Kanker Payudara Renggut Kemampuan Cicipi Rasa Makanan, Chef Ini Tetap Torehkan Prestasi

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 04 Juli 2018 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 04 298 1917736 kanker-payudara-renggut-kemampuan-cicipi-rasa-makanan-chef-ini-tetap-torehkan-prestasi-q9j5oXrdLs.jpg Naomi Lowry (Foto: News.com)

KEMAMPUAN setiap juru masak atau chef dalam menciptakan makanan berbeda-beda. Ada yang mahir dalam pengolahan bahan masakan, ada pula yang mahir dalam plating atau penataan makanan. Akan tetapi, ada satu kemampuan yang tidak boleh terlewatkan yaitu kemampuan untuk mencicipi cita rasa makanan.

Kemampuan tersebut dibutuhkan oleh seorang chef untuk menentukan makanannya layak atau tidak untuk disajikan dan disantap oleh orang lain. Akan tetapi, ada seorang chef yang tidak memiliki kemampuan mencicipi rasa makanan. Walau begitu dirinya tetap berhasil menciptakan makanan yang lezat.

Chef tersebut bernama Naomi Lowry. Dirinya pernah bekerja sebagai chef di sejumlah restoran ternama. Bahkan ia pun berhasil membuka restorannya sendiri yaitu Culina et Vinum di Elizabeth Bay, Australia pada akhir tahun lalu. Namun sayang, tiga bulan setelah pembukaan restoran, Naomi divonis terkena kanker payudara.

Perempuan berusia 38 tahun itu pun harus menjalani serangkaian pengobatan untuk penyakitnya termasuk kemoterapi. Pengobatan yang satu ini memang memiliki sejumlah efek samping. Pada Naomi, dokter telah memperingatkan bila efek samping pada dirinya bisa membuatnya kehilangan kemampuan untuk mencicipi makanan.

Chef

Naomi telah siap dengan kemungkinan tersebut. Bahkan ketika suatu hari ia berjalan ke dapur dan tidak dapat merasakan apa pun dari makanan yang dibuatnya, dia hancur tetapi tidak panik. “Saya sangat, sangat senang telah membaca buku Grant Achatz, Life, on the Line. Dirinya terserang kanker lidah yang membuatnya tidak bisa merasakan makanan. Jadi ketika itu terjadi pada saya, saya belajar darinya,” kata Naomi seperti yang dikutip dari News, Rabu (4/7/2018).

"Kondisi itu memang mengerikan. Pada saat mengalaminya, saya benar-benar melakukan apa yang dia lakukan yaitu pergi dari hidangan yang satu ke hidangan lainnya. Dari yang manis, asam, hingga asin hanya untuk melihat apakah saya bisa merasakan sesuatu,” tutur Naomi lebih lanjut. Kendati demikian tidak bekerja bukanlah pilihan.

Chef

Naomi tetap bekerja sebagai seorang chef namun melakukan sedikit perubahan. Dari yang seharusnya bekerja selama 90 jam seminggu, dia memotongnya menjadi 45 jam. Selain itu, untuk mencicipi rasa makanannya, ia meminta bantuan stafnya untuk menilainya.

 "Ini adalah cintaku, ini adalah hidupku, bukan hanya sekadar pekerjaan bagiku. Saya sudah melakukannya secara profesional selama 20 tahun dan banyak bergantung pada ingatan untuk rasanya. Saya dapat memiliki ide tetapi ketika datang untuk menyelesaikan makanan, itu lebih sulit," ujar Naomi.

Dirinya berhasil membuktikan bahwa keterbatasannya mencicipi makanan bukanlah halangan. Pada Juni lalu ia mengikuti kompetisi Foodservice Chef of the Year dan berhasil berada di posisi keempat dari 200 orang peserta. "Hal ini menunjukkan satu hari saya bisa berada di kemoterapi dan hari berikutnya dapat menjadi runner up di kompetisi. Chef tidak lemah, bahkan jika itu karena kanker. Kita adalah golongan yang cukup tangguh," pungkas Naomi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini