Olahraga Berlebihan Malah Bisa Bikin Sakit, Kok Bisa?

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 15 Juni 2018 04:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 06 14 481 1910451 olahraga-berlebihan-malah-bisa-bikin-sakit-kok-bisa-QCUJJ9bLw0.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAMA ini sudah banyak diketahui bahwa olahraga teratur dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Dengan begitu seseorang yang rutin berolahraga memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terserang penyakit. Namun tahukah Anda, ternyata semakin berat olahraga yang dilakukan malah semakin meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena depresi sistem kekebalan tubuh.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam Journal Frontiers in Immunology mencoba melihat hubungan tersebut. Dalam penelitian itu, para ahli menjelaskan terdapat perubahan sel kekebalan tubuh dalam dua cara setelah berolahraga. Pertama, jumlah sel kekebalan tubuh yang berhubungan dengan infeksi akan meningkat sesaat setelah olahraga dilakukan.

Baca Juga: Jangan Biasakan Minum Teh di Pagi Hari, Ini 5 Bahayanya

Kedua, jumlah sel kekebalan tidak menurun secara drastis bila olahraga berhenti dilakukan selama beberapa jam atau hari. Selama ini diyakini jika jumlah sel akan menurun apabila latihan dijeda cukup lama. Maka tak heran bila beberapa orang tetap berusaha untuk berolahraga meskipun belum sepenuhnya pulih dari latihan.

Olahraga memang berperan penting guna mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes tipe 2. Akan tetapi, bukan berarti seseorang tidak akan terserang penyakit hanya karena rajin berolahraga. Sebab pola makan yang buruk, perubahan suhu tubuh, stres psikologis, dan mengunjungi tempat umum dapat meningkatkan risiko infeksi.

Baca Juga: Jalani Operasi Plastik, Gadis Asal China Ini Mirip Banget Artis Fan Bingbing

"Sel-sel tidak hancur seperti yang diduga sebelumnya melainkan bermigrasi ke bagian lain dari tubuh, mencari infeksi di tempat lain seperti di saluran pernapasan bawah (dada atau paru-paru), kemudian mendorong kekebalan tubuh sehingga menghalangi kemungkinan infeksi untuk berkembang," ucap rekan penulis penelitian, Dr James Turner seperti yang dikutip dari News.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini