman, Tunjangan Hari Raya (THR) juga selalu ditunggu-tunggu para pekerja di Indonesia ketika memasuki masa Lebaran. Besaran THR yang biasanya satu bulan gaji, amat membantu untuk memenuhi kebutuhan Lebaran seperti beli baju baru dan berbagi ‘salam tempel’ dengan sanak saudara.

Merangkum dari berbagai sumber, THR memang khas Indonesia karena adanya kondisi khusus. Tunjangan itu pertama kali muncul pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dekade 1950. Awalnya, THR hanya diberikan bagi para aparatur sipil negara setiap Lebaran.

Pada perkembangannya, serikat buruh terus memperjuangkan agar THR tidak hanya dirasakan oleh pegawai negeri saja, tetapi juga pegawai atau buruh swasta. Perjuangan tersebut baru berbuah hasil puluhan tahun kemudian.

 (Baca Juga: Pramugari Bocorkan Kelakuan Penumpang yang Berhubungan Intim di Pesawat)

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permen) nomor: PER-04/MEN/1994 pada 16 September 1994, THR diputuskan menjadi hak buruh perusahaan. Sejak saat itu hingga kini, THR selalu dibagikan oleh perusahaan dengan besaran yang berbeda-beda, tergantung lamanya bekerja.

Pegawai yang sudah bekerja minimal setahun lazimnya mendapatkan THR sebesar satu bulan gaji. Sementara karyawan yang belum bekerja selama satu tahun, akan mendapatkan besaran sesuai proporsi lamanya bekerja.

 

Istilah THR atau Holiday Allowance mungkin hanya dikenal di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, tunjangan hari raya hampir tidak ada. Ketika mengetik kata kunci ‘Holiday Allowance’ sebagian besar hasilnya membahas mengenai jatah cuti atau libur bagi karyawan.

 (Baca Juga: Gaya Berciuman Bisa Ungkap Karakter Asli Pasangan, Kamu Tipe yang Mana?)

Meski begitu, ada beberapa negara yang menetapkan pembayaran gaji kepada karyawan di saat mengambil libur. Istilah yang dipakai adalah paid leave (cuti berbayar). Tidak terlalu pas dengan THR memang, tapi bisa dikatakan mirip karena sama-sama dibayar jelang hari libur.

Melansir dari Payingit-international, Kamis (7/6/2018), Belanda adalah salah satu negara yang mengenal model seperti THR. Holiday Allowance bahkan sudah diperkenalkan sejak dekade 1920 meski awalnya hanya berstatus paid leave.

Kebijakan diubah pada dekade 1960 mengingat sebagian besar pekerja yang libur biasanya memilih menghabiskan waktu dengan travelling. Sejak itu, paid leave berubah menjadi pembayaran ekstra di luar gaji pokok, yang di Indonesia dikenal sebagai tunjangan.

Pembayaran tunjangan ditentukan minimal 8% dari gaji pokok selama waktu bekerja pada Juni – Mei atau tahun fiskal di Negeri Tulip. Majikan atau perusahaan wajib membayar tunjangan tersebut bagi karyawannya. Ambil contoh jika Anda bergaji 4.000 Euro per bulan, maka pada Mei Anda akan mendapat total tunjangan selama setahun mencapai 3.840 Euro.

Pembayaran setahun sekali itu dirasakan cukup memberatkan bagi sejumlah perusahaan. Banyak yang mengakalinya dengan cara menambahkan ke gaji bulanan. Mekanisme pembayaran tersebut bisa disepakati antara perusahaan dengan karyawan di awal masuk kerja.

Selain Belanda, Denmark juga menerapkan pola serupa. Melansir dari lifeindenmark.borger, setiap Maret, Anda akan mendapatkan pemberitahuan mengenai tunjangan. Perusahaan akan menghitung besarnya tunjangan selama setahun yang dihitung dari jatah cuti per bulan.

Normalnya, besaran tunjangan adalah 12,5% dari gaji. Namun, Anda harus segera mengambil dan menentukan libur yang ditetapkan mulai 1 Mei setiap tahunnya. Terlambat sedikit saja, tunjangan bisa melayang.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini