nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mood Naik Turun Bisa Jadi Pertanda Terkena Bipolar

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 12 Juni 2018 22:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 12 481 1909755 mood-naik-turun-bisa-jadi-pertanda-terkena-bipolar-OwJ6nnY9sN.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PERUBAHAN suasana hati dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Penyebabnya bisa beragam termasuk kejadian sepele. Maka tak heran bila banyak orang yang mengganggapnya sebagai hal wajar. Tapi ternyata tidak demikian.

Sebuah fakta baru terungkap bila perubahan suasana bisa terkait dengan bipolar yaitu penyakit mental yang menyebabkan mania (kegembiraan berlebihan, overaktifitas fisik, ide-ide berlimpah, dan cepat berubah) serta depresi. Orang-orang dalam rentang usia 18-25 tahun rentan terkena bipolar terutama yang memiliki faktor genetik. Namun tak sedikit orang yang didiagnosis terkena bipolar di atas usia tersebut.

Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis yaitu bipolar I yang menimbulkan halusinasi dan delusi, serta bipolar II yang menimbulkan perubahan suasana hati atau dikenal dengan istilah episode hypomanic.

 (Baca Juga:Atasi Pegal-Pegal di Perjalanan Mudik, Agung Hercules Suka Pakai Koyo, Trik Ini Bisa Kamu Coba Lho!)

"Episode hypomanic didefinisikan sebagai gangguan bipolar yang sering dipicu oleh rasa stres akibat kehidupan yang mengganggu," ungkap ahli di bidang mental, Dr. Lloyd Sederer seperti yang dikutip dari New York Post, Selasa (12/6/2018).

 

Pemicu lain dari gangguan tersebut antara lain penggunaan narkoba atau alkohol, kurang tidur, putus cinta, pergeseran karier, dan kematian orang yang dicintai. Pada episode hypomanic, perubahan suasana hati dapat menyebabkan perilaku tidak menentu. Seperti tiba-tiba mengubah ide, iritabilitas, hingga perilaku seksual.

 (Baca Juga:Buka Puasa Rutin Minum Air Kelapa Muda, Ini yang akan Terjadi pada Tubuh Anda)

Untuk menganalisis episode hypomanic sebagai gangguan bipolar, dibutuhkan suatu pemeriksaan yang mendalam. Sebab terkadang tanda-tanda perilakunya masih sulit untuk ditangkap. Hal ini lantaran realitas pasien sangat terdistorsi sehingga dirinya tidak mengenali gejala tersebut atau tidak dapat mengomunikasikannya dengan jujur. Kebanyakan pasien tidak tahu bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Terkadang pasien hanya mengira dirinya mengalami depresi ringan atau bahkan memiliki masalah kesehatan mental. Terlebih kondisi tersebut dapat diatasi dengan obat-obatan dan terapi. Maka dari itu, dalam hal ini penting bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri dan berkonsultasi kepada para ahli seperti psikolog bila merasa ada yang salah.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini