Laris Manis Dodol Betawi Jelang Lebaran

Renny Sundayani, Jurnalis · Selasa 12 Juni 2018 09:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 12 298 1909515 laris-manis-dodol-betawi-jelang-lebaran-qUVUpMQcSJ.jpg Dodol Betawi (Foto: Istimewa)

Menjelang Idul Fitri atau Lebaran, orang-orang biasanya sibuk membuat kue. Untuk orang betawi, dodol dan kue Cina biasanya menjadi makanan yang selalu disiapkan.

Dodol memang merupakan makanan yang spesial bagi warga Betawi. Kue berbahan dasar dari ketan, gula merah dan kelapa ini biasanya dijadikan antaran kepada orangtua atau saudara yang lebih tua ketika bersilaturahmi saat Idul Fitri.

Namun seiiring waktu, dodol Betawi mulai dilupakan orang Betawi sendiri. Salah satu penyebabnya, panganan tersebut cukup sulit dibuat, memakan waktu, tenaga, serta biaya yang tak sedikit.

Bagaimana tidak, untuk membuat dodol biasanya menggunakan kuali atau wajan besar dengan diameter sekitar 1,5 meter. Bahan-bahan dasarnya dari beras ketan, kelapa, dan gula merah. Sedangkan pembuatannya memakan waktu yang tak sedikit, sekitar delapan hingga 10 jam. Sementara untuk mengaduk dodol, dibutuhkan minimal tiga orang dewasa.

Singkatnya, membuat dodol membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang tak sedikit.

Tapi beruntung, meski orang-orang sudah mulai malas membuat dodol, tapi bukan berarti dodol sudah sulit ditemukan. Di beberapa wilayah, rupanya masih ada beberapa orang yang memang fokus menjual makanan Betawi seperti dodol dan kue keranjang alias kue Cina.

Salah satu penjual dodol yang cukup terkenal adalah Kutong. Lelaki berusia 56 tahun itu mengaku sudah membuat dan menjual dodol Betawi sejak tahun 1995.

"Saya bikin dari tahun 1995, waktu itu harga jualnya masih Rp 1.500 untuk satu kilo kue," kata Kutong, saat ditemui di kediamannya di Desa Rawakalong, Gunung Sindur, Bogor, baru-baru ini.

Menurut Kutong, ia mendapatkan keahlian membuat dodol dan kue keranjang setelah bekerja dengan seseorang. "Dulu saya kerja sama orang keturunan. Ilmunya saya ambil, terus saya kerjain di rumah. Alhamdulilah bisa," ujarnya.

Kutong mengaku membuat dodol dan kue keranjang cuma setahun sekali, menjelang Idul Fitri. "Karena dodol sama kue Cina itu kan makanan orang Betawi. Jadi kalau mau lebaran memang banyak yang cari. Apalagi orang sekarang mah buat dodol sama kue Cina ribet, makan waktu, jadi mending beli," jelas lelaki asal Betawi tersebut.

Biasanya, Kutong memproduksi dodol dan kue keranjang lima hari setelah puasa. "Produksinya itu paling meningkat pas seminggu mau lebaran. Itu benar-benar cape dah ngerjainnya," katanya.

Karena banyaknya pesanan, Kutong membuat dodol dan keranjang hingga memakan bahan 6-8 ton beras ketan. "Bahannya saya giling sendiri. Alatnya punya sendiri. Kayu buat bakar saya beli satu truk. Kayunya harus kayu rambutan, karena kalau bukan kayu rambutan rasanya beda," kata Kutong mengungkap sedikit rahasia dapurnya.

Dapur pembuatan dodol dan kue keranjang ada di belakang rumah Kutong dengan luas kira-kira 15x5 meter. Di dalamnya terdapat satu wajan untuk membuat dodol. Selain itu juga ada dua alat pengukus berukuran besar untuk membuat kue keranjang alias kue Cina.

"Kalau awal-awal puasa, pekerjanya paling lima orang. Ada tiga orang kerja dari tetangga sama anak-anak saya. Tapi kalau sudah seminggu jelang lebaran, yang kerja juga tambah banyak. Sekitar 10 orang lah," ungkap Kutong, yang juga dibantu dua anak dan seorang istri.

Pembuat Dodol

Dodol dan kue keranjang yang sudah jadi dikemas dalam sebuah wadah plastik. Untuk dodol dikemas dalam lipatan plastik transparan yang memanjang. Sedangkan untuk kue keranjang dikemas dalam plastik transparan berbentuk mangkuk.

Untuk harga, Kutong menjual dodol seharga Rp 55 ribu per kilogram. Satu kilogram dibagi menjadi dua kue. Sedangkan untuk kue keranjang, per kilo dijual seharga Rp26 ribu dan perkilonya dibagi menjadi dua kue.

"Tapi kalau harga di luar itu sekitar Rp 60-70 ribu per kilogram untuk dodol. Sedangkan kue keranjang sektiar Rp 30-35 ribu per kilogram," kata Kutong.

Menurut Kutong, kue produksinya sudah dijual sampai ke Jabodetabek. Biasanya, para agen dari berbagai kota di Jabodetabek yang mendatangi rumahnya kemudian dijual kembali di beberapa toko.

"Dijualnya sudah kemana-mana, Bogor, Depok, Bekasi, Ciledug. Hampir seluruh Jabodetabek," ujarnya.

Menurut Kutong, para pelanggannya tetap setia dengan kue produksinya. "Karena saya pakai ketan asli, nggak dicampur-campur. Sebulan juga kuat, asal naronya benar, sebulan juga nggak bulukan," katanya.

Sementara Boedie Soekarno, salah seorang agen yang sudah beberapa tahun menjadi pelanggan, mengakui kelebihan dodol buatan Kutong.

"Saya sudah beberapa tahun jual dodol dari Pak Kutong ini. Memang dodolnya agak beda ya, lebih enak. Kalau pelanggan sih carinya produk Pak Kutong ini," kata Boedie Soekarno.

Kutong sediri mengaku akan terus melestarikan bisnis dodol dan kue keranjangnya ini. Karena selain berbisnis, ia juga ingin melestarikan budaya Betawi.

"Selama ada umur, insya Allah saya bikin terus dodol sama kue keranjang ini. Kebetulan memang cuma ini yang saya bisa. Apalagi dodol sama kue keranjang ini udah langka. Ya itung-itung melestarikan budaya lah. Almahdulillah anak kedua saya juga sepertinya sudah bisa, dia nanti yang bakal nerusin saya," tutur Kutong.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini