Kejuaraan Dunia Menggendong Istri di Finlandia, Mau Coba?

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 06:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 11 196 1920698 kejuaraan-dunia-menggendong-istri-di-finlandia-mau-coba-mO4fLT3C45.jpg Perlombaan Menggendong Istri (Foto: Reuters)

SEBANYAK 53 orang pria saling berjibaku untuk menggendong istri-istrinya di atas bahu dan berlari menuju garis finis di Kota Sonkajarvi, Finlandia, pada Sabtu 7 Juli. Aksi itu dilakukan guna mengikuti Kejuaraan Dunia Menggendong Istri yang sudah memasuki tahun penyelenggaraan ke-23.

Mungkin bagi Anda terdengar aneh. Namun, kompetisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan para peserta harus melalui babak kualifikasi seperti halnya Piala Dunia sepakbola. Sebanyak 53 pasangan dari 13 negara harus saling bersaing untuk menjadi pemenang.

Ide lomba unik ini terinspirasi dari legenda Ronkainen Si Pencuri pada abad ke-19. Ia sengaja menguji anak buahnya dengan cara memaksa mereka membawa kantong-kantong semen berisi gandum atau seekor babi agar mampu berlari dengan cepat.

Perlombaan Gendong Istri di Finlandia

Pasangan suami istri (pasutri) asal Lithuania, Vytautas Kirklauskas dan Neringa Kirkliauskiene berhasil keluar sebagai pemenang. Sang suami berhasil menggendong istrinye melewati kolam yang licin dan melalui sejumlah rintangan. Keduanya berhasil menyisihkan juara dunia enam kali, Taisto Miettinen.

“Dia istriku. Dia adalah perempuan terbaik,” ucap Kirkliauskas usai memenangi pertandingan, dinukil dari Reuters, Rabu (11/7/2018). Pasangan pemenang itu ternyata sudah pernah mengikuti Kejuaraan Dunia Menggendong Istri sejak 2005.

Finlandia, negara yang berada di lingkar Arktik, itu memang punya banyak olahraga-olahraga aneh. Kejuaraan Dunia Melempar Sepatu, Bermain Gitar di Udara, dan Kompetisi Melempar Ponsel, adalah beberapa jenis olahraga yang unik dan tak biasa di Finlandia.

Salah satu ciri khas negara tersebut adalah hari yang lebih panjang dibandingkan negara-negara lain. Letaknya di sebelah utara bumi membuat matahari bersinar selama 20 jam di musim panas dan malam yang lebih panjang di musim dingin.

“Saya pikir karena kita hanya punya tiga bulan yang disinari penuh oleh cahaya matahari, maka kami butuh melakukan hal-hal menyenangkan selama musim panas. Kami juga ingin menunjukkan kepada banyak orang kalau kami juga punya selera humor yang bagus,” tukas salah satu sukarelawan, Sanna-Mari Nuutinen.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini