nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Maskapai Penerbangan Wajib Perbanyak Pilot Wanita, Ini Alasannya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 11 Juni 2018 20:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 11 406 1909254 maskapai-penerbangan-wajib-perbanyak-pilot-wanita-ini-alasannya-Z0SZ86HePi.jpg Ilustrasi (Foto: Travelandleisure)

WANITA memang kerap dipandang sebelah mata dalam beberapa pekerjaan. Apalagi menjadi seorang pilot yang notabene sangat erat dengan pekerjaan pria.

Tammie Jo Shults salah satunya. Ia menjadi pahlawan terbaru bagi sebuah penerbangan komersial. Berkat tindakannya tersebut banyak orang beranggapan mengapa tidak merekrut lebih banyak pilot yang memiliki kemampuan sepertinya.

Baru-baru ini Kapten Southwest Airlines memuji kemampuannya dalam menangani depressurisation pada 24 April 2018. Sehingga harus melakukan pendaratan darurat di Philadelphia setelah mesin Boeing 737 meledak di tengah penerbangan.

Sebenarnya peran wanita dalam penerbangan masih sangat besar. Setengah awak pesawat merupakan wanita, namun hanya 5,2 persen saja yang naik menjadi pilot. Amelia Earhart, Bessie Coleman, Pancho Barnes, dan Jean Batten menjadi wanita yang merasakan duduk di kursi pilot. Meski demikian hal tersebut sudah terjadi sejak lama, yakni hampir seabad yang lalu.

Chief executive officer, Carolyn McCall dan Jayne Hrdlicka menjadi pilot maskapai Jetstar Easyjet dan Qantas Airways pada 2010 dan 2012. Namun, persentase wanita hanya 5,8 persen dari pilot Easyjet dan 5 persen di Qantas.

Pilot tentu menghabiskan waktu berjam-jam jauh dari rumah, tetapi itu tidak menciptakan ketidakseimbangan gender yang sama di antara awak kabin. Pelatihan sebagai pilot dan mempertahankan lisensi pilot komersial dapat menjadi mahal dan memakan waktu. Biasanya pilot membutuhkan 1500 jam waktu penerbangan di awal dan satu take-off sebelum mendarat setiap bulan setelah itu.

Pilot Wanita

Senioritas di kalangan pilot juga cenderung disesuaikan dengan jam yang dihabiskan di udara, sehingga hierarki kemungkinan akan didominasi oleh karyawan pria yang lebih tua dan lebih lama setelah perubahan dimulai di bagian bawah.

Namun, jika para pilot senior menolak perekrutan dan promosi terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan seperti mereka, itu adalah masalah diskriminasi di tempat kerja dan harus ditangani dengan cepat.

Pada 2010, Presiden Australia Women in Aviation International, Tammy Augostin, ingat dengan perkataaan seorang instruktur yang berkomentar "Jika para wanita ditakdirkan untuk menerbangkan pesawat terbang, langit akan menjadi merah muda."

Tammy

Menurutnya, golongan muda tentu sangat mendukung tentang wacana tersebut, tetapi masih ada pola pikir yang lebih tua di dalam perusahaan. Ia menilai saat ini adalah kesempatan yang baik seperti yang sudah ada selama bertahun-tahun sebelumnya untuk melakukan perubahan.

(Baca Juga: Ucapan Selamat Lebaran Unik yang Bisa Kamu Kirim ke Grup Chat)

Dengan pertambahan perjalanan udara dan 637.000 lebih pilot diperlukan selama dua dekade berikutnya, maskapai penerbangan sudah memiliki tugas melakukan perekrutan besar-besaran di masa depan. Menambahkan kuota dan pendanaan untuk mendorong lebih banyak perempuan untuk bergabung dengan sekolah penerbangan seperti yang dilakukan Qantas merupakan cara yang tepat.

(Baca Juga: 6 Mahluk Mistis Ini Pernah Hidup di Bumi, Apa Saja?)

Maskapai penerbangan juga perlu melakukan lebih banyak peningkatan kebijakan terhadap lingkungan kerja mereka, yang biasanya mencerminkan prioritas serikat pekerja yang didominasi laki-laki. Keterampilan terbang pesawat komersial modern sebagian besar adalah masalah pengambilan keputusan yang baik di bawah tekanan. Sejumlah penelitian selama bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa wanita cenderung mengambil risiko lebih sedikit daripada pria.

Ini merupakan kualitas yang diinginkan semua pilot kami. Ada alasan yang menarik bagi operator untuk memperbaiki ketidakseimbangan di dalam kokpit.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini