Merancang Seragam Kantor, Didiet Maulana Pilih Kain Tenun Troso

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 10:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 10 194 1920261 merancang-seragam-kantor-didiet-maulana-pilih-kain-tenun-troso-cIhJ6HNnAC.JPG Kain tenun troso (Foto: Pradita/Okezone)

INDONESIA dengan wilayah geografisnya yang sangat luas, terdiri dari banyak pulau-pulau yang akhirnya menjadikan Indonesia mempunyai banyak sekali kebudayaan.

Salah satu warisan kekayaan kebudayaan asli Indonesia yang paling bisa dilihat nyata, juga sekaligus terkenal adalah keindahan wastra Nusantara, termasuk di dalamnya kain tenun Indonesia.

Di dunia industri fesyen Tanah Air, salah satu sosok pelaku penggiat kain tenun ini adalah Didiet Maulana. Kiprahnya sebagai salah satu desainer muda yang mendalami kain tenun sebagai fokus utamanya, tidak perlu diragukan lagi.

Desainer mode berkacamata satu ini, diketahui baru saja terpilih sebagai desainer yang merancang koleksi seragam dari salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Dipercaya mengemban tugas untuk merancang seragam karyawan kantoran ini, ternyata Didiet menjatuhkan pilihannya kepada kain tenun Troso, Jepara dari sekian banyak kain tenun khas Indonesia. Nah, lalu mengapa seorang Didiet memilih kain tenun Troso ini jadi material bahan utama? Apa kelebihan yang dipunyai oleh kain tenun dari Troso?

“Kenapa pilih tenun Troso ini, pertama kali kita riset nah kain tenun Troso dari Desa Troso di Jepara ini bisa dikatakan jadi contoh ideal dari satu daerah. Satu daerah yang semaunya menenun dan meresap dari seluruh penjuru Troso, untuk kerja sebagai penenun, jumlahnya sekitar ribuan lah. Jadi, dilihat dari sepi industri, desa Troso ini menjadi salah satu area yang sudah siap meng-handle projek besar. Area yang lain sedang ada di tahap pengembangan, kita picu dengan permintaan yang ada,” papar Didiet saat dijumpai Okezone, Senin 9 Juli 2018 di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Kain Torso

Seragam kantoran dengan material bahan kain tenun Troso, Jepara ini sendiri diketahui lebih lanjut memakan proses pengerjaan kurang lebih selama dua tahun lamanya, dengan memberdayakan lebih dari sekitar 500 pengrajin di Desa Troso, Jepara. Di mana total panjang kain tenun yang dibuat mencapai 45.000 meter, untuk diberikan kepada sekitar kurang lebih 27 ribu karyawan di seluruh Indonesia di mana setiap karyawan mendapatkan sekitar tiga potong.

“Prosesnya kurang lebih selama dua tahun total, awalnya dari mulai research, desain, dan menghasilkan tenunnya itu sendiri. Research ini jadi titik yang harus dipenuhi sebelum melangkah ke proses selanjutnya,” tutup pria berkacamata ini.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini