Didiet Maulana Ungkap Pengalaman Merancang Seragam Kantoran

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 09 Juli 2018 22:32 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 09 194 1920069 didiet-maulana-ungkap-pengalaman-merancang-seragam-kantoran-w1I0yYebvI.jpg Koleksi rancangan Didiet Maulana (Foto: Pradita/Okezone)

SESEORANG yang berkecimpung bekerja di industri seni, salah satunya desainer mode mau tidak mau memang dituntut harus selalu kreatif dalam soal ide. Sebab memang, industri yang dijalani adalah industri seni kreatif.

Desainer mode yang profesional, akan selalu siap untuk merancang sesuatu walaupun harus dihadapkan pada sebuah situasi di mana ada pakem-pakem tertentu.

Inilah yang baru saja dihadapi oleh Didiet Maulana, yang mana diketahui baru saja meluncurkan karya rancangan terbarunya. Kali ini bukan busana ready to wear atau aksesori bersifat komersil yang dirancang oleh Didiet, tapi melainkan koleksi seragam kantor alias coorporate uniform untuk salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA).

Merancang busana ready to wear yang bersifat mass production dan komersil, dengan merancang busana seragam kantoran yang sifatnya lebih private, tentu adalah dua hal yang sangat berbeda. Lalu sebagai seorang desainer mode, sensasi atau perbedaan apakah yang dirasakan oleh desainer pemilik lini IKAT Indonesia ini?

"Merancang seragam kantoran ini banyak sekali yang harus dipertemukan. Misalnya gini, mendesain untuk IKAT ya apa yang saya mau, tapi merancang seragam kantor ini bagaimana caranya melalui sebuah desain saya sebagai seorang desainer bisa mengakomodir keinginan dari klien," papar Didiet saat ditemui Okezone, Senin (9/7/2018) dalam acara "Tenun Ikat, Indonesian Legacy Into the Spotlight" di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Seragam Kantor

Didiet melanjutkan, merancang seragam untuk karyawan kantoran ini tidak membuat dirinya merasa ada hambatan sebagai seorang desainer. Ia lebih melihat hal ini, menjadi sebuah seni kolaborasi.

"Bedanya sih paling proses mendesain saja. Biasanya lebih internal, kalau yang ini lebih ke bolak-balik diskusi sama klien. Saya lihatnya seni kolaborasi saja sih, medium untuk berkolaborasi antara saya sebagai desainer. Secara teknis, tantangannya ada di jumlah. Kuantitas makin banyak pas tenun ini masuk jadi seragam, jadi betul-betul melihat pengrajin mana yang bisa handle ini. Sama terakhir, persetujuan saja sih karena banyak pihak yang harus terlibat untuk approval ini," tandas Didiet.

Seragam kantor pria

Seragam kantor bertema tenun rancangan Didiet ini sendiri, diketahui memakan proses pengerjaan dengan memberdayakan lebih dari sekitar 500 pengrajin di Desa Troso, Jepara. Di mana total panjang kain tenun yang dibuat mencapai 45.000 meter, untuk diberikan kepada sekitar kurang lebih 27 ribu karyawan di seluruh Indonesia di mana setiap karyawan mendapatkan sekitar tiga potong.

Sedangkan untuk motif, motif yang digunakan adalah kombinasi dari motif cengkeh dan motif mirroring yang dihadirkan dengan warna biru. Pewarnaan warna biru ini sendiri, seperti disinggung Didiet dihasikan dengan proses yang tidak mudah karena dibuat dengan tangan dan teknik pencelupan natural.

"Warna biru ini enggak mudah, karena pembuatan tangan prosesnya pencelupan natural, dipakai ramuan alias formula khususnya. Jadi semua seragam warnanya enggak beda-beda satu sama lain," tandas Didiet.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini