nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peduli Keberlangsungan Hidup Gajah & Badak, Bocah 7 Tahun Ini Berhasil Ubah Dunia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Senin 11 Juni 2018 19:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 11 406 1909229 peduli-keberlangsungan-hidup-gajah-badak-bocah-7-tahun-ini-berhasil-ubah-dunia-14aj3EYfV0.jpg Pemusnahan Gajah (Foto: Brisnbanetimes)

KECINTAAN terhadap hewan dan lingkungan adalah pernyataan yang tepat untuk menggambarkan sosok bocah laki-laki yang satu ini. Adalah Chas Dolphin seorang bocah yang berhasil memberikan kontribusi besar pada dunia.

Saat tumbuh dewasa, berkeinginan menjadi pemain sepakbola dan seorang yang mempelajari fisika. Namun, saat ini tindakan bocah berusia tujuh tahun tersebut berhasil mengubah dunia.

Saat ini Chas bergabung dengan organisasi seperti People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) dan International Wildlife Bond yang merupakan badan penyelidikan parlemen terhadap perdagangan tanduk badak dan gading gajah.

Mereka menuntut diakhirinya penjualan domestik produk-produk tersebut. Mengingat jumlah populasi mereka di habitatnya sudah menurun dengan drastis.

“Saya pikir gajah dan badak adalah makhluk luar biasa dan kita semua tidak boleh membunuh mereka. Kita harus menghentikan perdagangan domestik yang menjual tanduk badak dan gading gajah,” tegas Chas, sebagaimana dilansir dari Brisbane Times, Senin (11/6/2018).

Saat ini Australia telah melarang importasi spesimen gajah atau badak sebelum Konvensi Perdagangan Internasional pada Spesies Terancam punah dari Fauna Liar dan Flora (CITES) diterbitkan untuk membuktikan spesimen yang mendahului Konvensi.

Meski demikian, tidak ada persyaratan hukum pada penjual untuk memberikan bukti impor legal, provenance atau usia spesimen badak san gajah yang dibunuh.

Komite penyelidikan akan mempertimbangkan sejumlah masalah seputar perdagangan gading dan tanduk. Selain itu mereka juha akan mengawasi keterlibatan kelompok kejahatan terorganisasi, efektivitas pemantauan, regulasi, serta kecukupan sumber daya untuk menyaring gading dan tanduk.

Bagi Chas, minat dan keprihatinannya terhadap perdagangan domestik produk-produk tersebut dipicu setelah membaca tentang badak putih jantan terakhir yang mati di Kenya bulan lalu.

“Saya menemukan badak itu mati dan kemudian menyadari mengapa mereka bisa punah. Semu karena ulah pemburu. Saya tidak berpikir. Para pemburu harus membunuh badak dan gajah hanya untuk tanduk mereka,” lanjutnya.

Chas juga prihatin dengan pemanasan global dan perburuan hewan terancam lainnya. Ia berharap masyarakat juga mengajukan submisi ke penyelidikan. Hingga akhir kamis, publik telah menyampaikan keperihatinannya kepada dewan komite.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini