nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bukan Hitam, Warna Paling Tua di Bumi Ternyata Warna Pink!

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 10:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 11 406 1920742 bukan-hitam-warna-paling-tua-di-bumi-ternyata-warna-pink-px1dUSLBcb.jpg Pink warna paling tua di bumi (Foto:Livesience)

SEJAK kecil tepatnya ketika sudah bisa berbicara terbata perlahan dan mulai mempelajari lingkungan, hingga ciri benda-benda yang ada di sekitar, orangtua mengajarkan anak-anak tentang warna. Ada beberapa warna yang diajarkan pada awal mula pertumbuhan anak, seperti merah, biru, hijau, kuning, putih, dan hitam, tanpa memberitahu warna apa yang usianya lebih tua.

Oleh karena tidak diberitahu orangtua, akhirnya sampai sebesar dan setua ini pun sebagian besar dari kita tidak tahu, sebenarnya warna apa yang paling tua di antara warna lainnya yang kita kenal? Untuk menjawab pertanyaan ini, sekelompok peneliti berhasil menemukan jawabannya, yaitu merah muda cerah alias pink, melansir dari laman Live Science, Rabu (11/7/2018).

BACA JUGA:

Cantiknya 5 WAGs Pesepakbola Muslim Prancis

Para peneliti mengekstrak pigmen dari fosil bakteri yang diawetkan di bebatuan di bawah Gurun Sahara di Mauritania, Afrika Barat. Di dalam bakteri yang amat kecil itu, para ilmuwan menemukan klorofil, pigmen yang digunakan saat ini oleh tumbuhan untuk fotosintesis yang berasal dari 1,1 miliar tahun lalu. Itu sekitar 600 juta tahun lebih tua dari fosil klorofil serupa yang ditemukan sebelumnya, para ilmuwan melaporkan dalam studi baru.

Temuan mereka mengisyaratkan bahwa cyanobacteria, bakteri yang bertahan hidup di bawah sinar matahari, muncul jauh lebih awal daripada alga, yang telah dilacak sekitar 650 juta tahun yang lalu. Selain itu, bakteri kemungkinan mendominasi lautan purba di bumi selama ratusan juta tahun, menurut penelitian tersebut.

Klorofil inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan, meskipun fosil klorofil dalam sampel cyanobacteria berwarna merah gelap dan ungu tua dalam bentuk konsentrasinya menurut para ilmuwan.

"Ketika mereka menghancurkan fosil-fosil untuk menganalisis molekul-molekul bakteri, para peneliti menyaring warna-warna untuk menemukan warna merah muda yang cemerlang. Sisa warna-warni ini menunjukkan bahwa organisme pemakan sinar matahari memberikan warna merah muda ke laut yang telah lama hilang," ucap penulis studi utama Nur Gueneli, dari Sekolah Penelitian Ilmu Bumi di Australian National University (ANU), mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Klorofil kuno ini hanya diawetkan di bawah keadaan yang luar biasa," tulis rekan penulis studi Jochen Brocks, seorang profesor di ANU Research School of Earth Sciences kepada Live Science melalui email.

Pertama, bahan organik mati mekar cyanobacteria, lalu cepat tenggelam ke dasar laut. Sesampai di sana, harus diisolasi dari setiap paparan oksigen, yang memercik kerusakan dan kemudian batu yang menyimpan material harus tetap utuh selama satu miliar tahun, kata Brocks.

BACA JUGA:

5 Pasukan Timnas Prancis yang Merupakan Seorang Muslim

Lantas, reaksinya melihat warna yang dihasilkan oleh organisme yang hidup lebih dari satu miliar tahun yang lalu? Pastinya mengagumkan! kata Brocks. Bahkan ganggang, salah satu bentuk kehidupan paling kuno, tidak ada atau langka pada saat bakteri penelan klorofil ini, tulis para peneliti dalam penelitian.

Lanjut, menurut Brocks, beberapa ratus juta tahun sampai ganggang akan mulai berkembang biak, akhirnya membentuk dasar jaring makanan yang pada akhirnya akan mendorong evolusi hewan yang lebih besar. Tapi sampai munculnya alga, dan organisme yang lebih kompleks, bumi itu milik bakteri.

"Ini benar-benar dunia yang asing," tutup Brocks.

Penemuan terbaru tentang warna paling tua di dunia adalah merah muda cerah, yang ternyata sudah berusia 1,1 milyar tahun tersebut, dipublikasikan secara online pada 9 Juli di jurnal Proceeding of National Academy of Sciences.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini