nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Inggrid Worung, Sosok Inspiratif dari Seorang Gadis Petani Jamur

Subhan Sabu, Jurnalis · Kamis 12 Juli 2018 13:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 12 196 1921343 inggrid-worung-sosok-inspiratif-dari-seorang-gadis-petani-jamur-Rm2zNUIlrC.jpg Inggrid Worung petani jamur (Foto:Subhansabu/Okezone)

 

BERAWAL pada 2014 silam, saat berkunjung ke rumah saudaranya di Surabaya, Inggrid Worung (29) diberikan hidangan jamur tiram crispy. Sekali mencicipi Inggrid langsung jatuh hati, sehingga begitu pulang ke Manado Inggrid langsung berusaha mencari jamur tiram, sayangnya karena tidak ada yang membudidayakan membuat pencarian Inggrid sia-sia.

Hal itulah yang mendorong Ing, sapaan akrabnya untuk mencari tahu dan belajar bagaimana cara membudidayakan jamur tiram. Mulailah Ing mencari informasi dari internet, membaca buku bahkan sampai belajar ke Jawa, berkunjung ke petani jamur rumahan sampai yang skala besar.

"Puji Tuhan mereka tidak pelit ilmu, setiap tempat yang dikunjungi mereka mau berbagi, mulai dari pembuatan media, bibit, sampai pembuatan bangunannya mereka mau berbagi ilmunya," ujar Ing.

Usai berguru, gadis cantik kelahiran 15 Desember ini mulai bertani jamur. Awal mulanya Ing masih membeli media tanam tempat menaruh bibit jamur tiram atau baglog dari Jawa untuk melihat apakah dengan suhu, temperatur dan kelembaban udara di Manado cocok atau tidak.

(Baca Juga: 8 Foto Ini Buktikan WAGs Kroasia Asli Cantik dan Seksi)

 

(Baca Juga: Pria Wajib Tahu, Ini Posisi Seks yang Paling Diinginkan Wanita)

"Ternyata jamurnya tumbuh, berarti cocok," ujar Gadis manis berdarah Manado-Portugis ini.

Dengan peralatan seadanya, dimulai dengan satu Kumbung atau rumah jamur dan 5 rak baglog, mulailah Ing bertani jamur tiram, dari mencampur bahan sampai mencampur baglog dilakukan secara manual. Jerih payah Ing akhirnya membuahkan hasil, dengan makin meningkatnya permintaan jamur dari masyarakat Manado. Ing-pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya dan mulai fokus bertani jamur bersama dengan keluarganya.

 

"Sekitar tahun 2016 mulai membeli mesin campur supaya efisien dan lebih cepat dan menambah bangunan kumbung karena permintaan jamur kian meningkat," tambah Ing

Dari awalnya hanya satu kumbung dengan lima rak, kini usaha budidaya jamur tiram Ing yang dinamakan Tiramoa kian berkembang, Ing sudah memiliki dua ruangan fruiting, satu ruangan inkubasi, satu ruangan sterilisasi serta dua kumbung dengan rak yang mempunyai daya tampung 10.000 baglog. Setiap hari Ing bisa panen jamur tiram sekitar 10 sampai 15 kilogram perharinya. Satu baglog bisa di panen tiga sampai lima kali.

Proses pembuatan baglog sendiri menurut Ing tidaklah sulit. Bahan pokok untuk membuat baglog yaitu serbuk kayu, Sekam Padi dan Air. Serbuk kayu yang sudah diayak dicampur dengan sekam padi dan air digiling bersama dalam mesin penggiling kemudian dimasukkan dalam plastik dengan berat sekitar 1,5 Kilogram. Kemudian baglog yang sudah jadi dimasukkan dalam drum dan dikukus sekitar 4 sampai 5 jam.

"Fungsi dari kukus itu untuk mensterilkan bakteri-bakteri yang ada, karena biasanya serbuk kayu itu ada kotoran atau serangga-serangga kecil, jadi itu kita kukus supaya supaya bakteri-bakteri atau serangga itu mati," lanjut Ing

Usai dikukus, baglog dipindahkan keruangan sterilisasi, didinginkan selama semalam kemudian diinokulasi atau proses penanaman bibit jamur.

 

Untuk bibit jamur tiram sendiri, Ing membuatnya sendiri. Bibit jamur biakan murni atau F0 diambil dari bagian dalam indukan dari jamur yang besar yang diletakkan dalam media botol dan didiamkan selama dua minggu dalam ruangan steril. Setelah dua minggu masa inkubasi, F0 dicampur ke dalam bibit induk jamur tiram atau F1 yang sudah disterilkan dengan cara dikukus selama 4 sampai 5 jam dan diinkubasi selama dua minggu.

Pembuatan bibit induk jamur tiram atau F1sendiri tidak sulit, bibit induk media serbuk bahannya sama dengan pembuatan baglog hanya saja dibuat sedikit lebih kecil sedangkan bibit induk media biji-bijian seperti jagung dan gabah. Untuk bibit induk media biji-bijian, Inggrid menggunakan biji jagung.

Perlahan-lahan Bella Farm, begitu Ing menamakan tempat budidaya jamur tiramnya mulai dikenal. Jarum tiramnya sendiri dijual diberbagai supermarket yang ada di Kota Manado dengan harga Rp. 15.000 per 200 gram. Selain itu juga jamur tiram diolah menjadi kerupuk jamur, jamur crispy, bakso jamur, sate jamur dan pepes.

"Ada juga beberapa restaurant dan kafe yang menyediakan cemilan jamur datang langsung membeli di sini, bahkan dari Gorontali dan Palu juga memesan jamur dari sini," lanjutnya.

(Baca juga: 5 Lokasi di Dunia Ini Tak Punya Gravitasi, Melayang-layang seperti Berada di Luar Angkasa)

Meski usahanya kian berkembang dan memberikan dia penghasilan yang tidak sedikit dalam sebulan, namun Ing tetap merendah, Ing juga berkeinginan memberdayakan masyarakat di tanah kelahirannya, Desa Mokupa, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa agar menjadi petani jamur dengan sistem plasma

"Nanti saya suplai media jamur yang siap tumbuh ke mereka. Hasil panennya kemudian saya beli," pungkas Ing.

Ing merupakan sosok inspiratif bagi anak muda, baginya wanita itu harus mandiri dan harus berani berbuat sesuatu yang beda yang berguna untuk diri sendiri dan banyak orang. Sosok yang patut diteladani.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini