4 Masalah yang Muncul Meski Sudah Lepas dari Kekerasan dalam Hubungan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 13 Juli 2018 10:25 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 13 196 1921804 4-masalah-yang-muncul-meski-sudah-lepas-dari-kekerasan-dalam-hubungan-AvXmYeKrxI.jpg Ilustrasi bertengkar (Foto: Shutterstock)

KITA tidak bisa menutup mata, masih banyak perempuan yang memilih bungkam dari kekerasan dalam hubungan. Alasan anak atau juga terlanjur cinta menjadi pemberat untuk kata "pisah".

Tapi, bagaimana pun kekerasan dalam hubungan tidak bisa ditoleransi sama sekali. Anda perlu sadar bahwa tindakan ini akan selalu terjadi, hanya menunggu waktunya. Jadi, bisa dikatakan pelaku sulit melepas kebiasaan buruknya tersebut.

Nah, efek dari kekerasan ini sangat serius. Jangan Anda pikir setelah pukulan pertama di wajah perempuan masalah selesai dan emosi Anda sekadar terlampiaskan. Dampak yang paling nyata adalah trauma.

Baca Juga :

Sayangnya, sampai saat ini masih belum banyak pihak yang berani angkat bicara ketika dia mendapat perlakuan tidak sopan bahkan sampai mendapat kekerasan secara fisik.

“Ketika seorang korban memutuskan mengakhiri hubungan karena alasan kekerasan, kita mesti menangai masalah-masalah yang muncul setelah itu juga. Sebab, korban tentu akan membawa masa kelamnya ke kehidupan dia yang baru. Butuh waktu lama pasti sampai akhirnya perempuan terbebas dari trauma dan itu juga alasan kenapa menjalni hubungan baru terasa sangat sulit," ungkap Noelle St. Vil, asisten profesor di School of Social Work di universitas di Buffalo, seperti dikutip dari Futurity, Jumat (13/7/2018).

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau dalam istilah asingnya Intimate Partner Violence (IPV) adalah masalah kesehatan yang sudah menyebar di berbagai lapisan masyarakat. Menurut St. Vil, masalah ini terjadi hampir pada satu dari tiga wanita di Amerika Serikat. Satu dari 10 perempuan "diperkosa" oleh pasangannya.

IPV adalah subtipe kekerasan dalam rumah tangga. Sementara kekerasan domestik dapat mencakup kekerasan yang terjadi di antara setiap individu yang tinggal di satu rumah tangga, IPV berada pada tingkat yang lebih serius. Kasus ini dapat dijelaskan bahwa salah satu pasangan ingin mendominasi dan ketika kekuasaan itu direbut, kekerasan yang akan terjadi. Kekerasan itu pun beragam, bisa dalam bentuk verbal, emosional, keuangan, dan yang paling parah adalah kekerasan fisik.

Melihat KDRT dari perspektif teori trauma pengkhianatan, sebuah konsep yang mengeksplorasi ketika individu atau institusi tepercaya mengkhianati mereka yang diharapkan untuk melindungi dan mendukung, studi baru ini mengeksplorasi bagaimana implikasi KDRT dan konsekuensi yang bertahan lama dalam hubungan harus diatasi.

“Kami sering menggunakan teori trauma pengkhianatan untuk menggambarkan anak-anak yang pernah mengalami pelecehan anak,” kata St. Vil. “Tapi pengkhianatan yang sama terjadi dengan KDRT: seorang pasangan yang Anda percayai, dapat menjadi rentan, yang seharusnya menyayangi Anda, pada kenyataannya melakukan pelecehan. Itu adalah pengkhianatan tentang apa yang seharusnya menjadi hubungan saling percaya," sambung St. Vil.

Dengan sebagian besar bantuan dan dukungan yang berpusat pada menjaga perempuan agar tetap aman dalam suatu hubungan atau memberi mereka sarana untuk keluar dari hubungan yang kejam, St. Vil mulai berpikir tentang dampak trauma ini.

Lebih lanjut, St. Vil telah mewawancarai sembilan wanita yang mewakili langkah awal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan mengungkapkan empat hambatan untuk membangun hubungan baru setelah mendapat tindakan kekerasan. Masalah itu antara lain:

Kerentanan atau ketakutan

Wanita yang pernah mengalami KDRT sering membangun dinding emosional sehingga dia ragu-ragu untuk memulai hubungan baru. Beberapa korban mengatakan bahwa mereka memasuki hubungan fisik, tetapi terhindar dari keterikatan emosional.

 

Harapan dalam hubungan

Beberapa wanita dalam penelitian ini membuka diri secara emosional, tetapi mereka dihantui kekhawatiran akan hubungan yang akan sama dari pria yang berbeda. Bahkan, trauma yang besar akan membuat pikiran terus membusuk!

Rasa malu atau rendah diri

Peserta dalam penelitian ini menyatakan betapa rendahnya harga diri mereka di dalam hubungan baru. Kondisi ini bisa terjadi karena pengalaman yang membuat mereka seperti itu. Bayang-bayang kekuasaan pasangan sebelumnya mengharuskan peserta akhirnya memilih menjadi "penurut" daripada harus mendapat kekerasan lagi.

Ketika hal-hal yang diinginkan tidak berjalan dengan baik dalam hubungan baru, korban dapat kembali ke perasaan yang dialami selama KDRT, dia bakal bertanya, "Mengapa ada orang yang mencintaiku?"

 BACA JUGA: Tidak Mudah, Begini Tahapan Menjadi Vegetarian

Komunikasi

St Vil mengatakan komunikasi adalah masalah besar dalam hubungan baru karena para korban berjuang untuk memahami dan menjelaskan kepada orang baru apa yang mereka alami selama KDRT dan dampaknya pada perilaku mereka saat ini. Perempuan yang tidak dapat mengkomunikasikan pengalaman mereka merasa terputus dari hubungan baru mereka.

Sementara itu, St Vil mengatakan wawancara ini sangat berarti baginya. Khususnya untuk menangkap aspek kritis dari pengalaman para penyintas KDRT.

"Ini adalah titik awal," kata St Vil. “Kami mencoba memahami kedalaman masalah dan dapat menggunakan data dari penelitian ini untuk studi yang berpotensi lebih besar," paparnya.

Untuk saat ini, St. Vil tegas. “Efeknya tidak berakhir begitu saja untuk seorang wanita keluar dari hubungan. Kita perlu memahami itu dan tahu ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini