nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jembatan Akar Berumur 102 Tahun Nan Memikat di Pesisir

Rus Akbar, Jurnalis · Selasa 26 Juni 2018 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 26 406 1914211 jembatan-akar-berumur-102-tahun-nan-memikat-di-pesisir-38hWnNZtKq.jpg Jembatan akar di Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Foto: Rus Akbar/Okezone)

JALINAN akar pohon jawi dan beringin membentuk sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan Puluik-Puluik dan satu lagi di daerah Lubuak Silau yang dipisahkan dengan batang bayang, di Nagari Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

“Pohon beringin itu ditanam di seberang di daerah Lubuak Silau dan beringin di Puluik-Puluik kemudian akarnya dijalin membentuk sebuah jembatan,” kata petugas, Riko Eka Putra (45) kepada Okezone, Senin 25 Juni 2018.

Riko Eka Putra merupakan salah satu kaum pemilik lokasi jembatan akar tersebut yang kemudian disewakan kepada pemerintah. Menurut kisahnya, jembatan akar itu sendiri dibuat oleh manusia selama 20 tahun lamanya barulah terbentuk sebuah jembatan.

 

“Sebelum jembatan ini dibuat, untuk menghubungkan daerah Lubuak Silau dengan Puluik-Puluik memakai jembatan bambu, jembatan itu digunakan untuk penyeberangan bagi petani dan anak-anak yang hendak mengaji, lokasi pengajian itu ada di daerah Lubuak Silau sementara anak-anak yang mengaji ada dari Puluik-Puluik,” tuturnya.

 (Baca Juga:Pasar Apung Banjarmasin Siap Pindah ke Jalanan Jakarta)

Lantaran jembatan bambu itu sering diterjang derasnya Sungai Bayang yang mengakibatkan rusak berat, akhirnya salah satu tokoh agama bernama Pakih Sokan memiliki ide.

“Pada tahun 1916 Pakih Sokan menanam dua batang jawi dan pohon beringin di dua lokasi satu di daerah Puluik-puluik dan satu lagi di daerah Lubuak Silau yang dipisahkan dengan batang bayang. Lalu akarnya yang bergantungan dijalin di batang bambu yang dijadikan jembatan sebagai tulang jembatan akar. Setelah tiga tahun lamanya akar dua pohon jawi-jawi tersebut bertaut namun belum bisa dilalui,” terangnya.

 

Kemudian Pakih Pokan mengadakan acara mandabiah kambing (potong kambing) dan mandarai aka (memberikan darah pada akar yang bertaut tersebut). “Ini sebagai tanda syukuran bahwa akar jawi-jawi yang dihubungkan sudah bertaut, sebagai tanda akan terjadi pertautan kembali,” kata Riko.

 (Baca Juga:Pengunjung Lawang Sewu Membeludak saat Lebaran, 11.000 Orang per Hari)

Untuk menjadikan sebuah jembatan yang bisa dilalui membutuhkan waktu selama 20 tahun maka jembatan tersebut bisa ditempuh warga Puluik-Puluik yang hendak ke Lubuak Silau. Sampai sekarang jembatan tersebut berukuran panjang 25 meter dan lebar 1 meter dengan ketinggian dari permukaan batang bayang sekira 10 meter dan saat ini umur jembatan (2018) sudah mencapi 102 tahun dan menjadi lokasi wisata. Agar jembatan akar tersebut tahan lama dan akarnya kuat, di sepanjang akar itu selalu diberi pohon pisang sampai busuk selama tiga bulan sekali.

 

“Waktu banjir bandang dulu kita kasih batang pisang sampai membusuk, ini tujuannya agar akar-akarnya tetap kuat, saat dikasih batang pisang itu jembatan ini ditutup selama satu bulan, tapi kalau normal jembatan itu akan diremajakan sekali setahun,” ujarnya.

 (Baca Juga:Terbangkan Pesawat di Rute Menantang, 2 Perempuan Pilot Pakistan Jadi Viral di Sosmed)


Kemudian jembatan itu juga diberi tulang besi seperti jembatan gantung, tujuannya adalah agar ketika pengunjung banyak, jembatan tidak putus. Untuk tiket masuk ke lokasi tersebut untuk orang dewasa akan dikenakan retribusi Rp5.000 dan anak-anak Rp2.500. Di lokasi wisata itu ada juga makanan yang dijual warga setempat.

“Saat Lebaran satu hari orang yang berkunjung ke lokasi ini mencapai 1.000 orang, sementara itu lokasi wisata tersebut juga selalu dibersihkan,” pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini