Gaya Hidup Seperti Ini Picu Kolesterol Tinggi

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 10:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 11 481 1920735 gaya-hidup-seperti-ini-picu-kolesterol-tinggi-C4VwdtXrxC.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SERANGAN jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Biasanya risiko serangan jantung meningkat pada pria di atas usia 40 tahun dan wanita setelah menopause. Akan tetapi, survei pada 2014 dan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan sekira 22% orang yang mengalami serangan jantung berusia 15-35 tahun.

Hasil itu menunjukkan bahwa angka serangan jantung di usia muda mengalami peningkatan. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi intervensi, dr Johan Winata, Sp. JP (K) FIHA mengungkapkan bila ada 3 faktor risiko utama seseorang terkena serangan jantung yaitu riwayat keluarga, diabetes, dan kebiasaan merokok. Ketiganya dapat meningkatkan peluang serangan jantung karena mempercepat perlemakan darah yang menyumbat pembuluh darah.

"Ada 2 faktor lain yaitu hipertensi dan kolesterol, keduanya ini saling berhubungan. Sama satu lagi, gaya hidup juga berpengaruh. Sekarang ini banyak orang yang gaya hidupnya sedentari," papar dr Johan saat ditemui dalam sebuah acara di kawasan Senayan, Jakarta Pusat kemarin, Selasa, 10 Juli 2018.

 (Baca Juga:Tak Terduga, Menopause Bisa Picu Penyakit Berbahaya Ini)


Dijelaskan olehnya gaya hidup sedentari adalah ketika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu di meja kerja dan kurang aktivitas fisik.

"Mau ambil minum saja kadang minta bantuan orang lain. Tubuh jadinya kurang bergerak. Ditambah lagi pola makan yang buruk dapat memicu kolesterol tinggi," imbuh dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah itu.

Kadar kolesterol tinggi terutama bila angka LDL di atas 180 dapat berdampak pada aritmia atau gangguan irama detak jantung sehingga menjadi sangat cepat. Aritmia juga merupakan penyebab nomor satu terjadinya serangan jantung. Maka dari itu, penting untuk mengontrol irama detak jantung dengan cara berolahraga.

 (Baca Juga:Hati-Hati, Pasien Diabetes Bisa Alami Serangan Jantung Secara Tidak Sadar)


"Minimal itu 1000 kalori per minggu yang dibakar saat olahraga. Pilihan olahraganya juga kalau bisa yang mencapai target irama detak jantung," ucap dr Johan.

Selain itu saat olahraga juga jangan terlalu lama beristirahat karena akan membuatnya sia-sia. "Kalau berhenti irama detak jantungnya turun lagi. Jadi yang harusnya kalori terbakar jadi tidak terbakar," tambahnya.

Olahraga juga bisa membantu menurunkan tingkat stres. Seperti yang diketahui, stres dapat memicu tekanan darah tinggi yang pada akhirnya menyebabkan serangan jantung. Selain berolahraga, perlu juga konsumsi makanan yang baik seperti yang mengandung omega-3 dan omega-6 untuk menurunkan angka kolesterol jahat (LDL) di tubuh.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini