nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akhir Ramadan, di Antara Sedih dan Bahagia

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 08 Juni 2018 14:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 08 196 1908239 akhir-ramadan-di-antara-sedih-dan-bahagia-zM7Q3SQUCn.jpg Ilustrasi. Foto: Toronto Star

JAKARTA – Ibadah puasa Ramadan tak terasa sudah memasuki periode sepertiga terakhir. Sebagian besar umat Islam bersedih karena bulan suci ini akan segera berakhir. Sebab itu mereka berusaha memanfaatkan waktu untuk iktikaf dan tekun beribadah. Adapun sebagian yang lain kini mulai sibuk mem persiapkan perayaan Idul Fitri.

Luapan kegembiraan sudah terasa, pusat perbelanjaan ataupun mal mulai dipadati warga, lalu lintas lambat merayap, banyak rumah berganti cat, baju baru dan makanan enak juga telah siap. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi mengungkapkan sebaliknya.

Meski demikian gempitanya masyarakat sedang berbahagia di pengujung akhir Ramadan, tidak demikian dengan para sahabat. “Semakin dekat dengan akhir Ramadan, kesedihan justru menggelayuti (sahabat nabi). Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira.

Namun di akhir Ramadan seperti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini,” katanya. Alasan para sahabat dan orang-orang saleh bersedih ketika Ramadan hampir berakhir itu ada dalam berbagai konteks sebab.

Patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadan akan pergi karena dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berbagai keutamaannya. Bukankah Ramadan bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Bukankah hanya di bulan suci ini setan dibe lenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan.

Ilustrasi. Foto MAHMUD HAMS-AFP-Getty

Selain itu hanya di bulan Ramadan amal sunah diganjar pahala amal wajib dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan. Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramadan pergi. Dia hanya akan datang pada bulan Ramadan setahun lagi.

[Baca Juga: Gaya-Gaya Hijabers dari Indonesia hingga Amerika]

Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ramadan yang akan datang. “Maka pantaslah jika para sahabat dan orang-orang saleh bersedih, bahkan menangis mendapati Ramadan akan pergi,” paparnya.

Yudian menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa semestinya Ramadan menjadikan seseorang di ampuni dosanya. Jika seseorang sudah mendapati Ramadan selama sebulan bersama dengan peluang besar yang penuh keutamaan tetapi masih saja belum mendapatkan ampunan, benar-benar orang itu sangat rugi.

Bahkan celaka. “Masalahnya adalah, apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu. Sementara jika tidak dapat ampunan, dia celaka. Betapa hal yang tidak dapat dipastikan ini menyentuh rasa khauf para sahabat dan orang-orang saleh.

Mereka takut sekiranya menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, padahal Ramadan akan segera pergi. Maka mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima,” urainya. Hal senada disampaikan guru besar UIN Walisongo Amin Syukur.

Doa. Foto Thoughtco

Menurutnya momen 10 malam terakhir merupakan malam-malam puncak Ramadan. Malam-malam dan hari-hari ter sebut merupakan waktu yang tiada terbilang limpahan rahmat dan karunia yang disediakan oleh Allah SWT. “Oleh karena itulah Rasulullah SAW tidak mau ketinggalan memanfaatkan malam-malamnya dengan mengencangkan ikat pinggangnya dengan menjauhi istri-istrinya untuk mengisinya dengan ibadah,” ucapnya.

[Baca Juga: Untuk Hijabers Pemula, Ini Tips Memilih Hijab biar Tetap Istiqomah]

Momen 10 malam terakhir, menurut Amin, merupakan saat-saat yang indah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, saat-saat indah untuk beribadah dan memohon ampun kepada- Nya, meraih berkah dan pahala serta memohon agar dimasukkan ke dalam golongan hamba yang terbebas dari api neraka sebagaimana malam-malam ini merupakan saat-saat yang paling membahagiakan untuk meraih rahmat, ampunan dan itqun minannar.

“Saat-saat membahagiakan untuk memperlihatkan jati diri kita di hadapan Allah sebagai hamba-Nya yang patuh dan tunduk dalam segala sisi kehidupan. Saat-saat membahagiakan untuk menunjukkan kebaikan yang kita miliki di hadapan Sang Maha Pencipta dan Maha Kasih.

Saat-saat membahagiakan yang menjadikan diri sangat dekat dengan Allah dan butuh akan ampunan-Nya dan kasih sayang-Nya,” ujar dia. Amin mengatakan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang sangat dirindukan dan di nantinantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat di dalamnya.

Salah satunya adalah lailatul qadar. Karena itu bisa dikatakan kebahagiaan kita sejak awal mengikuti ibadah dan amaliah bulan Ramadan belumlah lengkap jika tidak berada pada malam-malam 10 hari terakhir ini.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini