nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nila Moeloek Beberkan Penyebab Stunting di Luar Faktor Kesehatan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 03 Juli 2018 18:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 03 481 1917368 nila-moeloek-beberkan-penyebab-stunting-di-luar-faktor-kesehatan-V68dLEJBcD.jpeg Nila Moeloek (Foto: Ardi/Okezone)

BALITA stunting atau kerdil masih banyak ditemukan di Indonesia. Fakta menunjukan bahwa sekitar 9 juta bayi Indonesia mengalami stunting setiap tahunnya dan masalah ini pun tercatat urutan nomor 4 terbesar di dunia.

Fakta menyedihkan memang. Terlebih ketika tahu bahwa Indonesia sebetulnya negara yang kaya dengan banyaknya asupan bergizi di dalamnya. Meski begitu, upaya untuk meminimalisir masalah ini terus dilakukan.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menjelaskan bahwa masalah stunting bukan hanya masalah Kementerian Kesehatan. Masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak di dalamnya. Termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, BAPPENAS, Kementerian Perikanan, dan beberapa pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab bersama atas kesehatan masyarakat Indonesia.

 (Baca Juga:Harus Rajin Dicuci Ya, Lap Dapur Itu Sarang Bakteri dan Kuman Penyakit)

"Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi banyak juga pihak yang punya andil besar untuk menciptakan masyarakat yang sehat tanpa stunting," kata Nila di acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

 

Nila menjelaskan juga bahwa faktor kesehatan yang terkesan menjadi penanggung jawab tunggal ternyata hanya berdampak sekitar 20-30% dari masalah kerdil ini. Hal ini sejalan dengan Derajat Kesehatan dari H.L. Blum (1974) di mana di sana dijelaskan bahwa faktor pelayanan kesehatan hanya berpengaruh sekitar 20 % dari masalah stunting. Faktor lainnya yang juga memiliki andil besar dari masalah stunting ini adalah faktor perilaku (30%); faktor lingkungan, fisik, kimia, biologis, sosial, dan budaya (40%); serta termasuk di dalamnya faktor genetika (keturunan) (10%).

 (Baca Juga:Gak Mau Nyeri Sendi? Jangan Sering Makan Gorengan hingga Tomat)

Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa faktor lingkungan memiliki andil sangat besar. Di Indonesia sendiri, ini juga bisa berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Makanya, Nila berharap, semakin banyak wilayah di Indonesia yang sudah bisa menjangkau air bersih. Selain itu, masalah seperti pemberian ASI yang salah seperti di NTB juga menjadi faktor penambah jumlah balita stunting.

"Di NTB, pemberian ASI dilakukan hingga usia 2 tahun, tapi yang salah di sana, para orangtua tidak memberikan makanan pendamping saat anak usia di atas 6 bulan. Ya, kalau begitu, kemungkinan stunting sangat mungkin terjadi," tegasnya.

 (Baca Juga:Untuk Diet Mana Lebih Sehat, Makan Sayuran atau Buah?)

Sementara itu, Nila juga menyarankan agar remaja masa kini mau lebih aware dengan gizi tubuhnya. Perbaikan gizi sudah harus dilakukan sejak usia remaja. Jadi, bukan hanya saat perempuan hamil akhirnya mau mengatur asupan gizi. Tapi, sudah sejak masa pertumbuhan, nilai gizi sudah mulai dipeehatikan.

"Bukan maunya kurus doang seperti tubuh para pragawati. Bahkan, kalau hamil penginnya nggak keliatan pembesaran perutnya. Masa remaja menjadi salah satu penentu bagaimana generasi penerus nantinya bisa terbentuk. Kalau orangtuanya saja sudan stunting, maka nanti anaknya pun akan stunting dan terus akan begitu," tambahnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini