nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini yang Dilakukan BPOM untuk Cegah Salah Persepsi Iklan Produk Pangan di Masyarakat

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 09 Juli 2018 16:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 09 481 1919943 ini-yang-dilakukan-bpom-untuk-cegah-salah-persepsi-iklan-produk-pangan-di-masyarakat-KyGOK49Ka4.jpg Ilustrasi produk pangan (Foto: Pinterest)

INFORMASI terkait produk makanan bisa didapatkan masyarakat melalui iklan atau label yang tertera. Tapi terkadang, masyarakat menerima persepsi yang salah. Salah satu contohnya terkait dengan produk susu kental manis (SKM).

Akhir-akhir ini topik tersebut memang tengah ramai diperbincangkan. Setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) mengeluarkan surat edaran terkait label dan iklan pada produk SKM, banyak pihak yang mempertanyakan keamanan produk tersebut. Seperti yang diketahui, tak sedikit masyarakat Indonesia yang memberikan SKM untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada anak-anak.

 (Baca Juga: 5 Model Cantik Terkaya di Dunia)

Padahal, SKM bukan bagian dari susu yang mengandung nutrisi untuk memenuhi kebutuhan pada anak. SKM hanya bisa digunakan sebagai pelengkap pada hidangan tertentu guna menambahkan rasa. Pemahaman yang salah ini terjadi salah satunya karena iklan dan label produk yang beredar di masyarakat.

Selama ini, ada iklan yang memvisualisasikan seakan SKM merupakan sumber nutrisi bagi anak-anak. Hal ini terlihat dari adanya anak kecil pada iklan. Menurut Kepala Badan POM Penny Lukito, iklan ini sudah melanggar ketentuan yang dibuat.

 

"Tidak boleh ada anak kecil di bawah 5 tahun pada iklan SKM. Sebab SKM merupakan pelengkap sajian. Jangan sampai ada anak kecil terutama bayi diberikan karena tidak baik untuk perkembangan karena SKM mengandung gula yang tinggi," ungkapnya saat ditemui dalam konferensi media, Senin (9/7/2018) di kawasan Jakarta Pusat.

Melihat hal ini, Badan POM menilai bila diperlukan kesepakatan baru untuk para pelaku usaha karena ada iklan yang tidak sesuai dan membuat persepsi berbeda di masyarakat. "Ke depan tidak ada lagi iklan yang salah memberikan persepsi kepada masyarakat," imbuh Penny. Untuk merealisasikannya, saat ini tengah dibentuk Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Iklan dan Label Pangan.

RPP ini dimaksudkan agar ada kesepakatan dan kepastian yang dikaitkan dengan aturan-aturan secara lebih mendetail. Namun hingga saat ini prosesnya belum selesai. "Prosesnya panjang sudah kurang lebih 5 tahun, sekarang sudah diujung. Mudah-mudahan kementerian terkait segera memparaf karena sudah ada harmonisasi," ujar Penny.

Lebih lanjut Penny menjelaskan bila ke depannya akan dibuat peraturan yang lebih user friendly sehingga bermanfaat bagi banyak pihak termasuk masyarakat. "Ke depan akan ada peraturan agar mudah dilihat sehingga masyarakat juga bisa diberikan informasi, teredukasi, dan membaca dengan mudah," ucapnya.

 (Baca Juga: Ketika Netizen Berfoto ala Model, Keren Enggak Ancur Iya)

Salah satu yang disarankan adalah pemberian label pada produk makanan mengenai kandungan garam, gula, dan lemak. "Tiga hal itu 'kan yang bermasalah bagi kesehatan. Mungkin nanti dibuat warna semacam traffic light pada label. Warna merah menunjukkan kandungannya tinggi, warna kuning peringatan, dan warna hijau aman untuk dikonsumsi," pungkas Penny.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini