Fakta! Ternyata Usia Jakarta Lebih Tua Dibanding Indonesia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 22 Juni 2018 06:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 21 406 1912522 fakta-ternyata-usia-jakarta-lebih-tua-dibanding-indonesia-UYoaM5B9AG.jpg Pesta Kembang Api (Foto: Okezone)

INDONESIA pada 17 Agustus mendatang akan menginjak usia 73 tahun yang dihitung sejak merdeka pada 1945. Namun, usia Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, sudah menginjak 491 tahun. Jakarta ternyata jauh lebih tua daripada Indonesia.

 Kota pelabuhan tersebut pada awalnya bernama Sunda Kelapa. Sejak dahulu kala, Jakarta sudah menjadi bandar utama. Pada abad ke-16, Kelapa menjadi bandar utama bagi Kerajaan Sunda yang menganut agama Hindu.

Pangeran Fatahillah lalu datang dan menghancurkan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Sebagai gantinya, ia mendirikan Kota Jayakarta di area bekas Sunda Kelapa. Melansir dari Jakarta Tourism, Jumat (22/6/2018), tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai kelahiran Kota Jakarta.

Jayakarta berkembang pesat sebagai sebuah kota pelabuhan yang sibuk di mana para pedagang dari China, India, Arab, Eropa, dan negara-negara lainnya bersandar untuk saling bertukar barang/komoditi. Hingga kini jejak peninggalan tersebut bisa dilihat di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada 1619, serikat dagang Belanda, VOC, di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta. Ia kemudian membangun sebuah kota baru yang terletak di bagian barat sungai Ciliwung yang dinamakan Batavia. Nama tersebut diambil dari Batavieren, nenek moyang bangsa Belanda.

Coen merencanakan dan membangun Batavia nyaris mirip dengan kota-kota di Belanda, yakni dibangun dalam bentuk blok. Masing-masing blok dipisahkan oleh kanal dan dilindungi oleh dinding sebagai benteng, dan parit.

Batavia versi Belanda itu selesai dibangun pada 1650. Batavia tua adalah tempat tinggal bangsa Eropa, sementara orang-orang keturunan China, Jawa, dan penduduk asli lainnya diusir serta disingkirkan ke tempat lainnya, hingga ke pinggiran Batavia.

Di masa kejayaannya, Batavia terkenal sebagai ‘Pertama dari Timur’ yang diduduki pertama kali oleh VOC. Seiring perkembangan, pemerintah Belanda lewat pengiriman Gubernur Jenderal, menduduki kota Batavia.

Nama kota kembali berganti menjadi Jakarta saat Jepang datang menjajah pada 1942. Jepang secara resmi menyebut Jakarta sebagai Djakarta atau Jakaruta Tokubetsu Shi. Sejak kemerdekaan sampai 1959, Djakarta (ejaan lama) masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Pada 1959, status kota berubah dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat I (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Presiden Soekarno saat itu mengangkat Soemarno Sosroatmodjo yang sekaligus menjadi Gubernur Jakarta pertama.

Perubahan status kembali terjadi pada 1961. Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu (Dati I), menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dengan Soemarno tetap menjabat sebagai gubernur. Saat ini, Jakarta memiliki luas sekira 661,52 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 10 juta jiwa berdasarkan sensus pada 2011.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini