nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Muasal Sate Maranggi, Legenda Kuliner Purwakarta

Mulyana, Jurnalis · Senin 25 Juni 2018 07:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 25 298 1913525 asal-muasal-sate-maranggi-legenda-kuliner-purwakarta-KmXz7gkJKB.jpg

PURWAKARTA - Sate Maranggi, bagi sebagian besar masyarakat Jawa Barat mungkin sudah tak asing lagi di telinga. Ya, salah satu kuliner berbahan dasar daging sapi atau domba khas Kabupaten Purwakarta ini begitu banyak dijumpai di wilayah tersebut.

Keberadaan para penjualnya nyaris tersebar di seluruh kecamatan yang ada. Misalnya, di sepanjang Jalan Raya Bungursari, Plered serta Jalan Raya Purwakarta-Wanayasa.

Sebagai gambaran, Sate Maranggi merupakan makanan berupa potongan kecil daging sapi atau domba yang ditusuk dan diberi bumbu, kemudian dipanggang di atas bara api.

Saat dibakar, asapnya saja bakal memberikan bau merangsang bagi perut keroncongan. Apalagi, dipadukan dengan racikan bumbu rempah-rempah warisan leluhur, serta sambal dadakan yang semua itu bisa memberikan sensasi enak di lidah.

Bagi yang kebetulan singgah sejenak di Kabupaten Purwakarta, mungkin tak afdal rasanya jika tak mencicipi kuliner yang melegenda tersebut. Apalagi, di musim liburan.

Para penjual sate Maranggi, juga bisa dijumpai dihampir seluruh tempat wisata yang ada. Semisal, lokasi wisata alam Situ Wanayasa.

(Baca Juga: Suporter-Suporter Cantik yang Berhasil Mencuri Perhatian di Piala Dunia 2018)


Untuk rasa, dijamin tak akan membuat 'Nyesel' para penikmatnya. Selain itu, harganya pun tak akan membuat kantong menipis. Seperti Sate Maranggi Bungursari, pihak pengelola membandrolnya dengan harga Rp4.000 per tusuk.

Dalam hal penyajiannya, Sate Maranggi Cibungur menggunakan nasi timbel dan sambal tomat sebagai pelengkap. Sedangkan,Sate Maranggi Wanayasa dan Plered, menggunakan sambel oncom dan ketan bakar sebagai pengganti nasi.‎

Memang, selama ini para penjual yang ada di setiap kecamatan di wilayah ini memiliki cita rasa berbeda dalam hal penyajian Sate Maranggi. Namun demikian, bahan dasar berupa daging domba, rempah, serta gula aren selalu menjadi resep utama dalam pebuatan kuliner khas tersebut.

Ada sepenggal cerita tentang asal-mula penamaan Sate Maranggi khas Purwakarta. Konon, Sate Maranggi merupakan hasil kreasi para pekerja di sebuah peternakan domba di Kecamatan Plered.

Konon, kala itu para pekerja tersebut hanya bisa menikmati makanan berbahan dasar daging domba ini di waktu-waktu tertentu. Itupun, kadang merupakan daging sisa.

‎Menurut cerita warga sekitar, dari sanalah muncul ide dari para pekerja itu. Mereka berfikir, bagaimana caranya daging domba sisa ini bisa diolah menjadi makanan yang lezat. Akhirnya, mereka menemukan resep untuk mengolah daging sisa tersebut.

Daging sisa tersebut, kemudian mereka potong-potong kecil supaya bisa digunakan dan dimakan secara berkala tanpa membusuk. Potongan daging itu pun mereka rendam dalam racikan rempah-rempah dengan menambah sedikit gula aren. Walhasil, air rendaman itu bisa membuat daging tersebut awet dan memiliki citarasa.

(Baca Juga: 5 Pemain Sepakbola yang Punya Tampang dan Body Keren, Jangan Minder Ya Guys)

Penemuan racikan daging dari para pekerja ternak ini pun terdengar santer di masyarakat. Namun, sejak diciptakan, panganan dari desa itu tak memiliki nama baku, dan warga hanya menyebutnya Sate. Hingga pada akhirrnya, di Kecamatan Plered, terdapat warung Sate domba yang tersohor milik Mak Anggi.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan Sate Mak Anggi pun berubah hingga menjadi Sate Makanggi dan sampai saat ini lebih dikenal dengan nama beken Sate Maranggi.

Kiprah pedagang Sate Maranggi yang lahir di Kecamatan Plered pun terus menyebar ke berbagai daerah dengan resep yang semakin bervariasi. Bahkan bukan hanya di Purwakarta, sate ini pun mulai banyak variasinya hingga ke Cianjur, Sukabumi, dan Subang.‎

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini