nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Menyeramkan, Suku Fore Pemakan Otak Manusia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 22 Juni 2018 10:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 22 406 1912637 tradisi-menyeramkan-suku-fore-pemakan-otak-manusia-dWegXvOFx9.jpg Ilustrasi otak manusia (Foto: Ist)

KONSUMSI daging manusia adalah salah satu bentuk kekejaman serta kejahatan berat terhadap kemanusiaan. Indonesia pernah digegerkan oleh kasus Sumanto pada dekade 2000 yang memakan jenazah manusia demi mendapatkan kekuatan gaib.

Hingga puluhan tahun lalu, kanibalisme masih lestari di Papua Nugini. Adalah suku Fore yang tinggal di wilayah terpencil yang melakukan ritual tersebut. Melansir dari Washington Post, Jumat (22/6/2018), tradisi memakan daging manusia tersebut bahkan disebut sebagai bentuk penghormatan.

Mereka akan memakan jasad dari kerabat yang meninggal tepat di upacara pemakaman. Kaum laki-laki akan memakan daging dari jenazah yang sudah meninggal, sementara anak-anak dan wanita memakan bagian otak.

 Baca juga: 3 Merek Indonesia Masuk 10 Mi Instan Terlezat di Dunia


Bagi suku Fore kanibalisme adalah tradisi turun temurun dan bentuk penghormatan bagi yang sudah meninggal. Namun, bagi komunitas lain yang hidup di sekitar mereka, tradisi tersebut sangat menyeramkan serta memicu kekacauan karena adanya penyebaran penyakit endemi.

Sebagai informasi, ada semacam molekul mematikan yang hidup dalam otak manusia. Tentu molekul tersebut masuk ke dalam tubuh wanita dan anak-anak yang memakannya. Hal tersebut menyebabkan penyakit degeneratif mengerikan yang disebut ‘kuru’. Penyakit mematikan tersebut pada satu titik membunuh 2% populasi di Papua Nugini setiap tahunnya.

 

Praktik tersebut akhirnya dilarang secara hukum pada dekade 1950. Hasilnya, penyakit endemi mulai menurun. Pada faktanya tradisi memakan daging serta otak manusia tersebut punya dampak positif bagi suku Fore selama puluhan tahun. Tubuh mereka menumbuhkan resistensi genetik terhadap molekul yang menyebabkan penyakit otak mematikan, seperti sapi gila dan demensia.

“Ini adalah contoh evolusi Darwin terhadap manusia, epidemi penyakit prion memilih perubahan genetik tunggal yang memberikan perlindungan lengkap terhadap demensia yang selalu fatal,” ujar ahli dari Institute of Neurology di University College London, John Collinge, dinukil dari Reuters, edisi 11 Juni 2015.

Prion adalah unsur infeksi yang menyebabkan penyakit otak fatal seperti Creutzfeldt-Jakob disease (CJD) dan sapi gila pada hewan ternak. Collinge dan timnya masih meneliti untuk memahami efek secara molekul terhadap prion. Ia berharap dapat menemukan petunjuk tentang benih-benih lain yang berkembang di otak dan menyebabkan demensia.

 Baca juga: Perdana di Royal Ascot, Penampilan Sempurna Meghan Markle Kembali Langgar Aturan Kerajaan

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekira 47,5 juta orang yang menderita demensia. Diperkirakan pertumbuhan pasien demensia mencapai 7,7 juta kasus baru per tahun. Jumlah total penderita demensia diperkirakan menembus 75,6 juta orang pada 2030 dan hampir tiga kali lipatnya pada 2050, yakni 135,5 juta.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini